Motive


Lanjutan dari The Unexpected Guest
Biar ga bingung ini link cerita-cerita sebelumnya..

  1. Suicide ?
  2. The Investigation – Part 1
  3. The Investigation – Part 2
  4. The Investigation – Part 3
  5. The Investigation – Part 4
  6. The Final Day of Investigation – Part 1
  7. The Final Day of Investigation – Part 2
  8. The Unexpected Guest

Dibaca berurutan ya, biar ga bingung.. Hehe

***

“Aku tahu tempat janjimu hari ini dari Briptu Ujang. Kupikir akan cukup menyenangkan untuk berkumpul kembali bersama teman lama. Dan mungkin aku juga bisa berkontribusi dalam kasus mu ini. Nah, kau tidak keberatan aku bergabung kan, Al? Tentu tidak.” Katanya tanpa memberi kesempatan Alfa untuk menjawab

“Apa kau tidak punya urusan yang lebih penting dari ini?” Yusuf bertanya.

“Selain habis mengurusi seorang tahanan di rumah sakit, aku tidak sedang memegang kasus sekarang ini. Bicara soal itu, aku jadi teringat! Soal pemakai yang mengicau itu, ia sempat siuman. Rekanku mengatakan bahwa ia masih tetap bersikukuh soal jin kuning yang muncul di balik asap yang ia lihat Sabtu dini hari itu. Aku tidak begitu yakin bagaimana hal ini bisa membantu kasus mu, Sup.”

Yusuf setuju dengan Dika tentang itu. Di depannya Alfa diam membisu.

Dika memulai orasinya, “Baiklah, mari kita mulai. Jadi, yang kita diskusikan adalah perkara kasus bunuh diri yang ditangani Yusuf. Oke, aku mendengar penjelasanmu hampir dari awal mula penyelidikan yang kau lakukan (dan di antara kalian berdua tidak ada yang sadar bahwa aku duduk di belakang kalian selama itu!). Menurut pendapat pribadiku, Sup, kau memikirkan kasus ini secara berlebihan.

“Awalnya kau yakin bahwa ini kasus bunuh diri. Lalu kau bilang tidak ada motif di balik bunuh diri, karena itu kasus ini bukan merupakan bunuh diri. Kemudian kau mencurigai pembunuhan tanpa menemukan motif, cara, bahkan tersangkanya. Terus begitu hingga kau tidak yakin antara bunuh diri atau pembunuhan. Kau terlalu terburu-buru. Seharusnya kau harus fokus pada masalah utamamu, yaitu motif bunuh diri yang nampaknya tidak ada sama sekali.

“Tidak ada keterangan saksi yang menunjukkan motif bunuh diri, kau bilang. Aku bilang, kau terlalu terburu-buru. Dari keterangan itu ada, tersirat, motif yang mendasari perilaku bunuh diri korban. Yang perlu kau lakukan adalah menganalisis kondisi psikologis Aldi dari keterangan-keterangan tersebut.”

Dika tengah berancang-ancang untuk menjelaskan motif bunuh diri dari kasus yang ditangani Yusuf.

“Baiklah mari kita dengar analisis mu itu, Ka?”

Dika tersenyum lebar. Ia menarik nafas panjang sebelum menjelaskan duduk perkara menurut hasil analisisnya.

“Pertama kita lihat masa lalu dari korban. Aldi.

“Aldi adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya diambil dari sisinya secara mengenaskan. Tewas karena kecelakaan mobil. Sebelumnya, Aldi dan kedua orang tuanya memiliki hubungan yang sangat harmonis. Setelah kecelakaan itu, Aldi kemudian masuk ke panti asuhan. Ia tumbuh menjadi anak yang ramah, hangat, dan memiliki hubungan yang harmonis dengan siapa saja. Aldi pun terus tumbuh jadi pribadi yang mandiri, seperti yang kau uraikan tadi.”

Yusuf menangguk.

Dika berdeham, “Ada dua macam tipe orang yang muncul dengan masa lalu seperti itu. Maksudku dengan latar belakang tragis dan terus berjuang sampai bisa berdiri mandiri.

“Yang pertama adalah tipe manipulatif yang mengandalkan individualistis. Yang berkeyakinan bahwa semua orang patut bersusah payah dengan keringat sendiri untuk bertahan di dunia.

“Yang kedua, tipe sosial yang mengandalkan tolong-menolong. Yang berkeyakinan bahwa semua orang harus tolong menolong agar dapat bertahan di dunia.

“Aldi termasuk tipe kedua. Semua orang menyukainya. Ia bisa diandalkan. Ia suka membantu. Ia ramah. Ia sopan. Dan lain sebagainya. Tapi di sini yang ingin aku jelaskan bukanlah tipe individual dan sosial, melainkan motif atau dorongan yang membuat orang menjadi seperti ini. Spesifiknya lagi, mengapa Aldi berkembang menjadi pemuda dengan tipe seperti ini.”

“Mengapa?” Tanya satu suara asing.

Dika kelihatannya tidak sadar bahwa yang bertanya bukanlah Yusuf maupun Alfa sehingga ia dengan otomatis menjawab. “Aldi berkembang menjadi tipe sosial itu semata-mata untuk mengisi kekosongan dalam hatinya.”

Agaknya pernyataan itu membuat yang mendengar terkesiap, terutama bagi Yusuf.

Dika melanjutkan, “Aldi berawal dari keluarga yang harmonis. Keluarga yang hangat. Namun kehangatan itu harus terenggut secara tragis. Aldi tidak ingin kehilangan kehangatan itu sehingga ia menciptakan lingkungan yang membuatnya merasakan kehangatan yang sama. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi orang yang sopan, ramah, dan hangat. Ia menjadi pemimpin di antara anak sepanti nya agar terjalin hubungan harmonis yang ia rindukan. Hal ini bahkan berlanjut ke masa dewasanya, di kosan Pak Syarif, karena memang itulah motivasinya. Ia ingin merasakan kembali kehangatan keluarga yang telah terenggut dari kehidupannya. Sikap ini terus melekat hingga ia tumbuh dewasa dan mandiri. Pendapat orang-orang di sekitarnya membuktikan hal ini.

“Namun melihat apa yang terjadi selanjutnya, kita dihadapkan pada pertanyaannya penting yaitu : Apakah kehangatan yang didambakannya itu sudah ia rasakan? Apakah kebutuhan batinnya itu terpenuhi? Hanya Aldi dan Tuhan yang tahu.

“Lalu bagaimana jika tidak. Bagaimana jika ia merasakan bahwa selama ini kekosongan dalam hatinya masih belum terobati. Bagaimana jika akhirnya Aldi menyadari bahwa yang selama ini ia lakukan tidak menghasilkan ketentraman apa-apa dalam hatinya. Yang ada hanyalah kekosongan, kesendirian.

“Bayangkan jika kalian telah berusaha semampu kalian dalam hidup untuk mencapai ketentraman hanya untuk menyadari bahwa usaha kalian sia-sia. Bayangkan jika motivasi, dorongan hidup kalian selama ini hanyalah ilusi belaka. Kemudian kalian sadar bahwa kalian hidup untuk meraih sesuatu yang tidak bisa didapatkan kembali. Lalu kalian kehilangan semangat untuk hidup karena untuk apa bersusah payah jika hal itu tidak akan menghasilkan apa-apa.

“Secercah harapan yang tadinya kalian kira berupa cahaya silau supernova itu ternyata runtuh dan berubah menjadi lubang hitam yang pada akhirnya menelan habis semangat hidup kalian. Itulah yang menurutku dialami oleh Aldi. Ia telah kehilangan semangat hidupnya.

“Tapi..” Yusuf hendak menginterupsi. Dika tahu apa yang dipikirkan Yusuf, ia langsung memotong.

“Memang, Aldi tidak menunjukkan simtom atau tanda-tanda suicidal beberapa hari sebelumnya. Semua mengatakan Aldi bersikap seperti biasa. Tapi itu berdasarkan asumsi Aldi menyimpan niat bunuh dirinya cukup lama, namun yang terjadi sebenarnya adalah niat itu muncul sehari sebelum Aldi bunuh diri.

Sehari sebelumnya?! Yusuf berpikir. Jika itu yang terjadi, pantas saja tidak ada yang menyadari simtom suicidal pada diri Aldi. Tanda-tandanya belum muncul!

Dika melanjutkan, “Lalu apa yang memunculkan niat tersebut? Dua hal yang tak diinginkan dan terus dihindari Aldi selama ini. Kesepian dan kekosongan.” Ia berhenti sejenak, “Setelah menyelesaikan tugas akhir, tanpa mengetahuinya, Aldi tiba pada masa di mana ia dikelilingi oleh kesepian dan kekosongan. Aldi merasa sepi karena sebagian besar penghuni kos pulang kampung dan sedang mengerjakan KKN. Aldi tidak menyadari hal ini sebelumnya karena di masa liburan yang sudah-sudah ia masih aktif sebagai mahasiswa. Sekarang ia sudah tinggal menunggu wisuda. Tidak ada lagi yang perlu ia lakukan selain menunggu. Hal tersebut menempatkannya pada kondisi kekosongan dan kekosongan ini membuatnya sadar bahwa ia ternyata kesepian. Bahwa ia selama ini berada dalam kesendirian.

“Kedua hal inilah yang membuatnya merenung hingga akhirnya, pada hari Sabtu, ia sampai pada kesimpulan bahwa ia telah kehilangan tujuan dan motivasi hidupnya.”

Dika berhenti sejenak. Yusuf menatap Dika penuh perhatian tanpa menyadari teman satunya lagi, Alfa, sedang menunduk seolah terkantuk-kantuk.

“Tapi apakah ia selanjutnya langsung berniat untuk bunuh diri?” Lanjut Dika, “Tidak. Ingat, Hendrik mengatakan bahwa sore hari sebelum Aldi tewas bunuh diri, ia menanyakan apakah Pak Syarif telah pulang. Apa alasan dari pertanyaan Aldi itu? Tentu saja karena Ia ingin mendatangi Pak Syarif, orang yang paling dekat dengannya. Ia ingin membicarakan kegundahan hatinya itu dengan Pak Syarif. Ia ingin memperoleh jawaban yang bisa menampik keputus-asaan yang ia rasakan.

“Ia menunggu kedatangan Pak Syarif di ruang tengah lantai satu. Pukul setengah sepuluh Pak Syarif datang, Aldi pun pergi menemuinya. Namun ketika bertemu dengan pak Syarif ia mendapatkan jawaban yang justru malah memperparah keputusasaannya.

“Pak Syarif mengatakan bahwa ia terlalu capek untuk berbicara dengan Aldi, menolak dengan sopan dan meminta agar berbicara esok hari saja. Kita bisa memahami situasi Pak Syarif, tentunya ia dalam kondisi terlalu capek untuk menyadari ada hal penting yang ingin diutarakan Aldi. Namun apa penafsiran Aldi terhadap penolakan pak Syarif ini? Bahwa semuanya memang kosong. Bahwa ia benar-benar kesepian. Bahwa ia benar-benar sendirian. Tidak ada lagi kehangatan yang ia dambakan itu.

“Bayangkan. Bahkan sosok sang ayah pengganti telah mengesampingkannya di saat-saat di mana ia membutuhkan perhatian yang sangat. Di saat di mana keputusasaan telah meracuni pikiran sehatnya. Penolakan itu menjadi pemicu terakhir. Lalu setelah mendengar ucapan Pak Syarif itu, lidahnya menjadi kelu. Ia tidak mampu mengucapkan apa pun. Ia pamit dan pergi ke kamarnya. Ia yakin bahwa sudah tidak ada gunanya lagi ia hidup.

“Apa yang terjadi sebelum ia menggantung diri hanya bisa kita tebak. Mungkin saat ia pamit pada Pak Syarif ia mengambil kunci master untuk mencegah usaha bunuh dirinya diganggu. Ia naik ke kamarnya. Merenung untuk terakhir kalinya. Hingga akhirnya ia memantapkan diri untuk menggantung tali pada palang kayu di langit-langit, naik ke atas kursi dan menendangnya agar ia terjatuh tergantung pada tali yang mengakhiri hidupnya.”

Yusuf yang masih tidak percaya berkata. “Tapi Hendrik mengatakan bahwa Aldi terlihat baik-baik saja sore itu.”

“Kau lupa? Hendrik juga mengatakan bahwa saat itu Aldi berbicara dengan agak gugup. Menurutku sendiri, hal itu dikarenakan Aldi berusaha semampunya untuk berperilaku seperti biasa. Namun Hendrik tidak menyadarinya karena setiap orang melihat apa yang ingin mereka lihat. Hendrik mengenali Aldi sebagai orang yang ramah dan periang, sehingga fitur lain yang ditampilkan Aldi sore itu ia abaikan. Satu lagi, dalam keterangan Tanto, ia mengatakan bahwa Aldi terlihat agak berbeda, terlihat sedih, saat Tanto bertemu dengannya di ruang tengah lantai satu. Sekarang kau bisa mengerti apa yang membuat Aldi nampak sedih seperti itu.”

“Lalu soal jin dan asap yang dikatakan tahananmu?”

“Keterangan tentang fenomena mistis di tanah yang memiliki mitos dan sejarah yang sama mistisnya? Yang disaksikan oleh pemakai narkoba yang kita tidak tahu saat itu sedang memakai obat jenis apa? Kau tidak benar-benar mempertimbangkan untuk mempercayai omong kosong semacam itu, bukan?”

Yusuf menggeleng. Hal itu segera ia kesampingkan, lalu Yusuf kembali merenungkan analisis Dika.

Semuanya cocok. Kesaksian Hendrik. Kesaksian Tanto. Kesaksian dan sikap Pak Syarif yang nampak sangat kehilangan. Ternyata bukan hanya kehilangan yang ia tunjukan saat itu, melainkan juga rasa penyesalan. Jika saja Pak Syarif tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Aldi saat itu, ia pasti bersedia meluangkan waktunya. Namun takdir berkata lain. Yang terjadi bukanlah demikian, dan konsekuensi dari hal itu terus menghantui pikiran Pak Syarif.

Dan untuk Aldi..

Yusuf membayangkan dirinya berada pada posisi Aldi. Ia merengut dan menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya mengalami hal serupa. Kehilangan tujuan hidup, kehilangan motivasi hidup. Mungkin ia juga akan mengambil jalan yang..

Yusuf yakin bahwa inilah yang terjadi. Yusuf menatap Dika. Ia mengangguk.

“Setelah meresapi perkataanmu, Ka. Sepertinya kau benar.”

Dika tersenyum manis. Awalnya ia ikut berdiskusi dengan niat untuk membanggakan diri ketika pendapatnya dinilai tepat oleh kedua temannya itu. Namun sekarang ia tidak merasa nyaman untuk melakukan hal tersebut.

Yusuf berpaling pada Alfa yang anehnya masih belum bersuara. “Tinggal mendengar pendapat dari si Alfa ini. Bagaimana, menurutmu Al?”

Wajah Alfa terangkat. “Oh! Maaf Sup, bukan maksudku bersikap misterius. Hanya saja, saat itu aku merasa informasi yang ada tidak cukup untuk mencari tahu kebenaran di balik kasus yang kau hadapi ini. Lalu, pertanyaanku di akhir uraian panjangmu itu, aku minta maaf. ‘Menurutme sendiri bagaimana?’ Tidak sopan bagiku untuk melontarkan pertanyaan seperti itu. Sikapku itu sama sekali tidak sopan, seolah-olah aku tidak mendengarkan uraianmu sama sekali.. Eh, apa?” Menyadari ekspresi kebingungan dari raut wajah temannya, Alfa terhenti.

“Oh, ah, bukan itu yang ingin kau dengar. Maaf, kau bilang apa tadi?” sambungnya dengan polos.

Memanas karena kekesalannya terhadap Alfa, sikap rendah hati yang baru saja singgah itu segera menguap dari dalam diri Dika.

“Yusuf menanyakan pendapat mu soal motif bunuh diri yang baru saja kujelaskan beberapa saat yang lalu!” Katanya kesal.

“Eh, ah. Maaf aku tidak begitu mendengarkan. Aku sedang berpikir. Eh, tunggu sebentar. Tidak, aku mendengarkan, kok. Ya, ya, memang bisa dipahami. Jika motivasi hidup seseorang hancur, kebanyakan memang akan mengambil jalan seperti itu.”

“Nah, kalau begitu kau setuju bahwa ini adalah motif dari perbuatan Aldi. Dan Yusuf bisa menutup kasus ini sebagai kasus bunuh diri.”

“Tidak, tidak. Aku tidak mengatakan aku setuju.”

“Mengapa tidak?!” Tanya Dika dan Yusuf secara bersamaan.

“Err, analisismu secara circumstantial memang nampak kuat, tapi kurang bukti pendukung yang konkret untuk penjelasan motifnya. Dan selain itu, Aku baru saja memikirkan penjelasan lain di balik kasus ini.”

“Maksudmu ada motif bunuh diri yang lain selain yang dijelaskan Dika?”

“Tidak. Malah aku berpikir bahwa kasus ini adalah pembunuhan.”

Dengan alis yang menyatu dan dahi yang sama-sama mengerut, Dika dan Yusuf menatap Alfa penuh tanda tanya.

Selanjutnya..

4 comments on “Motive

  1. Pingback: The Unexpected Guest | Black or White?

  2. Pingback: Trap | Black or White?

  3. Pingback: Again, Motive | Black or White?

  4. Pingback: Last, Conclusion | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s