Suicide?


Warteg Bahari, Selasa Pukul 12.30

Suhu di siang hari itu sangat panas, membuat kedua pria yang duduk di sebuah warteg pinggir jalan mengucurkan bulir-bulir keringat dari dahi mereka. Selain menunjukan kulit mereka yang kepanasan, keringat itu juga menggambarkan rasa puas dan kenyang setelah menghabiskan menu makan siang.

“Jadi, bagaimana kabarmu di kepolisian?” Alfa bertanya.

“Baik. Lumayan.” Yusuf, seorang polisi dan juga teman Alfa, menjawab.

“Oh, ya. Si Dika bagaimana? Aku dengar dia sekarang diangkat jadi reserse di bagian narkoba.”

“Kabarnya baik dan karirnya terus melesat. Kau tahu, hampir semua pengedar narkoba berhasil diringkusnya. Ya, hampir semua, kesuali satu. Bajingan yang memroduksinya. Bukan, salah satu pengedar bernyanyi bahwa barang mereka bukan barang impor. Obat-obatan yang beredar diproduksi secara lokal.”

“Dan siapapun yang memroduksinya bertanggung jawab atas meninggalnya mahasiswa yang overdosis itu.”

Yusuf mengangguk.

“Nah, sekarang apa yang ingin kau bicarakan. Bukan mengenai kasus OD itu, kan?”

“Bukan, tentu saja. Kau sudah dengar kasus bunuh diri baru-baru ini?”

“Mahasiswa yang bunuh diri di kamar kosnya?”

“Ya, yang itu. Kau ada waktu untuk membicarakannya. Aku ingin berkonsultasi mengenai hal itu padamu.”

“Tentu aku punya waktu.” Continue reading

Advertisements

Case Closed : Teka teki Detektif (40)


Untuk yang belum baca teka tekinya silahkan klik disini Teka teki Detektif (40).

 

Chevrolet hijau itu tiba di persimpangan jalan. Sang pengemudi, Detective Henry, memutar setir ke arah Abernethie Street. Di sampingnya, Inspektur Roland menjelaskan bahwa ada fakta yang terlewatkan dalam penalaran Henry pada kasus kali ini. Untuk memperjelas perkara ini, Inspektur Roland meminta Henry untuk menjelaskan penalaran Henry yang masih belum sempurna itu.

“Baiklah Inspektur, dari mana saya harus menjelaskan?”

“Coba jelaskan dari penyebab kematian korban. Kita tahu bahwa terdapat luka pukul benda tumpul pada bagian kepala korban. Apakah menurutmu pelaku menyerang korban dari belakang?” Continue reading

Case Closed : Teka teki Detektif (38) Part 2


Jika belum tahu kasusnya mending baca dulu disini https://inurhadi.wordpress.com/2013/06/14/teka-teki-detektif-38/

Biar tahu cerita lengkapnya, baca ini juga https://inurhadi.wordpress.com/2013/07/01/case-closed-teka-teki-detektif-38/

Kantor Kepolisian, Bagian Pembunuhan
Pukul 01.15

Detektif James Henry duduk di meja kerjanya sambil membolak balik selembar kertas, selembar kertas karbon, dan sebuah plastik transparan,. Selama 30 menit terakhir ia disibukkan oleh ketiga benda tersebut. Henry tidak bisa menyerah sekarang, Inspektur menyuruhnya untuk memecahkan dying message dari Albert Stanley, korban pembunuhan, malam ini juga. Sebenarnya Inspektur Roland sendiri sudah mengetahui arti dari pesan kematian korban tersebut, namun Inspektur sengaja menyuruh Henry untuk memecahkan pesan itu agar Henry bisa mengoptimalkan potensinya.

Selembar kertas, kertas karbon, dan plastik transparan. Itulah petunjuk yang diberikan Inspektur. Henry masih belum bisa mengerti apa hubungan dari ketiga benda ini, atau setidaknya apa hubungan benda ketiga. Kertas dan kertas karbon sudah jelas berhubungan, namun bagaimana dengan plastik transparan?

plain 1

Henry kembali melihat pesan kematian korban pada evidence bag. Pesan kematian berada pada dua kertas berbeda. Yang satu bertuliskan 4A. Satunya lagi 379. “Oh, aku mengerti.” Sebuah ide terlintas di kepala James Henry. Continue reading

Case Closed : Teka teki Detektif (38)


Bagi  yang belum membaca teka tekinya, saya sarankan baca terlebih dahulu..   Ini linknya : https://inurhadi.wordpress.com/2013/06/14/teka-teki-detektif-38/

Setelah memasuki minggu awal liburan semester, (akhirnya) cerita pengungkapan kasus telah selesai saya garap. Jika terdapat kekurangan dalam penyampaian cerita, saya minta kritik dan saran yang membangun dari reader.. ^^

Untuk pemilik kasus sebenarnya, Kemal, saya minta bantuannya jika ada reader yang memiliki pertanyaan terhadap kasus. Silahkan membaca dan mencocokan analisis.. 😀

Inspektur mengencangkan sabuk pengaman di sekeliling badannya, sementara Detektif Henry menyalakan mesil mobil. Mobil yang dikendarai mereka berdua kemudian meninggalkan parkiran apartemen, diikuti dua mobil patroli di belakangnya. Mr. Finch Wagner, sang tersangka utama, duduk di salah satu mobil patroli tersebut.

Mobil telah melaju beberapa blok saat Inspektur Roland berkata, “Ambil tikungan ke kanan di perempatan depan Henry.”

“Maaf Inpektur. Bukankah lebih cepat jika kita mengambil jalan ke kiri?”

“Memang, jika kita akan kembali ke markas.”

“Kita tidak kembali ke markas?”

Mobil Chevrolet tersebut berhenti, lampu di perempatan menunjukan warna merah.

“Tidak, tidak sekarang Henry.”

“Lantas sekarang kita hendak kemana, Inspektur?”

“Oh, apa aku belum mengatakan kepadamu sebelumnya? Maaf Henry. Kita sekarang pergi ke alamat ini.” Kata Inspektur Roland sambil menunjukan secarik kertas kepada Detektif Henry. Inspektur menunjuk sebuah alamat yang tertera di kertas tersebut. Continue reading

Teka teki Detektif (38)


Kasus kali ini merupakan kiriman Kemal (Zaoldieck). Dan seperti biasa, saya membuat sedikit perubahan, yaitu ditambahkannya tokoh Inspektur Roland dan Detektif Henry yang akan terus tampil di kasus kasus selanjutnya sebagai trademark blog Black or White. Penyajian kasus berikutnya akan saya usahakan berbentuk cerita pendek, sama seperti kasus kali ini. Untuk Kemal, saya lupa mencantumkan di atas, dying message saya ganti hehe.. Meski begitu konsep tokoh (korban, tersangka) tetap saya pertahankan. Sekian, selamat menikmati.. ^^

Di musim gugur ini hujan sering kali turun, membuat semangat orang-orang menjadi hilang. Namun berbeda dengan Albert Stanley, di apartemennya yang sederhana, sang jenius di bidang matematika ini tetap bersemangat menggeluti formula/rumus baru yang ia temukan. Albert tidak menyadari, bahwa dibalik semangatnya yang menggebu-gebu tersebut ia tengah diintai sebuah sosok, sosok yang berniat mengakhiri kehidupannya di dunia. Continue reading