The Final Day of Investigation – Part 1


Lanjutan dari The Investigation – Part 4
Biar ga bingung ini link cerita-cerita sebelumnya..

  1. Suicide ?
  2. The Investigation – Part 1
  3. The Investigation – Part 2
  4. The Investigation – Part 3
  5. The Investigation – Part 4

Dibaca berurutan ya, biar ga bingung.. Hehe

***

Polsek Jatinangor, Senin 09.00

“Jadi, bagaimana hasil otopsi dari jenazah Aldi?”

“Siap, Ndan. Otopsi yang dilakukan oleh dr. Supandi mengonfirmasi kematian Aldi sebagai bunuh diri. Hal ini dilihat dari bekas tali di leher yang tertarik sampai ke bagian lekang telinga yang konsisten dengan kematian oleh gantung diri.

“Ketika menjatuhkan diri, tali akan menegang dan melilit leher di bagian tengah. Lalu tubuh tergantung yang terus menerus ditarik oleh gravitasi itu membuat si korban melorot sehingga lilitan pada lehernya bergeser ke bagian belakang telinga. Itu yang dijelaskan dr. Supandi pada saya semalam.”

Yusuf hampir terbelalak jika bukan karena kalimat terakhir itu. Sejak kapan Ujang jadi sepintar ini, pikirnya tadi.

“Potongan kuku itu?”

“Cocok dengan kuku kelingking kiri korban. Untuk bekas kuku di leher dan abrasi pada kaki, dr. Supandi bilang hal itu juga cocok dengan analisis Komandan di TKP.”

Yusuf mengangguk, “Bagaimana dengan perkiraan waktu kematiannya?”

“Menurut dr. Supandi, Aldi diperkirakan meninggal sekitar pukul 1-2 dini hari. Sekitar 3-4 jam sebelum ditemukan oleh Pak Syarif dan Hendrik.”

Yusuf mengangguk pelan.

“Lalu soal pendapat warga mengenai pribadi Aldi. Apa yang mereka katakan?”

“Kebanyakan dari mereka mengatakan hal yang sama. Mereka menyukai Aldi. Aldi orangnya positif. Ia selalu membawa ketentraman pada sekelilingnya. Pengamatan mereka terhadap Aldi sebulan terakhir ini tidak menunjukan gerak-gerik yang tidak biasa. Mereka yakin Aldi tidak sedang dirundung masalah. Saya bertanya pada teman kampusnya. Mereka mengatakan hal yang sama, terakhir kali mereka bertemu dengannya, Aldi biasa saja. Tidak ada permasalahan yang sedang Aldi hadapi.”

“Kesimpulannya, tidak ada yang bisa membayangkan mengapa ia bunuh diri?”

“Betul, Ndan.”

“Tidak adakah orang yang tidak menyukai Aldi?” Tentu saja tidak, pikir Yusuf. Jawaban yang ia dapatkan, tanpa Yusuf sangka-sangka, membuatnya terperanjat.

“Ada beberapa, Ndan. Sekelompok pemuda yang saya tangkap tidak terlalu menyukai Aldi. Terlalu sempurna, kata mereka.”

Alis Yusuf terangkat. “Apa mungkin mereka yang..? Siapa mereka itu?”

“Pemuda sekitaran. Warga asli. Umur dua puluhan. Tidak kuliah.”

“Pengangguran?”

Ujang, “Wiraswasta. Mereka bilang punya bisnis batu akik.”

“Bagaimana kesanmu pada mereka?”

“Saya rasa mereka tidak ada hubungannya dalam perkara ini. Saya tidak memberitahukan perihal kematian Aldi di awal wawancara saya. Saat saya memberitahu mereka, mereka cukup terkejut mendengarnya. Mereka tidak tahu Aldi telah bunuh diri Mereka juga langsung menarik kembali perkataan mereka yang bernada agak sentimen terhadap Aldi. Sepertinya karena takut akan dicurigai.”

“Alibi?”

“Sudah saya cek. Mereka berada di Garut sampai kemarin malam. Mencari batu akik. Tidak mungkin mereka bisa..”

Yusuf segera menyela, “Ya, walaupun alibi mereka palsu bagaimana cara mereka membunuh Aldi? Jika ini pembunuhan.” Jelas-jelas ini bunuh diri, tambah Yusuf dalam hati.

Ujang masih terduduk tegak selama tiga menit di depan Yusuf yang tepekur mengurut alis.

Tidak, bisik Yusuf dalam hati. Apa yang kupikirkan. Tentu mereka tidak ada hubungannya. Perasaan sentimen mereka semata-mata karena rasa iri pada Aldi yang nampak sempurna dibanding mereka yang (mungkin) banyak kekurangan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya mereka mengakui pribadi Aldi yang sempurna itu, namun rasa gengsi membuat mereka bersikap sebaliknya. Mereka juga terkejut saat mendengar Aldi tewas bunuh diri, artinya mereka benar-benar tidak menyangka Aldi bisa melakukan perilaku drastis seperti itu.

Lalu progres apa yang Yusuf dapatkan dari laporan Ujang ini? Tidak ada. Tidak ada yang menunjukkan motif. Bahkan yang sedikit sentimen pada Aldi mengatakan demikian. Lantas mengapa Aldi bunuh diri?

Yusuf menghela nafas, “Kerja bagus, Jang. Selanjutnya selidiki panti asuhan yang mengurus Aldi. Untuk mengetahui motif bunuh dirinya, kita harus menggali lebih dalam lagi seperti apa pribadi Aldi sesungguhnya.”

“Baik, Ndan.” Ujang bangkit, memberi hormat, lalu permisi untuk melaksanakan tugasnya.

Yusuf sendiri bangkit dan beranjak kembali ke kosan Pak Syarif.

***

Pondok Netherland, Senin 09.45

Yusuf tiba di Pondok Netherland sekitar pukul sembilan lewat empat-puluh menit. Pak Syarif yang telah diberi kabar oleh Yusuf akan kunjungannya itu sudah menunggu di teras bangunan sebelah kiri yang menjadi rumah kediamannya.

Yusuf segera digiring masuk ke ruang tamu dan disuruh menunggu selagi Pak Syarif pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan. Yusuf memperhatikan kondisi psikologis Pak Syarif sudah agak mereda dibandingkan kemarin. Namun tetap saja, perasaan syok dan kehilangan itu masih tersisa sedikit dalam penampilannya.

Yusuf berkeliling ruang tamu sederhana untuk melihat-lihat perabot. Ia melihat sertifikat akademis Pak Syarif pada masa kuliah yang digantung di tembok sebelah kanan. Gelar yang didapatnya adalah Doktorandus disingkat Drs.

Yusuf berpikir. Mengingat jurusan yang diambilnya pada masa kuliah dulu, mungkin jika Pak Syarif baru meraih gelar di zaman sekarang, gelar yang ia dapat adalah S.Si.

Dari tembok kanan, Yusuf kemudian beranjak ke lemari bufet di sebelah kirinya. Ia melihat-lihat plakat-plakat penghargaan dan foto-foto hitam putih yang ada di sana.

“Silakan duduk Pak Yusuf.” Ujar Pak Syarif yang keluar dari dapur sambil membawa teh untuk disuguhkan.

Yusuf segera mengambil posisi di sofa, berhadapan dengan Pak Syarif yang kemudian duduk di seberangnya. Yusuf membuka buku notesnya, memegangnya dengan tangan kiri sedang tangan kanannya sudah siap dengan sebuah bolpoin.

“Kedatangan saya di sini, Pak Syarif, adalah sebagai tindak lanjut terhadap penyelidikan kematian Aldi. Saya harap keterangan dari Bapak bisa memperjelas permasalahan motif yang masih menjadi misteri. Saya kira Bapak mengerti itu semua?”

“Saya mengerti Pak Yusuf.”

“Baiklah, saya mulai. Bulan yang lalu Aldi sudah menyelesaikan sidang, ia sudah tidak memiliki kewajiban apa-apa lagi di kampus, tinggal menunggu wisuda. Pekerjaan sudah ia dapatkan, tinggal menunggu keluarnya ijazah. Singkatnya, selama sebulan terakhir ini Aldi memiliki waktu luang, dan ia menghabiskannya di kosan.”

Pak Syarif mengangguk.

“Apa Bapak tahu alasan tertentu yang membuat Aldi memilih tinggal di kosan? Apa bukan karena ada masalah atau apa?”

“Anda keliru, Pak Yusuf. Saya sudah menanyakan pertanyaan seperti ini pada Aldi tiga Minggu yang lalu. Aldi mengatakan bahwa ia sukarela melakukan hal itu untuk menjaga keamanan kosan. Dia mengatakan bahwa kali ini hampir semua kamar kosong. Sebagian penghuni kamar pulang, sebagian laginya melaksanakan KKN. Yang tersisa hanya Aldi, Tanto, dan Hendrik. Kecuali Aldi, yang dua itu tidak begitu sering tinggal di kosan. Aldi takut jika kosan tidak ada yang menunggui akan ada tangan jahil yang mencuri barang yang ditinggal penghuni kamar.”

“Apa anda tidak mempekerjakan satpam, atau  keamanan untuk menunggu kos.”

“Ada memang, seorang yang sering saya panggil untuk menjaga keamanan. Kang Maman. Saya sudah berniat memanggilnya, tapi Aldi bilang tidak usah. Biar ia saja yang menjaga keamanan.”

“Jadi Aldi tinggal untuk menjaga keamanan kosan?”

“Ya, seperti itu Pak Yusuf.”

“Baiklah. Selama sebulan terakhir ini, Bapak sering berinteraksi dengan Aldi? Mengobrol? Dan semacamnya?”

“Tentu saja. Kenapa memangnya Pak Yusuf?”

“Nah, dalam interaksi itu. Apa Bapak mengamati ada gerak-gerik aneh pada diri Aldi.”

Pak Syarif mengingat-ingat lebih dulu. “Sepengamatan saya, sikap Aldi biasa saja.”

“Tidak ada yang mencurigakan? Di luar kebiasaan Aldi? Jarang keluar kamar? Mengurung diri? Bicara yang tidak-tidak? Hal-hal seperti itu?”

“Tidak ada, Pak Yusuf. Aldi bersikap seperti biasanya. Maaf, tapi sepertinya kecurigaan anda salah.”

“Hmm.. Apakah Bapak tahu Aldi sedang dirundung masalah?”

“Masalah? Aldi punya masalah apa, Pak Yusuf?”

“Begini, maksud saya, apakah Bapak mencurigai ada masalah tertentu yang ditutupi Aldi? Hubungan Anda berdua sangat dekat, jadi saya kira kalau Aldi punya masalah, Bapak adalah orang yang pertama mencurigai adanya masalah itu.”

Pak Syarif menggeleng, “Tidak, Pak Yusuf. Saya tidak mencurigai apapun. Dan saya yakin Aldi sedang tidak dirundung masalah.”

Pulpen yang menari-nari di notebook Yusuf berhenti bergerak. “Baiklah. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak sedang dirundung masalah.” Mengapa setiap jawaban yang kuterima selalu mengantarkanku pada jalan buntu? Pikirnya.

Yusuf mengambil nafas dalam-dalam. “Selanjutnya, Pak Syarif. Hari Sabtu kemarin anda pergi keluar, boleh saya tahu ke mana?”

“Ke Bandung Pak Yusuf, ke DU. Mengunjungi rekan bisnis laundry di sana.”

“Oh, ya. Bisnis laundry. Bunker C&W.” Yusuf menunjuk pada deretan kunci yang tergantung di dinding sebelah kirinya. “Dinamai berdasarkan mitos saya kira?”

“Anda sudah mendengar mitos itu?”

“Sayangnya, sudah. Kembali lagi ke pertanyaan. Setelah mengunjungi rekan bisnis, Bapak tiba kembali di kediaman, di sini, pukul berapa?”

“Sekitar pukul setengah sepuluh. Jika boleh tahu untuk apa anda bertanya?”

“Sebentar, Pak. Kemarin, saya dengar dari Tanto dan Hendrik, pada hari Sabtu itu Aldi nampaknya ingin bertemu dengan anda. Apa Bapak bertemu dengannya?”

“Ya, saya bertemu dengannya.”

“Apa yang dibicarakan Aldi pada Anda saat itu?”

“Maaf?”

“Saya pikir apa yang ingin dibicarakan Aldi malam itu bisa memberikan pencerahan terhadap motif di balik perilaku bunuh diri Aldi. Jadi?”

Tatapan pak Syarif bergetar. Kepalanya menunduk.

“Tidak ada.” Jawabnya pelan.

Yusuf tersentak,  “Maaf. Jika telinga saya tidak salah anda barusan bilang tidak ada? Maksud anda tidak ada?”

Pak Syarif masih terlihat goyah. Nampak baginya susah sekali untuk membuka mulut. “Saya tak sempat berbicara dengannya, Pak Yusuf. Saat  itu saya terlalu capek. Saya bertemu dengannya, namun saya memintanya agar berbicara besok saja. Saya langsung pergi ke kamar dan tidur. Aldi juga langsung pergi ke kamarnya, saya kira. Apa menurut anda yang akan dibicarakan Aldi itu berhubungan dengan..?”

Yusuf segera menyela, “Saya tidak tahu. Bisa penting. Bisa saja hal sepele. Kemungkinan besar bukan hal penting. Lupakan saja pertanyaan saya tadi.”

Pak Syarif mengangguk lemah. Pandangannya masih terpaku pada Yusuf, membuat Yusuf merasa tidak sangat enak. Ia berdeham.

“Saya ada beberapa pertanyaan lagi mengenai Aldi, Pak. Dan saya minta maaf jika pertanyaan yang saya ajukan nanti akan mengundang perasaan tidak enak, pada Bapak. Bapak bersedia?”

Pak Syarif mengangguk kecil, menunjukkan ia bersedia.

“Baiklah. Sebelumnya, saya terima tehnya Pak.”

“Silakan”

Tangan Yusuf mengambil teh yang dihidangkan di depannya. Baiklah, Sup. Kali ini kau harus hati-hati memilih kata, jangan sampai mengundang perasaan tidak enak pada tuan rumah yang baik ini. Jaga lidahmu! Katanya dalam hati.

“Bapak pertama kali bertemu dengan Aldi di sebuah warung makan, saya dengar?”

“Ya.”

“Lalu Bapak menawarkan sebuah kamar kos secara percuma pada Aldi, setelah anda berdua membicarakan masa lalu Aldi? Bapak trenyuh pada kisahnya?”

Pak Syarif mengangguk.

“Kalu boleh saya tahu, bisakah Bapak ceritakan kembali kisah masa lalu Aldi kepada saya? Apa yang membuat anda trenyuh?”

Pak Syarif menghela nafas sebelum berbicara, “Kisah Aldi sangat tragis, Pak Yusuf. Aldi dulunya menjalani hidup bahagia bersama dengan kedua orang tuanya. Aldi mengatakan bahwa kehidupan bersama orang tuanya sangatlah tenteram. Bisa dikatakan keluarga Aldi saat itu adalah keluarga yang model, patut dicontoh. Tapi naasnya, di umurnya yang baru tujuh tahun, orang tua Aldi mengalami kecelakaan. Rem mobil yang mereka kendarai, oblong sehingga menabrak pohon. Pada saat itu Aldi berada di sekolah dan ayah ibunya berniat menjemputnya.

“Kecelakaan itu berakibat fatal. Nyawa kedua orang tua Aldi tidak bisa diselamatkan. Aldi pun ditinggal sebatang kara.”

“Tidak ada sanak saudara dari ayah atau ibunya?”

Pak Syarif menggeleng, “Tidak ada. Mereka berdua anak tunggal. Sedang kakek-nenek Aldi dari ayahnya sudah meninggal semua. Dan dari ibunya hanya ada seorang nenek yang sudah pikun dan tinggal di panti jompo.

“Tidak ada tempat untuk bertumpu bagi Aldi. Ia akhirnya masuk ke sebuah panti sosial. Panti asuhan.” Pak Syarif menundukkan pandangan. Matanya terlihat kosong.

“Tapi bagaimanapun juga, Aldi tidak terpuruk dalam nasib buruknya itu. Ia tumbuh jadi anak yang periang, suka membantu teman sepanti. Bahkan setelah mengobrol dengan salah satu pengurus panti, Aldi disebut-sebut sebagai “pemimpin”  di antara anak panti. Ia selalu memberikan pengaruh yang positif bagi anak-anak yang lain. Membuat suasana di sana tidak kelam, bahkan terasa nyaman.”

“Benar-benar patut dicontoh.”

“Bukan begitu?” Yusuf menangkap sedikit kebanggaan pada nada suara Pak Syarif, “Umur tujuh belas ia keluar dari panti dan sudah mandiri. Ia kerja sebagai loper koran. Serabutan sana-sini. Tapi meski bekerja di usia relatif muda, Aldi juga tidak mengesampingkan pendidikannya. Aldi ingin mengenyang pendidikan tinggi. Umur dua puluh setelah ikut ujian paket C, Aldi masuk universitas dan mendapatkan beasiswa sampai lulus. Apa Anda percaya bahwa tekad dan kemauan kuat dapat mengantarkan Anda pada tujuan, Pak Yusuf? Dulu, saya tidak percaya. Tapi Aldi meyakinkan saya dengan kisah perjalanan hidupnya itu. Sungguh, benar-benar kuat tekadnya. Selalu berjuang. Selalu bersikap positif. ”

Pak Syarif tersenyum, menunjukkan rasa bangga seolah-olah yang dibicarakan adalah anaknya sendiri. Namun, Yusuf perhatikan,  senyuman itu tidak berlangsung begitu lama.

“Seandainya kedua orang tua Aldi masih hidup, mereka pasti akan bangga padanya. Bapak sendiri, apa Bapak memiliki anak?”

Yang ditanya terloncat kaget, “Kenapa tiba-tiba Anda menanyakan itu?!”

“Oh, tidak. Saya tadi melihat-lihat foto di lemari bufet itu. Ada foto seorang anak kecil dipangkuan Bapak. Saya kira itu anak Bapak.”

Pak Syarif terdiam cukup lama, “Ya, itu anak saya. Setidaknya saya masih menganggapnya sebagai anak. Untuk dia sendiri, saya tidak tahu apakah dia masih menganggap saya sebagai ayahnya.”

Mendengar hal itu, Yusuf tertegun.

“Maaf, Pak Yusuf, jika perkataan saya sebelumnya bernada kasar. Hanya saja, saya tidak nyaman membicarakan hal ini. Singkatnya enam tahun lalu saya bercerai. Anak saya ikut mantan istri saya. Mereka.. membenci saya.”

Yusuf mengangguk dengan prihatin. Setelah menunggu jeda beberapa saat, ia berkata.  “Setidaknya, Bapak memiliki Aldi.”

Pak Syarif menjawab dengan lemah, “Anda benar. Saya memiliki Aldi.. Aldi.. Saya..” Suara Pak Syarif menghilang. Tangannya bergetar. Tak lama, air matanya pun mengalir.

Yusuf segera pamit setelah kejadian itu. Melihat Pak Syarif yang masih sangat terpukul, masih dirundung rasa kehilangan yang amat sangat, Yusuf benar-benar merasa tidak enak. Apalagi tadi ia sudah berjanji untuk menjaga lidahnya.

Bagaimana kau ini Sup, bukankah tadi kau berjanji tidak akan mengatakan hal yang mengundang perasaan tidak enak pada Pak Syarif? Gerutu Yusuf pada dirinya sendiri.

Yah. Tapi setidaknya, usaha Yusuf kali ini telah berhasil mengungkapkan masa lalu Aldi.

Di luar Yusuf merogoh telepon genggamnya, “Halo, Jang? Sudah kau wawancara pihak panti asuhan itu? Belum? Tapi, hari ini juga selesai bukan? Baiklah, kalau sudah, segera melapor padaku di kantor.”

Setelah mendengar kesanggupan Ujang, Yusuf mengakhiri panggilan. Sekarang ia kembali ke Polsek untuk memikirkan kasus yang ditanganinya ini.

***

Polsek Jatinangor, Senin 15.05

Ujang tiba di Polsek sekitar pukul tiga sore. Ia segera memasuki ruangan Iptu Yusuf untuk melaporkan hasil wawancaranya dengan pihak panti asuhan.

“Jadi?” tanya Yusuf dari balik meja kerjanya.

Briptu Ujang langsung menjelaskan hasil wawancara tersebut.

Yusuf duduk termangu. Ia mendengarkan Ujang secara sambil lalu. Sama sekali tidak ada yang baru. Laporan dari Ujang hanya mengonfirmasi apa yang dikatakan pak Syarif.

Pikiran Yusuf mengawang-awang.

Dua hari sudah berlangsungnya penyelidikan.

Namun masih belum ada juga titik terang.

Selanjutnya..

7 comments on “The Final Day of Investigation – Part 1

  1. Pingback: The Final Day of Investigation – Part 2 | Black or White?

  2. Pingback: The Unexpected Guest | Black or White?

  3. Pingback: The Investigation – Part 4 | Black or White?

  4. Pingback: Motive | Black or White?

  5. Pingback: Trap | Black or White?

  6. Pingback: Again, Motive | Black or White?

  7. Pingback: Last, Conclusion | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s