The Final Day of Investigation – Part 2


Lanjutan dari The Final Day of Investigation – Part 1
Biar ga bingung ini link cerita-cerita sebelumnya..

  1. Suicide ?
  2. The Investigation – Part 1
  3. The Investigation – Part 2
  4. The Investigation – Part 3
  5. The Investigation – Part 4
  6. The Final Day of Investigation – Part 1

Dibaca berurutan ya, biar ga bingung.. Hehe

***

Polsek Jatinangor, Senin petang

Yusuf terduduk di meja kerjanya, merenungkan kasus bunuh diri yang ia selidiki. Ia terbangun ketika sebuah ketukan khas terdengar dari pintu ruang kerjanya. Yusuf mendongak ke arah pintu.

Di lawang, berdiri seorang polwan yang memakai jin cokelat dan kaos seragam bertuliskan Polres Sumedang. Polwan berparas cantik dan berambut pendek itu berpangkat Inspektur Dua, bernama Dika.

“Malam, Sup. Kusut sekali wajahmu itu.”

Yusuf mendengus.

Dika menebak, “Pasti sedang memikirkan kasus. Kasus apa memangnya?”

“Bunuh diri.” Jawab Yusuf sambil lalu.

“Ooh, mahasiswa yang menggantung diri di kamar kosnya itu? Ya, aku dengar sedikit dari yang lain.”

Yusuf mengangguk.

Dika bertanya “Serumit itukah? Wajahmu sampai kusut begitu. Apa bukan karena kasusnya dibuat rumit olehmu sendiri, Sup?”

Yusuf melemparkan pandangan masam pada Dika.

“Bercanda, Bos.” Katanya sambil menarik kursi untuk duduk di depan meja Yusuf. “Ada yang perlu kubantu untuk kasusmu itu?”

“Aku tidak ingin merepotkan. Lagi pula, bukankah seharusnya kau pergi merayakan sesuatu. Kudengar tadi kau berhasil menggerebek seorang pengedar bersama sejumlah pemakai.” Yusuf segera mengalihkan pembicaraan.

“Tidak ada yang istimewa. Hanya seorang pengedar yang masih hijau yang dengan bodohnya mengadakan pesta narkoba di rumah kontrakannya.”

“Di Jatinangor ini?”

“Tak perlu heran seperti itu. Justru di daerah yang banyak populasi pemuda dan mahasiswa inilah yang jadi target utama para pengedar.”

Tentu saja, kenapa aku ini? Yusuf berbisik dalam hati.

Dika menjelaskan, “Pengedar yang satu ini mencoba menggaet langganan baru dengan mengadakan pesta narkoba di kontrakannya itu. Usaha bodohnya ini membuatnya tercium oleh intel dari BNN. Setelah mendapat informasi dari intel itu, kami dari satuan anti narkoba (bersama BNN) membentuk regu untuk menggerebek dan menangkap mereka. Hasilnya regu kami berhasil menangkap delapan orang calon pecandu baru plus si pengedar kelas teri. Sekitar empat ratus gram narkoba jenis cocaine dan methampethamine dikumpulkan untuk barang bukti. Sebagian kecil sisa konsumsi dan sebagian besarnya disembunyikan di antara lipatan baju di lemari pakaian.”

Yusuf berkomentar “Ceroboh sekali.”

Dika berkata, “Sangat. Bahkan si pengedar ini juga ikutan mengonsumsi barang jualannya. Ckck. Aturan nomor satu pengedar : jangan mengonsumsi produkmu sendiri.”

“Untunglah kecerobohannya menuntun pada keberhasilanmu. Selamat, Ka.” Yusuf menyelamati Dika.

Dika tersenyum lemah, “Meskipun begitu, kasus ini masih belum tuntas seratus persen. Gembongnya masih belum tercium sama sekali. Yang berhasil ditangkap baru-baru ini hanyalah pengedar yang berada pada lingkaran paling luar. Selain desas-desus tentang barang ini adalah barang lokal, mereka tidak tahu banyak, bahkan penyalur yang menyuplai barang dagangan pun mereka tidak tahu rupanya seperti apa. Yang kuhadapi kali ini, Sup, adalah orang-orang yang lebih cerdik daripada yang kukira.” Dika mendesah panjang.

Yusuf tidak tahu harus memberikan respons seperti apa dan ia memilih untuk diam. Untung bagi Yusuf, sikap yang diambilnya itu adalah pilihan yang tepat, Karena yang dibutuhkan Dika adalah sepasang telinga untuk mendengarkan, bukan mulut untuk menggurui.

“Yah, terima kasih sudah mendengar keluhanku. Semoga kau berhasil membongkar kasus yang sedang kau tangani itu.” Dika bangkit dari kursi dan beranjak dari ruangan Yusuf, “Dan jika kau butuh bantuan, kau bisa hubungi aku.” Tambahnya sambil tersenyum penuh percaya diri.

Yusuf tertawa, dalam hati ia berkata, “Tidak, terima kasih, Nona.”

Sekepergian Dika, pikiran Yusuf kembali bergolak memikirkan kasus yang ia hadapi.

Setiap perbuatan pasti memiliki motif, apapun perbuatan itu, pikirnya. Baik itu pencurian dikarenakan kondisi ekonomi yang kurang, perampokan dikarenakan kebutuhan uang untuk membeli obat bagi yang kecanduan, atau bahkan pembunuhan dikarenakan rasa sakit hati yang dipendam.

Tapi dalam kasus yang sedang ditanganinya kali ini, Yusuf tidak mendapatkan satu pun petunjuk atau arahan yang menunjukkan motif dibalik bunuh dirinya Aldi. Bagian kecil dari dirinya pernah memberikan celetukan, jika memang tidak ditemukan motif untuk bunuh diri, apakah mungkin peristiwa yang menimpa Aldi bukan merupakan bunuh diri.

Klik. Sebuah gagasan terlintas di benak Yusuf.

Dengan gerakan yang cepat Yusuf meraih gagang telepon. Ada sesuatu yang harus ia konfirmasikan pada seseorang. Panggilannya terjawab oleh sebuah suara yang berat dan tidak karuan.

“Mlekum.. Lo.. ni.. ngan. pa..?” (Assalamualaikum, Halo ini dengan siapa?)

“Waalaikum salam. Malam, dok. Maaf mengganggu, ini saya Iptu Yusuf.”

“Oh.. Itu (Iptu)..Sup (Yusuf)! Ada apa malam-malam menelepon?” Suara dokter Supandi mulai terdengar jelas.

“Maaf, dok. Saya membangunkan ya?”

“Tidak. Tidak. Jam segini masih belum masuk jam tidur saya. Cuman tadi saya, hum, sedang membaca buku lalu, hum, ketiduran. Ada perlu apa memang?”

“Begini dok..” Yusuf mengutarakan rasa penasarannya.

Setelah mendengarkan dengan seksama Dokter Supandi berkata, “Polisi yang cerdas memang kau ini, nak! Ya, jika hal itu yang terjadi buktinya juga cocok.”

Yap! Buktinya cocok! Pikir Yusuf.

“Kau sudah menemukan motifnya juga kalau begitu?”

Motif?

“Dan soal kunci itu. Kalau investigasimu pindah haluan jadi pembunuhan kau harus menjelaskan persoalan kunci itu bukan? Misteri ruang tertutup, seperti di cerita-cerita detektif.”

Bicara Yusuf tersendat-sendat, “O-oh, kedua hal itu masih saya selidiki dok.”

“Begitu.. Hum hum..  Baiklah, semoga berhasil. Dan tolong kabari Bapak jika kau sudah  mendapat penjelasannya.”

“Baik, dok. Terima kasih. Maaf mengganggu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Dokter Supandi menutup panggilan.

Yusuf mengembalikan gagang telepon, kali ini dengan gerakan yang lambat dan kurang bersemangat. Raut wajahnya yang semula terlihat cerah pun kini berubah muram.

Buktinya memang cocok. Tapi.. Argh!

Motif! Bunuh diri tapi tak ada motif! Pembunuhan juga tak ada motif! Satu, Induk semang yang sudah seperti ayah. Dan dua, kedua teman satu kos yang sama-sama mengagumi sosok Aldi, sang korban.

            Hendrik           : tugas jaga di rumah sakit, namun di malam Hendrik tugas jaga tidak ada keluhan pasien sama sekali

            Tanto               : bermain internet di kampus. penjaga di pintu utama mengonfirmasi kedatangan Tanto, setelah itu sendirian di gazebo fisika

            Pak Syarif        : setelah bertemu dengan Aldi pukul setengah 10 malam, pergi tidur sampai pukul setengah lima

Alibi ketiganya memang tidak kuat. Meskipun begitu.. Tidak! Motif, Sup! Mana motifnya?! Juga soal kunci master itu. Kau masih belum bisa menjelaskannya!

Waktu berlalu begitu cepat, Yusuf tidak sadar bahwa sudah hampir satu jam ia duduk tepekur di meja kerjanya. Untunglah seseorang datang dan mengetuk daun pintu untuk menyadarkannya dari dalam alam pikiran.

“Maaf, Ndan.”

Yusuf segera menoleh ke sumber suara dan mengenali Briptu Ujang berdiri di lawang pintu.

“Masuk, Jang. Ada apa?”

Ujang mendekat dan menjelaskan, “Ini soal Ipda Dika, Ndan.”

“Dika?! Kenapa Dika?! Apa yang terjadi?”

“Anu.. Ipda Dika sendiri tidak apa-apa. Hal ini lebih tepatnya menyangkut soal tahanan yang baru saja ditangkap oleh Ipda Dika. Ipda Dika menyuruh saya menceritakannya pada Komandan.”

Yusuf bersedekap, menunggu penjelasan lebih lanjut.

“Begini, Ndan, Ipda Dika dan regunya dari Polres beberapa jam yang lalu berhasil menggerebek pesta narkoba di salah satu rumah kontrakan.”

“Aku tahu soal itu.”

Ujang mengangguk, “Beberapa dari tahanan yang ditangkap, saya dengar, masih dalam keadaan tidak sadar saat penggerebekan dan baru sadar ketika sudah berada dalam tahanan. Singkatnya, salah satu dari tahanan yang baru saja sadar itu, dan mungkin baru sadar bahwa ia berada dalam tahanan, berteriak histeris. Katanya ia tidak ingin dipenjara. Lalu tanpa alasan yang jelas ia berteriak ke penjaga dan mengatakan bahwa ia ingin membuat kesepakatan. Katanya ia punya informasi untuk polisi yang ingin ia tukar dengan kebebasannya. Penjaga yang risih lalu membuka sel untuk.. Eeu, mendiamkannya. Tapi si tahanan itu terus bersikukuh dan ia mengatakan bahwa informasinya berguna untuk kasus yang sedang ditangani polisi. Kasus yang dibicarakannya itu, anu, kasus bunuh dirinya Aldi.”

Yusuf terbelalak.

“Pada saat itu kebetulan Ipda Dika, yang hendak mengecek tahanan, mendengarnya. Ia menginstruksikan penjaga untuk membiarkan tahanan itu bicara. Lalu, Ipda Dika mengatakan akan mendengarkan informasi yang ditawarkan, baru nanti berbicara soal kesepakatan.”

Yusuf menyengirkan giginya. Si Dika ini memang..

“Si tahanan menanyakan tempat kos korban bunuh diri, untuk memastikan katanya. Lalu ia mulai menjelaskan. Sabtu dini hari, sekitar pukul satu, sehari sebelum kejadian bunuh diri Aldi, ia berjalan melewati kompleks itu. Ipda Dika menyela untuk bertanya sedang apa si tahanan berjalan waktu malam. Jawabannya tidak karuan. Tapi..”

“Bisa dengan mudah ditebak.” Kata Yusuf.

Ujang mengiakan, “Ketika ia melewati persimpangan jalan langkahnya terhenti.”

“Simpang tiga di depan warung kopi?” tanya Yusuf.

Ujang mengangguk, “Saat itu ada sesuatu yang menarik perhatiannya, dari jalan menanjak di sebelah kiri yang menuju ke arah kosan. Ia mengatakan bahwa saat ia melihat ke kosan, ada asap tebal dari bagian samping kosan. Dari arah tempat laundry. Lalu ia penasaran dan memerhatikan asap itu, hingga akhirnya ia melihat sesuatu yang mengerikan yang membuatnya lari ketakutan. Katanya, asap itu merebak dari depan tempat laundry dan tiba-tiba saja dari tengah-tengah asap yang tebal itu muncul sesosok makhluk kuning besar. Jin kuning, ia menyebutnya.”

Yusuf menahan nafas.

“Hal ini lantas saja mengundang reaksi tahanan lain yang langsung tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya. Ipda Dika, yang tersulut emosinya, langsung berbalik dan meninggalkan si tahanan. Di belakang, si tahanan memanggil-manggil Ipda Dika, dan di saat yang bersamaan lampu ruang tahanan megerjap-ngerjip, nyala-mati-nyala-mati, lalu suara panggilan si tahanan berubah menjadi tersedak-sedak dan ia jatuh terkapar sambil kejang-kejang. Gelak tawa tahanan lain dengan sekejap berhenti menjadi sunyi.” Ujang menceritakan layaknya seorang narator dongeng.

“Apa yang terjadi? Tahanan itu meninggal? Overdosis?”

Ujang menggeleng, “Serangan epilepsi. Beruntung Ipda Dika cekatan dalam melakukan pertolongan pertama, kalau tidak, mungkin nyawa tahanan itu tidak tertolong. Si tahanan itu lalu dibawa ke rumah sakit dan sekarang sekarang dalam perjalanan.”

Yusuf merasakan nyeri di antara kedua alis matanya. “Menurutmu apakah informasi ini berguna?” tanyanya sambil mengurut bagian keningnya yang sakit itu.

Ujang mengelus dagu, “Melihat sikapnya yang bersikukuh, saya sendiri tidak berpikir bahwa tahanan itu bercanda. Saya pikir ia serius. Dan bisa jadi ia serius karena ia pikir malam itu ia melihat penampakan sesuatu, padahal yang ia lihat hanyalah halusinasi.”

“Tapi, mengapa ia pikir hal itu bisa membantu membantu pemecahan kasus. Apa dia berpikir bahwa jin itu yang..” Yusuf segera teringat percakapannya dengan pemilik warung makan.

Brak! Yusuf menggebrak meja. Ujang terkesiap.

“Ndan?”

“Astagfirullah Ujang, dosa apa aku ini. Pertama kasus bunuh diri yang pelakunya tidak mungkin melakukan bunuh diri karena tak ada motif baginya untuk bunuh diri. Jika pun ini pembunuhan apa pula motifnya. Lalu ini, cerita soal jin dari pemakai narkoba yang punya penyakit ayan!”

Yusuf membenamkan wajah pada kedua tangannya.

“Terima kasih Jang, untuk informasi baru ini.” Yusuf berkata, tak sadar bahwa rasa frustrasi membuat nada bicaranya terdengar agak sinis. “Terima kasih, kembali ke tempat.” Koreksinya dengan intonasi yang diperbaharui.

Ujang dengan perasaan tidak karuan pergi meninggalkan ruangan atasannya.

Yusuf menggelengkan kepala. Ia menyerah. Tidak ada yang masuk akal dalam kasus yang ditanganinya ini. Yusuf kembali memikirkan ucapan si pemilik warung kopi asal Ciamis.

“Penjelasan nu paling masuk akal mah, èta  tanah kos-kosan tèh memang angker. Terus arwah orang Belanda nu mati secara tragis èta, Mr.Coen, nyurup ka cèp Aldi nuntun cèp Aldi sampe bunuh diri.”

Mungkin Aldi memang dirasuki oleh arwah Mr. Coen yang mati secara tragis itu. Arwah Mr. Coen mewujudkan diri dalam sosok yang disebut jin kuning oleh si pemakai, sehari sebelumnya kemudian membawa Aldi mati di keesokan harinya…

Absurd! Pikir Yusuf. Tapi hanya itu yang bisa terpikirkan olehnya!

Merasa bahwa tidak ada gunanya lagi untuk memikirkan kasus tersebut, Yusuf dengan segera mengosongkan pikiran. Sorot matanya berpindah dari meja kerja ke langit-langit, punggungnya menyandar pada sandaran kursi, kedua lengannya menempel pada dudukan lengan. Yusuf menarik nafas panjang.

Mungkin aku memang membutuhkan bantuannya kali ini.

Tak lama berselang Yusuf merogoh telepon genggamnya. Ia mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang. Saat hendak memijit tombol kirim Yusuf merasa ragu, namun tuntutan situasi membuatnya mengirim pesan tersebut. Lima menit kemudian telepon genggam Yusuf bergetar, sebuah pesan baru muncul di kotak masuknya.

            “Besok, siang hari, di Warteg Bahari depan kantor Kecamatan.”

Selanjutnya..

6 comments on “The Final Day of Investigation – Part 2

  1. Pingback: The Final Day of Investigation – Part 1 | Black or White?

  2. Pingback: The Unexpected Guest | Black or White?

  3. Pingback: Motive | Black or White?

  4. Pingback: Trap | Black or White?

  5. Pingback: Again, Motive | Black or White?

  6. Pingback: Last, Conclusion | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s