The Investigation – Part 3


Tahapan investigasi tak lama lagi akan selesai..
Semoga saya bisa menggarapnya dengan cepat. Dan untuk pembaca, semoga sabar dalam menunggu kelanjutannya..😀
For improvements in future story (obscure detail, contradicting fact, or maybe writing style), please leave your opinions in the comment section, thank you.. ^^

Sebelumnya..

“Saya tiba di kosan sekitar setengah enam pagi dan mendapati Pak Syarif beserta Hendrik duduk di ruang tengah. Suasana saat itu terasa berat, saya lantas curiga telah terjadi sesuatu dan Hendrik, sebelum saya sempat bertanya, mengisyaratkan saya untuk duduk di samping Pak Syarif lalu menjelaskan kepada saya apa yang telah terjadi. Saya terkejut dan tidak percaya. Aldi bunuh diri? Tidak mungkin, saya pikir. Lalu saya mengatakan ingin pergi ke atas untuk melihat dengan mata kepala saya sendiri, namun Hendrik menjelaskan bahwa sebaiknya saya menunggu di ruang tengah sampai polisi datang. Kemudian saya pergi ke kamar sebentar, kamar saya berada di jajaran kamar sebelah kanan dari pintu masuk. Saya menyimpan tas laptop, mencuci muka, dan kembali menunggu di ruang tengah bersama yang lain. Tak lama kemudian petugas polisi datang.”

Yusuf mengangguk sambil mencorat-coret notebooknya. Yusuf merasa interviewnya dengan Tanto berjalan lebih lancar dibandingkan dengan Hendrik. Hendrik mungkin termasuk ke dalam tipe pemuda yang easygoing sehari-harinya, namun ia bersikap gugup saat berhadapan dengan Yusuf. Tanto, meskipun termasuk tipe yang lebih tertutup, ternyata  bersikap lebih tenang dan straightforwad. Yusuf menyukainya.

Yusuf mengawali interviewnya beberapa menit yang lalu dengan menanyakan identitas Tanto. Nama lengkapnya Tantowi Ahmad, panggilan sehari-hari Tanto. Berasal dari Lampung. Baru saja menyelesaikan semester keempatnya di Fakultas MIPA jurusan Fisika.

Tak ingin lama-lama berbasa-basi (juga tak ada alasan untuk itu) Yusuf kemudian menanyakan keberadaan Tanto kemarin malam.

“Bukankah Aldi bunuh diri, pak Polisi?” adalah respons yang diberikan Tanto kala itu. Sebuah respons yang di telinga Yusuf terdengar seperti “Anda mencurigai saya, ya, pak polisi?” Dan memang itulah yang sebenarnya dimaksud oleh Tanto.

Yusuf dengan cepat menjelaskan bahwa bukan itu yang ia maksud, namun ia membutuhkan informasi dari orang terdekat Aldi untuk rekonstruksi kronologis kejadian juga untuk mempersempit perkiraan waktu kematian. Untuk memantapkan maksudnya, Yusuf kemudian merivisi pertanyaannya dengan menambahkan kapan terakhir kali Tanto melihat Aldi masih hidup, apa yang dilakukan Tanto selanjutnya dan apakah Tanto menghubungi Aldi dalam kurun waktu tersebut.

Tanto mengangguk, menunjukkan bahwa ia mengerti kemudian menjawab bahwa ia terakhir kali bertemu Aldi kemarin sekitar pukul delapan malam, pada saat itu ia hendak ke kampus. Yusuf melontarkan pertanyaan tambahan mengenai tujuan Tanto pergi ke kampus.

“Sedot wi-fi, pak polisi. Untuk main game dan browsing. Tidak melanggar hukum, kan?”

“Selagi kontennya bisa dipertanggungjawabkan.” Yusuf tersenyum jahil, “Lalu?”

“Saya terus berada di kampus. Di Gazebo sekitar kampus jurusan Fisika.”

“Sendirian?”

“Yang menemani saya kebanyakan berada di ujung lain dunia.”

Yusuf akhirnya mengerti pemuda seperti apa Tanto itu. Tanto adalah tipe nerd, atau otaku yang sebagian besar kehidupannya dihabiskan dalam dunia maya. Hal itu menjelaskan impresi Yusuf yang menilai Tanto sedikit tertutup. Namun siapa sangka, di balik sangkaan umum bahwa tipe pemuda seperti itu cenderung tertutup, ternyata Tanto bisa dengan mudah diajak bicara. Yang dibutuhkan adalah stimulus yang tepat.

Tanto kemudian mulai menjelaskan sedikit mengenai game yang ia mainkan semalam. Yusuf hanya bisa mendengarkan dengan alis mata yang terangkat terheran-heran. Champion. Magic. Mana. Skill. Yusuf tidak mengerti. Ia menyarankan—setengah menginstruksikan—agar Tanto menskip bagian ini. Tanto pun masuk pada bagian keterangan di mana ia merasa cukup untuk menyedot wi-fi kampus, lalu memutuskan untuk pulang ke kosan.

Yusuf membalik beberapa halaman notebooknya sebelum kembali mengajukan pertanyaan. “Mas Tanto, bisa ceritakan pendapat Mas mengenai saudara Aldi? Gambaran singkat tentang bagaimana kepribadiannya?”

Tanto terlihat bingung mendengar pertanyaan yang muncul tiba-tiba ini. Setelah merenung cukup lama, ia akhirnya buka bicara, “Anda tahu, pak polisi, mungkin kosan kami ini merupakan satu dari sedikit tempat kos yang anak kosnya solid dan akrab satu sama lain. Aldi lah yang memprakarsai terwujudnya hal itu. Ketika tanggal merah tiba, alih-alih pulang atau tidur seharian di kamar, Aldi mengajak kami untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Bakar-bakar lah. Main futsal lah. Sampai hiking dan kemping.”

“Pemuda yang inisiatif.” Sahut Yusuf.

“Tepat seperti itu, pak polisi. Tapi sosok Aldi tidak hanya berhenti pada imej seorang pemuda yang inisiatif saja. Lebih dari itu, Aldi adalah sosok yang menyatukan hubungan penghuni kos yang kebanyakan sibuk oleh kegiatan masing-masing. Aldi juga selalu bersedia meminjamkan telinga ketika salah satu merasa terbebani oleh masalah. Dengan kata lain, Aldi adalah sesepuh yang dituakan di antara para penghuni kos. Setidaknya, itulah hasil pengamatan saya sebagai orang luar.”

Yusuf terkejut oleh pengakuan Tanto. “Mengapa Mas berkata seperti itu?”

Tanto menarik nafas panjang, “Selama ini saya sering kali dijauhi orang, pak polisi. Mungkin karena hobi dan kebiasaan saya yang aneh. Game. Komik. Film. Internet. Orang menganggap saya berbeda. Untuk itu tidak sedikit yang menghindari saya.”

Yusuf memikirkan ucapan Tanto dalam-dalam. Tentu saja. Hal tersebut menampilkan kesan bahwa Tanto adalah pemuda yang sangat tertutup. Tapi kesan itu melenceng sama sekali, karena sebenarnya Tanto bisa sangat terbuka dengan orang lain. Hanya saja pengasingan inilah yang membuat keterbukaannya mengering layu.

Yusuf memperhatikan Tanto dengan seksama. Simpatinya terhadap Tanto mengakar kuat.

Tanto melanjutkan. Ia mengatakan bahwa dengan Aldi, semua itu berbeda. Aldi tidak pilih-pilih. Tanto yang selama ini selalu diacuhkan oleh sekelilingnya, mendapatkan pengalaman berbeda dari Aldi. Aldi mengajaknya ngobrol, mengajaknya kumpul. Aldi mengerti seperti apa Tanto sesungguhnya. Tanto sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Aldi dan akhirnya Tanto yang dicap penyendiri itu selalu ikut dalam acara yang diadakan Aldi.

“Kalau ditanya apakah saya dekat dengan Aldi? Bisa dikatakan saya tidak terlalu dekat dengannya. Saya menyayangkan hal itu sekarang. Kalau saja saya tidak tenggelam dalam kesibukan saya sendiri sehingga saya tidak terlalu sering meninggalkan kosan. … Bagaimana pun saya sangat bersyukur bisa mengenal Aldi. Meskipun, Aldi sekarang sudah meninggal dunia.”

Yusuf berdeham dan menyampaikan simpatinya, “Memang sangat disayangkan. Tutup usia ketika masih muda, padahal masa depannya masih panjang.” Ia menghela nafas, “Mengenai hal itu, Mas Tanto, saya masih kebingungan soal motif di balik bunuh dirinya Aldi. Semakin saya mengenal sosok Aldi, semakin saya yakin bahwa ia seorang pemuda baik-baik yang rasanya tak mungkin melakukan bunuh diri. Apa Mas punya gagasan? Hal apa yang membuat Aldi nekat bunuh diri?”

Tanto berpikir sejenak, “Terus terang, pak polisi, saya tidak bisa memikirkan satu hal pun yang bisa menjelaskan perbuatan Aldi itu.”

Yusuf bertanya soal kemungkinan motif seperti yang ditanyakannya pada Hendrik. Masalah uang. Cinta. Pekerjaan. Konflik. Narkoba. Dan masalah-masalah lain yang muncul di kepalanya ia tanyakan.

Tanto menampik setiap kemungkinan motif bunuh diri itu.

Yusuf pun masuk pada strategi dua, menanyakan soal gerak-gerik Aldi sebelum Aldi meninggal, mencari tanda-tanda suicidal pada diri Aldi.

“Selama hampir dua Minggu, interaksi saya dengan Aldi hanya sebatas saling menyapa ketika saya datang atau pergi. Akhir-akhir ini saya sering menginap di kosan teman saya.” Jawaban Tanto tidak membantu sama sekali.

Seharusnya Yusuf bisa memperkirakan bahwa penyelidikannya itu akan sampai pada jalur buntu yang sama, namun ia tidak ingin menyerah, “Di antara interaksi Mas itu, apa Mas menemukan sesuatu yang aneh pada sikap Aldi?”

“Tidak sama sekali. Sikap Aldi sama seperti biasanya.”

Yusuf mencoba membuat Tanto untuk mengingat-ingat bagaimana mimik wajah dan gestur tubuh Aldi pada saat mereka saling menyapa itu.

“Saya tidak bisa mengingat setiap ekspresi wajah dan bahasa tubuh seseorang seakurat itu, pak polisi. Apalagi dalam kurun waktu dua Minggu yang lalu. Saya bukan kamera cctv.”

Kalau saja Tanto adalah kamera cctv.. Yusuf berharap.

“Yah, kalau untuk hari kemarin sih, saya masih bisa ingat.”

“Baiklah, kemarin pun tidak apa.” Daripada tidak sama sekali, pikirnya.

“Saya bertemu dengan Aldi di pagi hari, kira-kira pukul delapan. Di mana? Di halaman. Saya hendak mencuci, pagi-pagi, mumpung kosong dan tidak usah mengantre dengan yang lain (kebanyakan penghuni kos pulang kampung, pak polisi). Benar saja, saya dengan leluasa mencuci pakaian saya.”

“Dan bagaimana sikap Aldi saat itu?” Yusuf mengarahkan kembali  arah pembicaraan.

“Aldi berjalan pelan, lengannya terlipat di depan dada, lalu ia mengangguk dan menyapa selamat pagi pada saya ketika kami berpapasan. Sikapnya seperti biasa, ramah dan hangat.”

Yusuf mendesah panjang.

“Malamnya, pukul setengah sembilan, saya bertemu lagi dengan Aldi, ketika saya berniat pergi ke kampus. Saat itu Aldi sedang duduk di ruang tengah (lantai satu) depan kamar saya. Namun kali ini Aldi terlihat berbeda..” Tanto berhenti.

Yusuf diam memperhatikan, sorot matanya terpaku, menunggu Tanto untuk memberikan penjelasan.

“Ketika saya bertemu dengan Aldi di pagi hari saya mengira Aldi habis mencuci. Tapi saya menemukan tempat laundry kosong. Jadi saya bertanya-tanya apa yang dilakukan Aldi. Dan saat bertemu dengannya kemarin malam itu, saya menanyakannya. Ternyata Aldi habis mencari pasangan kaus kakinya yang hilang. Dan menilai dari ekspresinya, saya menangkap bahwa ia tidak menemukan kaus kaki itu. Yah, mungkin kaus kaki itu hadiah dari seseorang yang penting di mata Aldi dan hilangnya benda itu membuatnya sedikit sedih.”

Kaus kaki yang hilang. Terlalu lemah sebagai motif bunuh diri, namun Yusuf tetap mencatat hal itu di pikirannya.

Persoalan kaus kaki ini membuat Yusuf kemudian mengingat soal pakaian Tanto yang direndam dan ditinggalkan. Yusuf langsung menanyakan persoalan tersebut.

“Saat itu saya mendadak ditelepon oleh teman saya, urusan mendadak. Saya buru-buru pergi, lalu lupa soal pakaian saya yang masih dalam mesin itu. Petangnya, waktu magrib, ketika saya pulang, saya berpapasan dengan Hendrik. Hendrik mengatakan bahwa pakaian saya yang tertinggal di mesin cuci sudah dicucikan olehnya dan terlipat rapi di keranjang pakaian. Saya merasa sangat tidak enak hati mendengarnya. Saya pun langsung meminta maaf dan berterima kasih pada Hendrik. Tapi nampaknya Hendrik tidak begitu menyimak, sepertinya ia buru-buru.”

Interview Yusuf pun berakhir dengan pembicaraan soal cuci-mencuci pakaian yang tidak terlalu penting itu. Dan, sial seribu sial, ia masih belum juga mendapat motif. Dengan sedikit rasa kecewa, Yusuf mempersilakan Tanto untuk kembali beraktivitas seperti biasa.

Yusuf beranjak dari sofa dan menemui Ujang di teras depan.

“Awalnya kukira kasus ini hanya kasus bunuh diri biasa, Jang. Tapi setelah mengenal Aldi lebih dalam, kasus ini menjadi semakin rumit. Nampaknya tidak ada motif yang bisa menjelaskan perilaku bunuh diri Aldi.” Keluh sang Inspektur.

Ujang mencoba memberikan penawar untuk keluhan atasannya, “Mungkin ini bisa membantu, Ndan. Saya tadi bertanya-tanya ke tetangga sekitar, dan menurut info yang saya dapat, pribadi yang sangat dekat dengan saudara Aldi adalah Pak Syarif.” Ujang berhenti sejenak sebelum menyampaikan informasi yang mendukung pernyataan tersebut

“Sekitar tiga tahun yang lalu Pak Syarif bertemu dengan Aldi di warung makan, mengobrol dengannya dan merasa trenyuh lalu mengajak Aldi untuk tinggal di kosan yang ia kelola. Pak Syarif merasa iba mendengar kisah masa lalu Aldi, karena itulah ia menyediakan kamar untuknya secara cuma-cuma. Tapi Aldi tahu diri. Ia tahu Pak Syarif tidak ingin menerima uang sepeser pun untuk sewa kamarnya, karena itu ia membayar dengan cara lain yaitu dengan jasa. Aldi membantu memperhatikan kebersihan, keamanan, dan ketentraman kosan. Pak Syarif, dan tetangga-tetangga yang saya tanyai itu mengagumi sikap Aldi tersebut. Sejak Aldi menetap, hubungan Pak Syarif dan Aldi pun semakin dekat. Jadi, menurut saya, jika ada yang mengetahui masalah apa yang bisa memunculkan motif atau niat Aldi untuk bunuh diri, orang tersebut adalah Pak Syarif.”

Yusuf menyetujui saran Ujang, namun berpikir bahwa lebih baik menanyai Pak Syarif esok hari. Selanjutnya, Yusuf menugaskan Ujang untuk mencari tahu pendapat warga lain terhadap Aldi, penyelidikan masih harus berlanjut. Ia sendiri berniat naik ke lantai tiga kosan untuk kembali menyelidiki TKP.

***

Selanjutnya..

16 comments on “The Investigation – Part 3

  1. Pingback: The Investigation – Part 2 | Black or White?

  2. Keren nih si detektif Yusuf, saya suka style-nya, PoV 3 juga lumayan, alurnya asik bisa diadu nih dengan detektif Adam Yafrizal-nya Fandi Sido, hihihii…

    btw Inurhadi sudah baca karya-karyanya Fandi Sido?

    Like

    • Wah, masa? Ini masih eksperimen loh, dan Yusuf sebenarnya bukan tokoh utama.. heu :3
      Belum baca, udah liat sih postingan Troh yang ngebahas Fandi Sido, tapi belum nyoba baca. Kompasiana ya?

      Like

  3. Yups, karya-karyanya dia di kompasiana,

    Waktu thn 2012-2013, dia produktif banget dengan serial Detektif Adam Yafrizal-nya, Malah kalau dirangkumin bisa lebih tebal dari Project X -nya TIm NDI

    Favorit saya tuk serial Adam Yafrizal ntuh kasus Tujuh Surat, coba di googling dah?

    Like

  4. Pingback: The Investigation – Part 4 | Black or White?

  5. Pingback: Sedikit selingan.. | Black or White?

  6. Pingback: The Final Day of Investigation – Part 1 | Black or White?

  7. Pingback: The Final Day of Investigation – Part 2 | Black or White?

  8. Pingback: The Unexpected Guest | Black or White?

  9. Pingback: Motive | Black or White?

  10. Pingback: Trap | Black or White?

  11. Pingback: Again, Motive | Black or White?

  12. Pingback: Last, Conclusion | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s