Suicide?


Warteg Bahari, Selasa Pukul 12.30

Suhu di siang hari itu sangat panas, membuat kedua pria yang duduk di sebuah warteg pinggir jalan mengucurkan bulir-bulir keringat dari dahi mereka. Selain menunjukan kulit mereka yang kepanasan, keringat itu juga menggambarkan rasa puas dan kenyang setelah menghabiskan menu makan siang.

“Jadi, bagaimana kabarmu di kepolisian?” Alfa bertanya.

“Baik. Lumayan.” Yusuf, seorang polisi dan juga teman Alfa, menjawab.

“Oh, ya. Si Dika bagaimana? Aku dengar dia sekarang diangkat jadi reserse di bagian narkoba.”

“Kabarnya baik dan karirnya terus melesat. Kau tahu, hampir semua pengedar narkoba berhasil diringkusnya. Ya, hampir semua, kesuali satu. Bajingan yang memroduksinya. Bukan, salah satu pengedar bernyanyi bahwa barang mereka bukan barang impor. Obat-obatan yang beredar diproduksi secara lokal.”

“Dan siapapun yang memroduksinya bertanggung jawab atas meninggalnya mahasiswa yang overdosis itu.”

Yusuf mengangguk.

“Nah, sekarang apa yang ingin kau bicarakan. Bukan mengenai kasus OD itu, kan?”

“Bukan, tentu saja. Kau sudah dengar kasus bunuh diri baru-baru ini?”

“Mahasiswa yang bunuh diri di kamar kosnya?”

“Ya, yang itu. Kau ada waktu untuk membicarakannya. Aku ingin berkonsultasi mengenai hal itu padamu.”

“Tentu aku punya waktu.” Continue reading

Advertisements