Again, Motive


Lanjutan dari Trap
Bagi yang ingin mencoba untuk memecahkan misteri sangat disarankan untuk membaca dulu
cerita-cerita sebelumnya.. hehe

Ini linknya..

  1. Suicide ?
  2. The Investigation – Part 1
  3. The Investigation – Part 2
  4. The Investigation – Part 3
  5. The Investigation – Part 4
  6. The Final Day of Investigation – Part 1
  7. The Final Day of Investigation – Part 2
  8. The Unexpected Guest
  9. Motive
  10. Trap

Dibaca berurutan ya, biar ga bingung.. Hehe

***

Warteg Bahari, Selasa pukul 14.27

Alfa meneguk teh manis, membasahi tenggorokannya yang kering. Ia mulai menjelaskan, “Kasus yang kau tangani ini, Sup, berpusat pada permasalahan tidak adanya motif. Dari keterangan yang kau dapatkan mengenai kepribadian korban, semuanya tidak memberikan petunjuk untuk motif bunuh diri maupun pembunuhan. Hal itu, tentu saja, sebelum Dika mencetuskan analisis psikologisnya yang cukup brilian. Semuanya mengena. Berawal dari trauma masa lalu yang membentuk kepribadian dan tujuan hidup Aldi, sampai pada kesimpulan Aldi bahwa semuanya hanyalah berupa kekosongan, hingga akhirnya menuntun Aldi pada niat bunuh diri. Penjelasan Dika memang masuk akal, tapi masalahnya kita tidak bisa membuktikan atau menyanggah penjelasan tersebut. Di satu sisi, interpretasi kepribadiannya sesuai dengan riwayat korban. Di sisi lain, tidak ada bukti (dokumen seperti diary) atau cara lain yang bisa mengonfirmasi penjelasan Dika.”

“Dan meskipun penjelasanku lima puluh persen kemungkinan benarnya. Kau tetap mengatakan bahwa penjelasanku salah dan ini adalah kasus pembunuhan. Bah! Hobimu mengkontradiksi orang sama sekali belum sembuh, Al!”

“Kau keliru, Dika. Aku tidak semata-mata mengatakan hal itu untuk mengkontradiksi penjelasanmu, namun dibandingkan dengan penjelasanmu..” Alfa berhenti, mencari kata yang tepat untuk meyakinkan Dika,

“Baiklah, simpelnya seperti ini. Kasus ini bersifat ambigu. Kita bisa melihatnya sebagai kasus bunuh diri juga sebagai kasus pembunuhan (yang dibuat seperti bunuh diri). Masalah untuk masing-masing alternatif adalah ke-tidakada-an motif. Untuk alternatif pertama, kau sudah menyediakan motifnya. Namun kita tidak bisa langsung menerima penjelasanmu begitu saja. Bukan karena aku iri atau apa, malah aku kagum kau bisa menganalisis sisi psikologis Aldi sampai menemukan motif yang tak terpikirkan sebelumnya itu. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, seperti yang kau katakan, penjelasanmu memiliki kemungkinan kebenaran sebesar lima puluh persen. Agar kita bisa yakin kebenarannya kita harus mengeliminasi kemungkinan lima puluh persen lainnya, yang tak lain adalah alternatif kedua, yaitu penjelasan di balik pembunuhan. Jika nanti diketahui bahwa penjelasan dari alternatif kedua ini tidak tepat, maka penjelasanmu lah yang diterima.”

Yusuf menyeringai, “Kemampuannya bersilat lidah tetap sama, bukan?”

Dika mengetuk-ngetuk permukaan meja, “Sialan! Aku tidak bisa membantah argumenmu itu! Yasudah, kalau begitu mulai penjelasanmu.”

Alfa berdeham, “Oke. Kita pertimbangkan alternatif kedua dan langsung menuju pada masalah utamanya. Jika ini pembunuhan, apa motif pembunuhan Aldi?

“Dari pribadinya, sudah dipastikan tidak ada yang menyimpan dendam pada Aldi sampai berujung pada pembunuhan. Jadi motif untuk pembunuhan Aldi adalah akibat dari sesuatu yang terjadi kepada, atau dilakukan oleh Aldi, baru-baru ini. Sesuatu yang sangat drastis yang mengubah sosok Aldi menjadi target pembunuhan. Apakah sesuatu (kejadian) itu?

“Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus melihat kembali kejadian apa yang kira-kira tidak biasa atau drastis. Dari informasi yang dikumpulkan Yusuf, awalnya kupikir tidak ada kejadian yang cukup signifikan untuk bisa memicu motif pembunuhan. Tapi setelah mempertimbangkan karakter Aldi dan kebiasaannya, tiba-tiba saja ada satu hal yang menggelitik pikiranku.

Keterangan dari si pemakai narkoba.”

Selama beberapa detik, tidak ada yang bereaksi.

“Oh, tentu saja. Keterangan pecandu yang sedang nge-fly memang sangat bisa diandalkan.” Dika memecah kesunyian dengan kata-kata sarkastis.

Berbeda dengan Dika. Yusuf sama sekali tidak bisa berkata-kata, ia hanya membisu sambil memicingkan matanya pada Alfa. Yusuf mulai berpikir bahwa temannya yang satu ini memiliki proses mental yang tidak biasa. Keterangan pemakai! Bahkan Yusuf tahu lebih baik dari itu.

Seolah mengesampingkan reaksi kedua temannya, Alfa menyambung. “Sekitar pukul setengah dua dini hari, sehari sebelum kejadian yang menimpa Aldi, pemak—kita sebut saja si X—melihat kepulan asap di depan tempat laundry kemudian dari tengah kepulan asap itu tiba-tiba saja muncul satu sosok yang ia sebut jin kuning. Yang ia saksikan, seperti yang diucapkan oleh Dika sebelumnya, bisa saja berupa halusinasi seorang pemakai yang sedang nge-fly. Ya, itu memang sebuah kemungkinan yang patut dipertimbangkan. Tapi, untuk sementara, marilah kita anggap bahwa si X tidak berhalusinasi dan sesuatu yang ia saksikan memang benar-benar terjadi, apapun itu.

“Selanjutnya, dari uraian yang dijelaskan Yusuf mengenai Aldi kita tahu bahwa Aldi biasa bangun sekitar pukul satu, mengerjakan salat sunah tahajud dilanjutkan dengan membaca buku di meja dekat jendela. Dan ingat! Jendela yang ada di kamar Aldi tidak dipasangi gorden. Letaknya pun tepat menghadap ke arah tempat laundry (barat). Dengan ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, dari kamarnya, Aldi bisa dengan jelas melihat asap yang berasal dari tempat laundry tidak peduli jika ia masih melaksanakan salat atau membaca buku.”

Alfa berhenti sejenak, membiarkan kedua temannya meresapi apa yang ia katakan.

Yusuf, yang beberapa saat lalu mulai meragukan Alfa, merenung sambil mengelus dagu. Adalah Dika yang memecah kesunyian dengan mengajukan sanggahan diikuti oleh sorot mata skeptis, “Sampai sini aku bisa mengikuti pemikiranmu, Al. Meski begitu, bukankah semuanya masih spekulatif? Hal ini kan didasari oleh asumsi bahwa si X tidak berhalusinasi. Kau tidak bisa dengan sengaja membenarkan asumsi ini hanya karena hal tersebut cocok dengan teori yang kau kembangkan.”

Alfa mengangguk, “Keberatan diterima. Tapi, bukankah sudah kukatakan untuk menganggap bahwa yang disaksikan X benar terjadi. Let’s just assume, for the sake of the argument. Atau mungkin kau lupa arti dari kata assume?”

Dika mendecak kesal.

“Dengan kondisi yang sama (melihat asap aneh)” Lanjut Alfa, “kira-kira apa yang akan kalian lakukan?”

“Menyelidiki hal itu tentunya.” Jawab Yusuf. Dika nampak segan untuk menjawab, tapi air mukanya menunjukkan bahwa ia juga setuju dengan jawaban Yusuf.

“Hal paling logis adalah untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ia saksikan itu. Dan, jika kalian memikirkannya dengan teliti, keterangan dari saksi lain membuktikan bahwa penjelasan inilah yang tepat, atau setidaknya menunjukkan bahwa penjelasan ini lebih masuk akal.

“Ingat keterangan yang diberikan oleh Tanto dan Hendrik. Pagi hari. Tanto berpapasan dengan Aldi di halaman kosan, Aldi baru saja keluar dari tempat laundry sedang Tanto hendak mencuci pakaiannya. Aldi keluar dari tempat laundry tanpa membawa pakaian habis cuci (Aldi melipat lengan: ket. Tanto), dan Tanto menemukan mesin cuci di tempat laundry kosong, Tanto bertanya-tanya : apa yang dilakukan Aldi. Pada waktu lain (malam) Tanto menanyakan hal tersebut, Aldi menjawab mencari pasangan kaus kaki yang hilang. Jawaban yang sama diberikan Aldi pada Hendrik saat mereka berpapasan tepat di ambang pintu tempat laundry (sore hari). Di tempat laundry Hendrik mendapati sebagian pakaian Tanto, kering dan terlipat cukup rapi di keranjang baju dan sebagian lagi di mesin cuci, masih direndam cairan pewangi (di sini Hendrik juga mencurahkan kekesalannya karena harus mengeringkan pakaian milik Tanto).

“Jika diurut secara kronologis, kejadiannya adalah sebagai berikut.

1) Pagi hari (Sabtu) Aldi memasuki tempat laundry
2) Aldi keluar dan berpapasan dengan Tanto di halaman
3) Tanto menemukan tempat laundry kosong, bertanya-tanya untuk apa Alfa ke tempat laundry?
4) Tanto mencuci pakaian, mengeringkan, melipat dan mencuci sebagiannya lagi untuk kemudian direndam pewangi dan ditinggalkan
5) Sore hari Aldi kembali masuk ke tempat laundry
6) Aldi keluar, hampir bertabrakan dengan Hendrik, mengatakan bahwa habis mencari kaus kaki
7) Hendrik mencari kaus kaki Aldi (di keranjang yang berisi pakaian Tanto dan di mesin pengering). Tidak menemukannya, Hendrik meneruskan niatnya untuk mencuci (menemukan mesin cuci penuh dengan pakaian Tanto, mencucikannya sebelum mencuci pakaiannya sendiri)
8) Malam hari, Tanto bertemu dengan Aldi di ruang tengah lantai satu, Tanto bertanya soal pagi hari, jawaban yang diberikan Aldi sama seperti jawaban yang diterima Hendrik

“Lalu?” Dika bertanya-tanya.

“Kalian tidak melihat hal yang janggal di sini? Masya Allah!” Di sini Alfa menggaruk-garuk kepala seperti orang yang gemas. Alfa menarik nafas panjang sebelum menjelaskan proses nalarnya.

“Aldi pertama kali mencari kaus kaki pada pagi hari dan yang kedua kalinya pada sore hari. Mengapa Aldi mencari kaus kaki itu lagi pada sore hari? Jawaban logisnya, tentu saja karena di pencarian pertama Aldi tidak menemukannya, lalu ia kembali mencari di sore hari karena ia berpikir ia kurang teliti sebelumnya.

“Di tempat laundry pada saat itu hanya tersedia satu mesin cuci plus pengering. Dengan keranjang pakaian sebagai tambahan, hanya ada tiga tempat yang memungkinkan untuk keberadaan kaus kaki. Dengan anggapan pencarian Aldi yang pertama kali tidak teliti, dan kaus kaki itu masih berada di antara tiga tempat tadi*, Tanto yang memakai mesin cuci, mengeringkan, dan menyimpan pakaiannya pada keranjang, sesaat setelah Aldi keluar, seharusnya menemukan kaus kaki pada salah satu kegiatannya itu. Tapi apa yang terjadi? Malam harinya, ketika Tanto bertemu Aldi, Tanto menanyakan apa yang Aldi lakukan tadi pagi. Jika Tanto menemukan kaus kaki Aldi saat ia mencuci, seharusnya ia bisa menebak apa yang Aldi lakukan tadi pagi atau setidaknya menanyakan pada Aldi untuk memastikan lalu memberikan kaus kaki yang ia temukan pada Aldi. Tapi hal seperti ini tidak terjadi, sehingga kita harus menyimpulkan bahwa Tanto tidak menemukan kaus kaki. Kita juga harus menyimpulkan bahwa pada saat Aldi meninggalkan tempat laundry pada pagi hari, kaus kaki itu tidak berada di sana.

(*Sebenarnya jika kalian jeli, ada satu poin yang langsung mematahkan kemungkinan ini, namun untuk menetapkan argumen, mari kita telusuri kemungkinan ini terlebih dahulu:penulis)

“Jika pada saat itu kaus kaki yang dicari Aldi tidak ada di sana, berarti kemungkinannya 1) Aldi telah menemukan kaus kaki itu atau 2) kaus kaki itu memang tidak pernah berada di sana. Tapi kemungkinan pertama ini tidak mungkin terjadi mengingat sore harinya Aldi kembali mencari kaus kaki.

“Jika Aldi menemukannya di pagi hari, untuk apa mencarinya lagi di sore hari?

“Hal ini menyisakan kita dengan kemungkinan kedua, yaitu kaus kaki itu tidak pernah berada di tempat laundry. Di sinilah poin pentingnya. Perhatikan! Jika Aldi tahu tentang hal ini, namun tetap mencarinya di tempat laundry (untuk kedua kalinya), kita patut mempertanyakan kebenaran di balik cerita kaus kaki hilang tersebut. Nah, masalahnya apakah Aldi tahu tentang hal ini?

“Saat itu hanya ada tiga penghuni yang dapat memakai mesin cuci. Dua di antaranya mencuci (hanya mereka berdua) di hari yang bersamaan, hari di mana Aldi mencari kaus kaki.”

“Hari Sabtu.” Yusuf menambahkan.

“Tepat. Pada hari itu Aldi adalah orang pertama masuk ke tempat laundry yang berarti bahwa, pada saat Aldi masuk, bisa diperkirakan tempat laundry itu bebas pakaian (didukung juga oleh pernyataan Tanto)**. Dan mengingat kondisi laundry yang bebas pakaian itu—seceroboh apapun seseorang dalam mencari—setelah  pencarian pertamanya, Aldi tentunya tahu bahwa kaus kakinya tidak ada di tempat laundry. Hal ini lagi-lagi menuntun kita pada pertanyaan lainnya.

(**poin yang mematahkan kemungkinan kaus kaki ditemukan Tanto:penulis)

“Jika pencarian pertama berakhir nihil dan Aldi tahu bahwa kaus kaki itu tidak berada di tempat laundry, untuk apa mencari lagi di sore hari?

“Jika kita kembali memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini, pertanyaan lain pun mulai bermunculan. Apa yang bisa menjelaskan perilaku Aldi yang nampak ganjil ini? Benarkah Aldi pergi ke tempat laundry untuk mencari pasangan kaus kakinya yang hilang? Jika tidak, apa penjelasan di balik cerita pencarian kaus kaki yang hilang itu? Jawabannya? Sederhana saja. Kebohongan. Aldi, pemuda dengan imej yang sangat baik ini, berbohong. Cerita mencari kaus kaki itu hanyalah kebohongan Aldi untuk menutupi hal yang sebenarnya ia lakukan. Lalu apa yang sebenarnya ia lakukan? Kembali pada skenario awal : mencari tahu apa arti dari asap yang ia lihat tadi malam.”

Yusuf mengangguk paham, tentu saja, pikirnya. Jika kejadian yang disaksikan X memang terjadi, Aldi pun dipastikan menyaksikan hal yang sama, dan jika Aldi menyaksikan kejadian itu, maka Aldi pun akan mencari tahu apa yang sebenarnya telah ia saksikan.

Hanya Dika yang masih terlihat sangsi akan penjelasan Alfa. “Tunggu sebentar. Jika memang Aldi menyelidiki kejadian yang ia saksikan sebelumnya, mengapa ia tidak membagi hal ini dengan Tanto atau Hendrik. Mengapa ia harus berbohong soal mencari kaus kakinya yang hilang? Apalagi kelakuannya ini nampak sangat berlawanan dengan kepribadian yang dimiliki Aldi.”

Alfa mendesah, “Kau memang tidak gampang puas, Ka. Untuk sementara tahan dulu keberatanmu, aku janji kau akan mengetahui alasannya sebentar lagi. Sekarang kita coba tempatkan diri kita di posisi Aldi. Dini hari Aldi bangun seperti biasa dan melakukan rutinitasnya, lalu di tengah rutinitasnya itu ia menyaksikan asap mengepul dari arah tempat laundry. Ia melongok dari jendela kamarnya, menyaksikan asap yang berasal dari tempat laundry itu sendiri. Aldi menjadi penasaran. Siapa yang tidak? Dengan adanya mitos tentang tanah kosan itu, tentu saja asap yang muncul secara misterius di tanah itu akan mengundang tanda tanya besar bagi yang melihatnya.

“Selanjutnya, kita tidak tahu apakah ia langsung turun ke bawah untuk mencari tahu atau menunggu hingga pagi. Mungkin Aldi merasa menyelidiki langsung di pagi hari buta seperti itu cukup menakutkan sehingga baru pada pagi harinya ia menyelidiki. Yang jelas di pagi hari ia masuk ke tempat laundry untuk mencari tahu, jadi kita asumsikan saja Aldi memulai penyelidikannya di pagi hari.

“Di tempat laundry, Aldi mulai menyelidiki dari mana asap yang ia lihat berasal. Tapi di tempat laundry tidak ada benda apapun yang bisa menghasilkan asap tebal seperti yang ia saksikan. Untuk itu Aldi menyerah dan meninggalkan tempat laundry. Di halaman ia berpapasan dengan Tanto, keduanya hanya menyapa selamat pagi lalu meneruskan kegiatannya masing-masing. Tanto, yang hendak mencuci pakaiannya, heran saat melihat mesin cuci dan keranjang baju yang kosong. Saat berpapasan dengan Aldi sebelumnya, tentunya Tanto berasumsi bahwa Aldi baru saja habis mencuci baju, tapi Tanto mendapati mesin cuci kosong melompong. Dengan ini muncullah pertanyaan, apa yang tadi dilakukan Aldi. Yang kemudian ditanyakan Tanto saat ia bertemu lagi dengan Aldi pada malam hari.

“Kita kembali pada Aldi. Penyelidikannya yang pertama tidak menemukan apa-apa, namun rasa penasaran terus menggerogoti benaknya. Ia terus memikirkan hal tersebut dan di sore hari kembali melanjutkan penyelidikannya. Sore hari, Hendrik pergi mencuci baju. Ia berpapasan dengan Alfa di ambang pintu. Hendrik mengatakan bahwa Alfa nampak kaget saat berpapasan dengannya kemudian dengan agak gugup menjawab bahwa ia habis mencari kaus kaki. Jawaban yang sama yang kemudian diberikan pada Tanto.

“Mengapa Alfa..”

“Aldi!” Koreksi Dika, rupanya baru di penyebutan ketiga kali ketika seseorang menyadari kesalahan penyebutan nama itu.

Wajah Alfa berubah merah, “Maaf, namanya mirip denganku, jadi.. ya.. Ehm. Mengapa Aldi berbohong soal mencari kaus kaki dan kaget saat berpapasan dengan Hendrik, terlebih lagi gugup saat menjawab pertanyaannya? Apakah mungkin, karena Aldi kali ini menemukan sesuatu terkait asap yang dilihatnya itu? Sesuatu yang sangat serius dan perlu untuk ditutup-tutupi?”

Yusuf hampir saja menjawab pertanyaan yang bersifat retoris itu. Ia mengurungkan niatnya lalu mendengarkan lanjutan penjelasan Alfa.

“Kemungkinan paling besarnya seperti itu. Aldi menemukan sesuatu dan yang ditemukannya itu cukup serius sehingga ia harus menutupinya dengan berbohong. Tapi apa yang ia temukan?

“Untuk menjelaskannya kita harus kembali ke persoalan awal yaitu kejadian yang disaksikan oleh X. Asap yang entah dari mana menyelubungi tempat laundry dan penampakan jin kuning misterius. Cukup mudah untuk menjelaskannya jika kita mengesampingkan unsur mistis yang ada, yang perlu dicamkan adalah soal asap. Di tempat laundry tidak ada benda yang dapat menghasilkan asap. Dan asap, kita tahu, mengepul dan bergerak ke atas. Jadi jika asap tidak berasal dari ruang laundry, maka”

“Asap berasal dari bawah ruang laundry. Mitos itu. Bunker. Bunker wash!” Kali ini Yusuf berbicara pada momen yang pas.

“Jadi, mitos warga setempat ternyata bukan isapan jempol belaka?” tanya satu suara asing namun cukup familiar di telinga ketiga pelanggan warteg.

“Terlepas dari kebenaran mitos itu, aku tidak tahu. Yang jelas ada bunker di sana, dan Aldi menemukannya (juga jalan masuknya). Di sanalah Aldi menemukan sumber asap yang ia saksikan dan juga sebuah rahasia lain yang membuatnya berbohong soal mencari kaus kaki. Rahasia yang kemudian membuatnya terbunuh. Dika?” Alfa dikagetkan oleh Dika yang tiba-tiba menggebrak meja.

Rangkaian proses mental yang begitu cepat, yang disebut sebagian orang sebagai eureka momment, membuat Dika tersentak dan secara spontan menggebrak meja. Lalu, seperti filsuf yang tenggelam dalam pemikirannya sendiri, Dika bergumam. “Pengedar narkoba itu.. produksi lokal.. disembunyikan di lipatan baju.. asap.. jin kuning.. bunker… Tempat laundry itu kedok dari pabrik narkoba!”

Yusuf terbelalak kaget. Dengan sekejap ia mengerti arti dari asap yang entah dari mana asalnya, penampakan jin kuning yang disaksikan X, dan terlebih lagi arti dari kematian Aldi.

Seolah merespons apa yang ada di benak Yusuf, Alfa menjelaskan. “Asap yang muncul adalah akibat dari kecelakaan proses pembuatan narkoba atau semacamnya dan Jin kuning yang dilihat X adalah sang peracik narkoba dalam pakaian hazmat (hazard material). Jin kuning itu terpaksa keluar untuk menghindari asap hasil kecelakaan kimianya. Sialnya, seorang pemuda tak sengaja melihatnya, lalu pemuda itu tertangkap dan menceritakan hal tersebut pada polisi (yang kebetulan adalah Dika), polisi itu menceritakannya lagi pada rekan polisinya (Yusuf melalui Ujang), kemudian cerita penampakan itu sampai padaku yang pada akhirnya membantuku menjawab teka-teki kematian Aldi dan juga membongkar rahasia kotor si jin kuning misterius itu.”

“Lalu, identitas jin kuning itu adalah..” suara asing itu kembali berbicara. Entah siapa yang mengatakan hal ini, yang jelas Dika dan Yusuf tidak membuka mulut. Dengan cepat Alfa memotong.

“Siapa lagi kalau bukan empu yang punya rumah. Yang mewarisi tanah dengan sejarah dan mitos yang misterius. Yang membawa pekerja bangunan dari kampung asalnya untuk membangun bangunan yang digunakan sebagai kos-kosan. Kau lihat, menurutku keberadaan bunker dalam mitos itu hanya cerita fiktif belaka. Cerita yang kemudian diwujudkan menjadi kenyataan oleh sang pewaris tanah. Sang pewaris tanah alias sang jin kuning. Atau dengan kata lain, jin kuning yang dilihat X, alias sang pewaris tanah, alias pemilik kos-kosan, adalah Pak Syarif.”

Alfa berhenti. Sunyi bertahan cukup lama kali ini.

“Sekarang kau mengerti mengapa Aldi berbohong soal mencari kaus kaki, Ka? Setelah menemukan pabrik narkoba di bawah tempat laundry, Aldi pun berkesimpulan bahwa Pak Syarif lah yang bertanggung jawab terhadap pabrik ini. Penemuan ini mengguncang perasaannya. Buru-buru ia keluar dari tempat jahanam itu dan jantungnya hampir copot saat Hendrik hampir menabraknya di ambang pintu. Ia tidak bisa membiarkan Hendrik tahu soal pabrik narkoba itu, oleh karena itu ia berbohong. Mengapa? Karena ia ingin menjaga nama baik Pak Syarif, orang yang telah membantunya dari kesusahan, orang yang memberinya tempat untuk berteduh, orang yang bisa mengerti pahit dan perih masa lalunya, satu-satunya orang yang berperan seperti Ayah kandungnya sendiri.”

Yusuf duduk membisu di depan Alfa. Rahangnya mengeras, menimbulkan urat nadi di pelipisnya. Di sampingnya, Dika memandang lurus ke depan, menerawang sesuatu yang berada di belakang dinding warteg. Suasana di dalam ruangan sempit warteg Bahari terasa berat, seolah-olah udara di dalamnya digelayuti oleh guncangan emosional yang dialami Aldi ketika mengetahui rahasia kotor dari orang yang dianggapnya sebagai ayah.

“Ehm.” Alfa meneguk kembali teh manisnya lalu melanjutkan.

“Kurasa kalian bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Pasti adalah sebuah syok yang sangat mengguncang ketika Aldi mengetahui rahasia Pak Syarif. Saat itu Aldi dihadapkan pada sebuah dilema. Di satu sisi ia ingin melindungi Pak Syarif, namun di sisi lain Aldi tidak dapat membiarkan Pak Syarif meneruskan tindak kejahatannya. Aku percaya Aldi memilih jalan tengah untuk hal ini. Dia berencana untuk menemui Pak Syarif terlebih dahulu, menanyakan soal pabrik narkoba di dalam bunker secara langsung, dan memberinya waktu untuk menyerahkan diri pada polisi sebelum Aldi sendiri yang akan melaporkannya. Inilah yang sebenarnya terjadi di ruang tamu saat Aldi menemui Pak Syarif pada pukul setengah sepuluh malam itu.”

Kepalan tangan Yusuf mengeras.

“Pak Syarif tentunya tidak merasa tenang setelah pertemuannya dengan Aldi. Seperti para penjahat lain di situasi yang sama, ia merasa terancam. Aldi, yang mungkin telah ia anggap sebagai anak sendiri, kini berubah menjadi ancaman baginya. Ancaman yang harus dilenyapkan. Kemudian Pak Syarif berencana untuk membungkam Aldi, membunuhnya agar rahasia kotornya aman.

“Lalu tengah malamnya, sekitar pukul satu dini hari, setelah mempersiapkan benda yang diperlukan ia naik ke lantai tiga. Kos-kosan sedang kosong karena hampir semua penghuni mudik liburan dan dua penghuni lain yang ada sedang keluar, hal itu menjadi kesempatan menguntungkan bagi Pak Syarif. Tiba di lantai tiga Pak Syarif mengetuk pintu kamar Aldi, Aldi yang sudah terjaga seperti biasa membukanya. Dengan menyembunyikan tali di belakang punggungnya, Pak Syarif berpura-pura untuk membicarakan pabrik narkoba yang ia kelola. Aldi, yang menaruh harapan baik pada Pak Syarif  menganggap bahwa Pak Syarif bermaksud untuk melakukan hal yang benar, mempersilakannya masuk. Saat Aldi membelakanginya, Pak Syarif menggunakan momen itu untuk menjerat leher Aldi dari belakang. Aldi melawan, kedua tangannya menahan jeratan tali dan kakinya menendang-nendang ke udara. Beberapa saat kemudian tendangan-tendangan itu melemah, semakin lambat dan semakin rendah. Kedua tangannya jatuh ke samping, diikuti dengan anggota badan yang berhenti kaku, terkulai lemah dan jatuh ke lantai seolah pasrah.

“Kemudian..”

“Stop!” Dika melirik Alfa,  “Cukup, kami mengerti.” Katanya setengah memohon.

Alfa mengangguk sekali. Dan untuk terakhir kalinya ia meneguk teh manis di hadapannya sampai habis lalu ia menundukkan kepala dan diam membisu.

“Lalu bagaimana soal kunci yang berada di dalam kamar itu?” Pertanyaan ini keluar dari mulut pemilik warteg yang entah sejak kapan menguping pembicaraan tersebut dan sedikit demi sedikit mem-partisipasi-kan diri dalam diskusi. Sayangnya, jawaban yang ia terima kali ini adalah tatapan sangar dari Iptu Yusuf yang membuat harga diri sang pemilik warteg turun seribu.

Dika, setelah mengambil perhatian kedua temannya, berbicara seolah mengesampingkan pertanyaan pemilik warteg.

“Urusan misteri ruang tertutup itu nanti saja. Lewat interogasi pun kita bisa mengoreknya dari pelaku, jika terbukti penjelasan ini yang tepat. Masalahnya adalah, tidak ada bukti nyata yang membenarkan penjelasan ini. Masalah yang sama dengan penjelasanku mengenai motif bunuh diri.”

Yusuf berpikir, perkataan Dika memang masuk akal. Penjelasan Alfa semuanya berdasarkan asumsi. Asumsi bahwa X tidak berhalusinasi, bahwa Aldi melihat hal yang sama dengan X, dan terakhir bahwa cerita kaus kaki hilang adalah kebohongan belaka. Rangkaian logikanya memang kuat namun semuanya berupa bukti tidak langsung, tidak ada bukti nyata.

Setelah dua kali memperhatikan Alfa dan Yusuf secara bergantian, persoalan yang digarisbawahi oleh Dika dijawab Alfa.

“Buktinya ada. Kalian lupa tentang ruang bawah tanah yang dipakai sebagai pabrik narkoba itu? Saat ini hal tersebut memang masih berupa perkiraan, sebuah hipotesis. Tapi kau bisa mencari tahu kebenarannya bukan, dengan memastikan ada tidaknya ruang bawah tanah? Jika kau menemukannya lalu membuktikan bahwa tempat itu dipakai sebagai pabrik narkoba dan dikelola oleh Pak Syarif, kurasa kau bisa memojokkannya agar mengaku.”

Setelah beberapa lama Yusuf mengangguk, “Baiklah. Aku punya rencana.” Kata Yusuf dengan suara Bass yang menandakan keseriusannya. “Dan mengingat kau juga punya urusan soal pabrik narkoba, aku butuh bantuanmu, Ka.”

Dika mengangguk. Meskipun ia menganggap dirinya lebih pandai dalam soal menganalisis, soal taktik dan strategi Yusuf memang lebih piawai. Yusuf mengangguk mantap.

“Semuanya berapa, Pak? Pak polisi ini yang bayar, ya.” Alfa beranjak dari bangku warteg. “Oh, iya Sup. Satu hal lagi.” Alfa mengacungkan telunjuknya, terdiam sebentar, terlihat ragu, lalu menggelengkan kepala.

“Apa Al?”

“Tak apa. Semoga berhasil. Senang berjumpa denganmu lagi, Ka. Duluan.”

Selanjutnya..

5 comments on “Again, Motive

  1. Pingback: Last, Conclusion | Black or White?

  2. udah kelihatan jelas pelakunya pak syarif . mulai dari mr.X atau pengedar narkoba yg di tngkap dika. yah lumayan karna ada penambahan fiksinya yg bkin tmbah seru.

    Like

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s