Trap


Lanjutan dari Motive
Biar ga bingung ini link cerita-cerita sebelumnya..

  1. Suicide ?
  2. The Investigation – Part 1
  3. The Investigation – Part 2
  4. The Investigation – Part 3
  5. The Investigation – Part 4
  6. The Final Day of Investigation – Part 1
  7. The Final Day of Investigation – Part 2
  8. The Unexpected Guest
  9. Motive

Dibaca berurutan ya, biar ga bingung.. Hehe

***

Polsek Jatinangor, Selasa 15.43

Setelah diskusinya dengan Alfa dan Dika di warteg membuahkan hasil, Yusuf kembali ke markas dan kini tengah terduduk di ruang kerjanya. Yusuf membuka notebook kecilnya, mencari sebuah nomor telepon yang ia catat dua hari yang lalu. Setelah menemukan catatannya yang berada tepat di tengah-tengah halaman notebook ia memanggilnya via telepon kantor. Tak sampai satu menit, panggilannya terjawab. Continue reading

Advertisements

The Investigation – Part 4


Akhirnya, setelah ngebut semaleman jadi juga lanjutan kasus kali ini >.<

Lanjutan kali ini cukup panjang dan cocok untuk dibagi menjadi dua bagian
Namun saya berjanji bahwa bagian investigasi tinggal dua bagian lagi,
jadi lanjutan yang ini saya jadikan satu meningat masih ada satu tahap investigasi lagi..

semoga menghibur dan selamat membaca ^^

Sebelumnya..

Yusuf memperhatikan langit-langit di kamar Aldi. Tak sampai dua jam yang lalu, pada salah satu palang kayu yang melintang itu terikat seutas tali yang ujung lainnya melingkari leher Aldi yang malang. Sekarang, walaupun jenazah Aldi beserta tali yang menggantungnya telah dilepaskan, Yusuf masih bisa menggambarkan pemandangan yang menyedihkan itu.

Dari langit-langit sorot mata Yusuf berpindah ke dinding kamar sebelah kiri, di mana dua buah styrofoam—satu berwarna biru muda, satu laginya hijau toska—menempel secara  berdampingan. Terdapat beberapa lembar foto yang tersebar di beberapa area, sekumpulan post-it-note, logo universitas, dua baris kata-kata mutiara, dan selembar jadwal kegiatan yang ditempel dengan paku styrofoam sama seperti yang lainnya. Berbagai tempelan ini, ditambah hiasan-hiasan kecil lainnya, membuat kedua buah styrofoam tampak seperti menyajikan sebuah lukisan mozaik yang unik dan memiliki arti tersembunyi.

Seolah mencari arti tersembunyi dari mozaik unik itu, bola mata Yusuf bergerak cepat menyisir bagian atas, bawah, kiri, dan kanan mozaik. Perhatiannya meloncat-loncat dari satu post-it-note ke post-it-note lainnya dengan harapan agar salah satu catatan itu mengandung sebuah petunjuk untuk membongkar motif bunuh diri Aldi. Satu hal yang ia simpulkan setelah menyisir setiap catatan yang tertempel. Catatan-catatan itu sudah kadaluwarsa. Semuanya berkaitan dengan skripsi, persiapan sidang, dan wawancara perusahaan; kegiatan yang semuanya telah selesai dilakoni oleh Aldi satu bulan yang lalu. Tidak ada catatan baru. Tidak ada petunjuk.

Yusuf menghela nafas dan menempatkan perhatiannya untuk terakhir kali pada bagian styrofoam yang ditempeli secarik kertas berisikan jadwal kegiatan Aldi sehari-hari. Dari interviewnya bersama Hendrik, Yusuf sudah mengetahui salah satu karakteristik Aldi yaitu disiplin dan tepat waktu. Kertas yang berada di hadapannya sekarang inilah salah satu bukti yang mendukung pernyataan tersebut. Continue reading

Case Closed : Teka teki Detektif (40)


Untuk yang belum baca teka tekinya silahkan klik disini Teka teki Detektif (40).

 

Chevrolet hijau itu tiba di persimpangan jalan. Sang pengemudi, Detective Henry, memutar setir ke arah Abernethie Street. Di sampingnya, Inspektur Roland menjelaskan bahwa ada fakta yang terlewatkan dalam penalaran Henry pada kasus kali ini. Untuk memperjelas perkara ini, Inspektur Roland meminta Henry untuk menjelaskan penalaran Henry yang masih belum sempurna itu.

“Baiklah Inspektur, dari mana saya harus menjelaskan?”

“Coba jelaskan dari penyebab kematian korban. Kita tahu bahwa terdapat luka pukul benda tumpul pada bagian kepala korban. Apakah menurutmu pelaku menyerang korban dari belakang?” Continue reading

Case Closed : Teka teki Detektif (38) Part 2


Jika belum tahu kasusnya mending baca dulu disini https://inurhadi.wordpress.com/2013/06/14/teka-teki-detektif-38/

Biar tahu cerita lengkapnya, baca ini juga https://inurhadi.wordpress.com/2013/07/01/case-closed-teka-teki-detektif-38/

Kantor Kepolisian, Bagian Pembunuhan
Pukul 01.15

Detektif James Henry duduk di meja kerjanya sambil membolak balik selembar kertas, selembar kertas karbon, dan sebuah plastik transparan,. Selama 30 menit terakhir ia disibukkan oleh ketiga benda tersebut. Henry tidak bisa menyerah sekarang, Inspektur menyuruhnya untuk memecahkan dying message dari Albert Stanley, korban pembunuhan, malam ini juga. Sebenarnya Inspektur Roland sendiri sudah mengetahui arti dari pesan kematian korban tersebut, namun Inspektur sengaja menyuruh Henry untuk memecahkan pesan itu agar Henry bisa mengoptimalkan potensinya.

Selembar kertas, kertas karbon, dan plastik transparan. Itulah petunjuk yang diberikan Inspektur. Henry masih belum bisa mengerti apa hubungan dari ketiga benda ini, atau setidaknya apa hubungan benda ketiga. Kertas dan kertas karbon sudah jelas berhubungan, namun bagaimana dengan plastik transparan?

plain 1

Henry kembali melihat pesan kematian korban pada evidence bag. Pesan kematian berada pada dua kertas berbeda. Yang satu bertuliskan 4A. Satunya lagi 379. “Oh, aku mengerti.” Sebuah ide terlintas di kepala James Henry. Continue reading

Case Closed : Teka teki Detektif (38)


Bagi  yang belum membaca teka tekinya, saya sarankan baca terlebih dahulu..   Ini linknya : https://inurhadi.wordpress.com/2013/06/14/teka-teki-detektif-38/

Setelah memasuki minggu awal liburan semester, (akhirnya) cerita pengungkapan kasus telah selesai saya garap. Jika terdapat kekurangan dalam penyampaian cerita, saya minta kritik dan saran yang membangun dari reader.. ^^

Untuk pemilik kasus sebenarnya, Kemal, saya minta bantuannya jika ada reader yang memiliki pertanyaan terhadap kasus. Silahkan membaca dan mencocokan analisis.. 😀

Inspektur mengencangkan sabuk pengaman di sekeliling badannya, sementara Detektif Henry menyalakan mesil mobil. Mobil yang dikendarai mereka berdua kemudian meninggalkan parkiran apartemen, diikuti dua mobil patroli di belakangnya. Mr. Finch Wagner, sang tersangka utama, duduk di salah satu mobil patroli tersebut.

Mobil telah melaju beberapa blok saat Inspektur Roland berkata, “Ambil tikungan ke kanan di perempatan depan Henry.”

“Maaf Inpektur. Bukankah lebih cepat jika kita mengambil jalan ke kiri?”

“Memang, jika kita akan kembali ke markas.”

“Kita tidak kembali ke markas?”

Mobil Chevrolet tersebut berhenti, lampu di perempatan menunjukan warna merah.

“Tidak, tidak sekarang Henry.”

“Lantas sekarang kita hendak kemana, Inspektur?”

“Oh, apa aku belum mengatakan kepadamu sebelumnya? Maaf Henry. Kita sekarang pergi ke alamat ini.” Kata Inspektur Roland sambil menunjukan secarik kertas kepada Detektif Henry. Inspektur menunjuk sebuah alamat yang tertera di kertas tersebut. Continue reading