The Unexpected Guest


Lanjutan dari The Final Day of Investigation – Part 2
Biar ga bingung ini link cerita-cerita sebelumnya..

  1. Suicide ?
  2. The Investigation – Part 1
  3. The Investigation – Part 2
  4. The Investigation – Part 3
  5. The Investigation – Part 4
  6. The Final Day of Investigation – Part 1
  7. The Final Day of Investigation – Part 2

Dibaca berurutan ya, biar ga bingung.. Hehe

***

Warteg Bahari, Selasa 13.45

Setiap orang mungkin tahu, atau setidaknya bisa membayangkan, bagaimana rasanya ketika kita menceritakan hal panjang lebar pada seseorang, sampai mulut kita berbusa, hanya untuk mendapatkan respons “Menurutmu sendiri bagaimana?” dari orang yang mendengarkan. Di kala itu, rasanya untuk mencekik, membanting, dan menendang bokong sang pendengar adalah perbuatan yang wajar. Itulah yang dirasakan oleh Yusuf di akhir uraian kasus bunuh diri yang ia tangani itu.

“Panjang lebar aku..! tak lupa pertanyaan menyebalkanmu di setiap..! … Kau ingin tahu pendapat ku seperti apa?! Kuberi tahu pendapat ku seperti apa! AKU PIKIR..” Mendengar wanita di belakangnya tersedak menahan tawa, Yusuf terhenti dan sadar bahwa tidak ada gunanya untuk melampiaskan amarah. Setelah menenangkan diri, ia menyampaikan pendapatnya mengenai kasus tersebut.

“Oke, ini yang bisa aku sampaikan untuk sekarang. Pertama, aku berkesimpulan bahwa ini kasus bunuh diri berdasarkan dari bukti-bukti di TKP. Namun keberadaan kunci master itu membuatku curiga. Aku tidak begitu banyak membaca cerita detektif, tapi aku ingat satu cerita di mana pembunuh membuat korbannya mati seolah-olah bunuh diri di ruang tertutup. Yang ia lakukan sebenarnya adalah menyimpan kunci di ruang tertutup itu setelah mendobrak pintu. Tapi bukan ini yang terjadi, tidak ada kesempatan bagi siapapun untuk melakukan hal ini. Aku pun membuang pikiran ini jauh-jauh dan memfokuskan pada kasus bunuh diri dan motif di baliknya. Dan akhirnya, tanpa kuduga sebelumnya, aku menemui jalan buntu dalam pencarian motif bunuh diri. Dari informasi yang aku kumpulkan, semuanya setuju bahwa Aldi tidak mungkin bunuh diri. Aku pun memikirkan kembali kesimpulan awalku. Benarkah ini bunuh diri? Lalu aku akhirnya menyadari bahwa bukti-bukti tersebut bisa berarti bunuh diri, bisa juga pembunuhan.”

Yusuf merubah posisi duduk menjadi agak condong ke depan.

“Katakanlah korban dicekik dari belakang dengan tali.” Lanjutnya, “Jika hal ini yang terjadi, maka bukti yang tertinggal pun akan sama. Talinya membekas di leher. Ada bekas kuku. Patahnya kuku. Abrasi pada kaki. Juga menjelaskan leher korban yang tidak patah. Yang dilakukan pembunuh selanjutnya adalah mengikat tali pada palang kayu di langit-langit dan menggantung Aldi seolah-olah ia bunuh diri. Dokter Supandi sendiri bilang bahwa hal ini mungkin dan bukti yang ada memang bisa diinterpretasikan seperti ini, jika kasusnya pembunuhan.”

Alfa yang setengah merenung menatap Yusuf sambil mengangguk-angguk.

“Oke, jadi ini pembunuhan, kataku. Tapi tetap saja aku dibuat mentok meskipun mengganti kesimpulan menjadi pembunuhan. Masalahnya, tetap tidak ada motif. Reputasi Aldi hampir tanpa cela! Terlebih lagi aku tidak bisa menjelaskan keberadaan kunci master di kamar korban. Yang paling logis adalah Aldi mengambilnya untuk mencegah niat bunuh dirinya diganggu oleh Pak Syarif. Jika itu yang terjadi, aku masih tidak bisa menjelaskan motif Aldi untuk bunuh diri. Masalah motif ini terus menghantuiku sampai-sampai aku mulai berpikiran bahwa penjelasan pemilik warung kopi itulah yang paling masuk akal. Dan penjelasannya itu konyol!”

Yusuf berhenti, Alfa masih belum bereaksi.

“Baiklah, kubongkar semua kartuku di meja. Aku tidak bisa menentukan apakah kasus ini bunuh diri dan mengapa. Atau apakah ini pembunuhan; mengapa, siapa dan bagaimana. Aku berbohong soal tersangka yang kucurigai, padahal tidak ada yang kucurigai karena tidak ada yang bisa kucurigai. Karena itu aku menghubungimu, karena kupikir dari semua orang yang kukenal, kau lah yang bisa menjelaskan perkara ini. Kupikir jika kau bisa membantuku menjelaskan misteri kunci master itu, beban pikiranku bisa berkurang dan aku bisa memulai kembali penyelidikan. Lalu apa yang kau lakukan? Kau menutup mulut dan bersikap misterius soal hal itu dan malah memintaku untuk menjelaskan seluruh persoalan kasus, membeberkan setiap bukti beserta keterangan saksi yang kukumpulkan. Aku tidak keberatan melakukan hal tersebut jika nantinya kau dapat membantuku. Tidak, Al, aku tidak keberatan. Tapi setelah membeberkan semuanya padamu sampai mulutku berbusa, apa yang aku dapat, hah?! ‘Menurutmu sendiri bagaimana?!’ Panjang lebar aku menjelaskan dan kau..!”

Tawa wanita di belakang Yusuf meledak. Tubuh Yusuf menegang seperti baru saja disambar petir. Kepalanya yang sudah terlebih dulu memanas, membuat tawa sang Wanita terdengar seperti olok-olok yang menjadi tendangan hebat pada harga dirinya. Tak rela dirinya jadi bahan cemoohan, Yusuf segera membalik badan untuk menegur wanita kurang sopan santun yang satu ini. Di saat bersamaan wanita itu membalikkan badannya sambil meminta maaf.

“Oh, maaf, Sup. Bukan maksudku mengejek, tapi jarang sekali mendengarmu kesal sampai meracau seperti itu. Hai, Alfa bagaimana kabarmu?”

Yusuf kehilangan suara ketika akhirnya ia berhadapan dengan wanita itu. Ia hanya bisa duduk tegak dengan mata melotot terbuka dan mulut yang setengah menganga.

“Baik, Ka. Kudengar dari Yusuf, prestasimu di kepolisian terus bertambah.” Alfa menjawab sapaan wanita berambut pendek itu.

“Lumayan lah.” Jawab Dika, sambil pindah ke bangku di samping Yusuf. “Kau terlihat cukup kaget, Al. Apa kau tidak menyadari saat aku menyelinap ke warteg ini.”

Alfa menggeleng.

“Dika! Kenapa kau bisa berada di sini?” Yusuf akhirnya menemukan suaranya yang sempat menghilang beberapa saat lalu.

Selanjutnya..

N.B.
Baiklah, semua tokoh sudah berkumpul.. Ini berarti bahwa pembaca sudah memiliki semua informasi yang diperlukan untuk memecahakan misteri.. Selamat menganalisis.

5 comments on “The Unexpected Guest

  1. Pingback: The Final Day of Investigation – Part 2 | Black or White?

  2. Pingback: Motive | Black or White?

  3. Pingback: Trap | Black or White?

  4. Pingback: Again, Motive | Black or White?

  5. Pingback: Last, Conclusion | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s