Case Closed : Teka teki Detektif (40)


Untuk yang belum baca teka tekinya silahkan klik disini Teka teki Detektif (40).

 

Chevrolet hijau itu tiba di persimpangan jalan. Sang pengemudi, Detective Henry, memutar setir ke arah Abernethie Street. Di sampingnya, Inspektur Roland menjelaskan bahwa ada fakta yang terlewatkan dalam penalaran Henry pada kasus kali ini. Untuk memperjelas perkara ini, Inspektur Roland meminta Henry untuk menjelaskan penalaran Henry yang masih belum sempurna itu.

“Baiklah Inspektur, dari mana saya harus menjelaskan?”

“Coba jelaskan dari penyebab kematian korban. Kita tahu bahwa terdapat luka pukul benda tumpul pada bagian kepala korban. Apakah menurutmu pelaku menyerang korban dari belakang?”

“Tidak, Inspektur. Luka pukul memang terdapat pada kepala bagian belakang, namun bukan berarti korban diserang dari belakang.”

Inspektur Roland cukup terkesan, “Mengapa kau berkesimpulan seperti itu?”

“Karena adanya genangan darah di samping kepala korban, sir. Menurut saya korban meninggal karena didorong hingga jatuh ke belakang. Jatuhnya korban mengakibatkan luka di kepala bagian belakangnya, kemudian pelaku membalik tubuh korban sehingga terdapat  genangan darah di samping kepala korban dan korban ditemukan dalam kondisi telungkup.”

“Dan apa alasan pelaku membalikan tubuh korban?”

“Mudah saja, Inspektur. Motifnya, sir. Alasan pelaku membunuh korban ialah untuk mengambil barang berharga korban. Pelaku membalik tubuh korban pada saat itu tentu saja untuk mengambil dompet korban yang disimpan di dalam saku belakang celananya. Hal ini menjelaskan fakta ditemukannya sidik jari tak dikenal yang terdapat pada sabuk celana milik korban.”

Hening sesaat.

“Henry, menurutmu mengapa korban ditemukan dalam kondisi telanjang dada?”

“Pelaku mengambil baju milik korban.”

“Lalu mengapa pelaku tidak mengambil celana korban sekalian?”

“Mungkin pelaku tidak mau meninggalkan korban dalam kondisi tidak berbusana.”

Inspektur merenung sebentar, “Lupakan hal tadi. Kita kembali ke hal pokok. Oke, koreksi jika aku salah, menurut penalaranmu tadi aku menyimpulkan bahwa; pelaku membunuh korban atas dasar perampokan. Pelaku mendorong korban, kemungkinan diawali oleh perkelahian terlebih dahulu, sehingga kepala bagian belakang korban terluka. Korban meninggal dari luka tersebut. Pelaku kemudian membalikan tubuh korban untuk mengambil dompet korban, lalu pergi meninggalkan tempat kejadian.”

Henry mengangguk.

Inspektur melanjutkan, “Jika demikian, seharusnya tidak terdapat genangan darah di samping kepala korban karena pelaku langsung membalik tubuh korban beberapa saat setelah korban jatuh. Tapi di TKP sendiri terdapat genangan darah, hal ini jelas bertentangan dengan kesimpulanmu tadi.”

Not necessarily, Inspector. Di TKP memang terdapat genangan darah, namun tidak terlalu banyak. Menurut saya pelaku menunggu beberapa menit untuk memastikan korban sudah mati baru kemudian membalikan tubuh korban.”

“Hanya beberapa menit? Kau yakin?”

“Tentu, Inspektur. Pendarahan juga langsung terhenti, jika tidak darah akan mengalir dari samping kepala.”

“Kau melupakan sesuatu Henry.”

Lampu merah memberikan kesempatan bagi Detective Henry untuk mengalihkan perhatian dari jalan. Ditatapnya sang atasan dengan raut muka penasaran.

“Dua hal yang kau lupakan. Posisi mayat saat ditemukan dan kondisi livor mortis pada mayat.”

Livor mortis? Sekilas Henry teringatkan kembali saat-saat ketika ia berada di akademi. Saat itu ia sedang duduk diantara para kadet lainnya, mendengarkan seorang koroner yang menjelaskan cara-cara untuk memperkirakan waktu kematian. Livor mortis, perubahan warna kulit pada mayat yang diakibatkan oleh terkumpulnya darah pada satu bagian tubuh tertentu. Darah yang terkumpul itu kemudian akan menyebabkan efek berubahnya warna kulit sehingga terlihat merah keungu-unguan.

“Ya, apa yang kau katakan sama sekali tidak mungkin ketika kau mempertimbangkan kembali posisi mayat dan kondisi livor mortisnya. Livor mortis, seperti yang kau ketahui, terjadi ketika jantung seseorang sudah tidak memompa darah, dengan kata lain sudah meninggal. Ketika jantung tidak memompa darah, darah yang berada pada nadi korban tidak sepenuhnya berhenti. Sama seperti sifat air yang mengalir dari hulu ke hilir, darah yang berada pada nadi akan mengalir dari bagian tubuh yang lebih tinggi ke bagian tubuh yang lebih rendah. Darah yang mengalir itu kemudian akan berkumpul pada satu atau beberapa titik bagian tubuh yang rendah atau yang bersentuhan dengan permukaan tanah. Darah yang berkumpul itu akan menyebabkan perubahan warna kulit menjadi merah keunguan.

“Livor mortis pertama kali berlangsung sekitar tiga puluh menit setelah kematian, terus berkembang sekitar 3 sampai 4 jam, dan akan menjadi tetap (fixed) dalam 8 sampai 10 jam setelah kematian. Pada korban kali ini livor mortis atau postmortem lividity berada pada punggungnya. Artinya korban berada dalam posisi telentang ketika proses livor mortis berlangsung hingga kemudian menjadi tetap. Namun pada saat ditemukan, korban berada pada posisi telungkup, mengapa begitu? Jawabannya adalah ada seseorang yang membalikan tubuh korban, dan waktu ketika orang tersebut membalikan tubuh korban adalah 8 sampai 10 jam setelah kematian, atau kasarnya sekitar jam 7 pagi ini. Dan hal ini, Henry, membuat teorimu tadi runtuh seketika.”

Henry menyadari kebenaran hal tersebut. Memang benar ada orang yang membalikan tubuh korban untuk mengambil dompet, tapi orang tersebut membalikan tubuh korban ketika proses livor mortis sudah menetap. Orang tersebut membalikan tubuh korban 8 sampai 10 jam setelah kematian. Saat itu ia hanya kebetulan lewat, melihat korban telentang di tengah gang, lalu berusaha mengambil barang berharga korban. Sehingga bisa disimpulkan bahwa orang tersebut bukanlah orang yang menyebabkan kematian korban, karena seorang pembunuh tidak akan mengunjungi TKP kembali delapan jam setelah ia membunuh korban, mempertaruhkan tertangkap polisi atau terlihat orang lain. Tidak! Pembunuhnya pasti kabur ke suatu tempat dan berdiam diri di sana memikirkan apa yang telah ia perbuat. Ya! Henry merasa yakin akan hal itu. Apalagi dari cara terbunuhnya korban, Henry melihat bahwa pembunuhan kali ini hanyalah spur of the moment, impulsif, tidak direncanakan, terjadi begitu saja akibat pengaruh keadaan.

Lampu hijau menyala, Henry memacu gas mobilnya.

“Anda benar, Inspektur. Lalu siapa pembunuhnya?”

“Aku tidak tahu, belum. Tapi kita bisa memperkecil kemungkinannya dengan mengidentifikasi siapa korban. Tapi bagaimana kita mengetahui identitas korban jika tidak ada kartu identitas atau apapun yang mencirikan siapa korban? Untuk melakukan hal ini tentunya seorang detektif polisi harus mengandalkan kemampuan observasi dan deduksinya. Seperti yang sering dilakukan oleh sang detektif fenomenal, Sherlock Holmes.”

Inspektur Roland memperhatikan Henry yang saat itu nampak cemas. Observasi dan deduksi. Kedua hal itu masih belum dikuasai sepenuhnya oleh Henry, well setidaknya belum sampai selevel dengan Inspektur Roland.

“Apa saja yang kau lihat dari korban tadi Henry?”

Pertanyaan! Sial! Kalimat yang paling tidak ingin Henry dengar saat itu.

“Ehmm. Ada beberapa memar di wajah korban. Dan.. ada luka lecet (abrasi) pada buku-buku jari korban. Artinya sebelum meninggal korban sempat berkelahi dengan seseorang.”

Excellent. Korban berkelahi. Terjatuh di tengah perkelahian. Kepala bagian belakangnya terbentur, terjadi pendarahan, lalu koban meninggal. Pengamatanmu cukup tajam untuk bisa melihat lecet di buku jari korban, padalah saat di TKP kau memperhatikan korban dalam waktu yang singkat.”

Henry tersenyum.

“Apalagi yang kau ingat?” Inspektur kembali bertanya.

“Apalagi?” Henry mengernyitkan dahi. “Apalagi Inspektur?”

“Sesuatu yang aneh dari penampilan korban, mungkin? Tidak ingat? Sayang sekali, padahal hal yang satu itu yang membuatku tahu siapa korban.”

“What is it, sir?”

“Wajahnya yang seperti rakun. Jika kau memperhatikan, ada sedikit perbedaan warna kulit di sekitar matanya. Terdapat lingkaran kulit yang lebih cerah di sekitar matanya. Hal ini menunjukan bahwa korban sering terkena sinar matahari dan di saat yang bersamaan korban melindungi matanya dengan semacam google sehingga terciptalah perbedaan warna tersebut.

“Kemudian, hal apa yang bisa menyebabkan korban sering terkena sinar matahari dan megaharuskannya memakai google? Satu hal yang terbesit di benakku saat itu adalah mengendarai motor. Kau mengerti? Korban adalah seorang pengendara Harley Davidson, motor besar itu.”

Henry mengangguk, “Saya mengerti. Tapi bukankah terlalu awal untuk menyimpulkan hal itu Inspektur? Yang mendukungnya hanya fakta bahwa korban terlihat seperti rakun.”

“Tentu bukan hal itu saja yang memperkuat kesimpulanku tadi. Untuk membuktikan hipotesisku itu aku mengecek kedua tangan korban. Kau tahu apa yang aku dapat. Terdapatperbedaan warna pada jari tangan dan punggung tangan korban. Warna kulit pada jari korban terlihat lebih gelap dibandingkan punggung tangannya. Ini mengindikasikan korban memakai sarung tangan yang hanya setengah. Sarung tangan khas yang sering dipakai oleh para pengendara motor besar.”

Mobil sudah sampai di depan markas kepolisian. Henry memarkir mobil di samping kanan jalan. “Jadi begitu! Lalu, panggilan yang anda lakukan..”

“Aku memanggil tempat penampungan kendaraan. Menanyakan apakah ada motor yang pagi ini diamankan karena terlalu lama diparkir. Mereka berkata ada, dan motor tersebut diamankan sekitar jam enam pagi tak jauh dari TKP.”

“Tapi anda menelepon lebih dari sekali.”

“Oh, sisanya aku menelepon bar yang biasa dikunjungi oleh pengendara motor. Aku bertanya pada tiap bartender adakah orang yang datang sekitar tengah malam yang gerak geriknya terlihat cemas, waspada dan mencurigakan. Dari delapan bartender yang kuhubungi tiga diantaranya menjawab ya dan mengatakan bahwa si orang mencurigakan masih berada di bar. Setelah itu aku langsung mengirim beberapa orang untuk menjemput ketiga orang mencurigakan itu.”

“Tiga? Pelakunya tiga orang?”

“Mungkin. Tapi menurutku pelakunya hanya satu. Well, semuanya akan kita ketahui di ruang interogasi.” Inspektur tersenyum sambil keluar dari mobil.

Di koridor Inspektur Roland menghentikan langkahnya. Henry menoleh dan bertanya.

“Ada apa Inspektur?”

Vest. Rompi. Tentu saja!”

“Pardon?”

“Mengapa korban bertelanjang dada, Henry. Korban seorang pengendara motor. Ia memakai rompi. Lihat!” Inspektur menunjuk kepada pria lusuh yang memakai rompi kulit berwarna hitam yang duduk di ujung koridor. “Aku yakin pria itu adalah pemilik sidik jari yang ditemukan di sabuk korban. Tak hanya dompet yang diambil, rompi milik korban juga ia gasak. Itulah mengapa korban ditemukan bertelanjang dada.”

“Tapi, Inspektur. Itu berarti korban hanya memakai rompi di atas kulitnya. Apa tidak kedinginan?”

Inspektur terlihat murung, “Kau benar. Sebaiknya kita tanya pada si pelaku mengapa korban bisa sampai bertelanjang dada seperti itu?”

Henry tersenyum dan menggelengkan kepala.

16 comments on “Case Closed : Teka teki Detektif (40)

  1. Hmm, pengarang kriminal fiksi juga ya. Kalau baca post akhir-akhir ini, berarti pengarang punya pengetahuan soal autopsi ya?

    Kalau masalah kasus di cerita, ini belum selesai kan? Harusnya masih ada petunjuk lagi tapi aku coba analisis sedikit. Karena korban sempat berkelahi dengan pelaku, kemungkinan besar pelakunya laki-laki. Perempuan terlalu lemah untuk itu (kecuali jika korban didorong dari tangga atau tempat tinggi lainnya).

    Selain itu, sepertinya harus tunggu kelanjutannya.

    Like

    • Juga? berarti anda pun suka mengarang fiksi kriminal ya? hhe ^^
      soal pengetahuan autopsi itu saya dapat dari ebook yang judulnya “Practical Homicide Investigation” (Vernon J. Geberth) bab Estimating Time of Death. Jika tertarik bisa di googling saja bukunya. hhe
      Wah, sebenarnya saya sengaja mengakhiri cerita seperti itu. Jadinya tidak pernah direncanakan adanya lanjutan dari kasus kali ini (sekaligus menjawab perkiraan dari Andy). Memang agak gantung sih ya jadinya. tapi inti dari kasus kali ini sebenarnya cuma deduksi untuk mengenali siapa korban lewat ‘ciri-cirinya’ dan merekontruksi ‘apa yang terjadi’ kepada korban dilihat dari kondisinya saat ditemukan..😀

      Like

      • Ya, saya sedang suka menulis cerita detektif seperti itu di blog. Mengarang fiksi kriminal memang susah, tapi entah kenapa ada rasa puas begitu berhasil membuatnya. Sayang, padahal kelihatannya ceritanya menarik. Terima kasih sudah kasih tahu buku itu, lumayan untuk referensi🙂

        Like

  2. Hai kak inurhadi🙂 sudah lama nih ga baca blognya hehe
    Aku suka blog kakak karena cerita detektifnya bagus dan agak rumit juga :p
    Kalau boleh tau kk belajar ttg ilmu detektif dan fiksi detektif darimana ya kk?
    Aku juga suka baca yg ttg detektif2an gitu hehe
    Makasi kak🙂

    Like

    • hai juga tifa..🙂
      Wah, terima kasih udah bilang cerita buatan kk bagus.
      Perjalanan kk sampai bisa ‘terobsesi’ sama detective fiction sih awalnya dari conan, terus makin tambah parah pas ngenal dan jatuh cinta sama yang namanya novel. Novel detektif pertama yang kk baca itu Death in the Cloudsnya Agatha Christie. Abis itu nemu juga novel novel Christie yang baru di toko buku, plus cetakan barunya sherlock. Dari sanalah kk mulai hunting novel”nya Christie sama Conan Doyle. Selain itu juga kk searching novel” genre detektif yg bagus apa aja. Terus jadi banyak baca novel-novel detektif deh. Dari Sherlock, Poirot, Miss Marple (dikit), Perry Mason, Monk, Hannibal, Dr. Fell, dan banyak lagi. selain novel kk juga baca ebook tentang ilmu forensik, gitu deh. Oh, dan selain baca, kk juga hobi banget nonton tv series misteri kriminal. Tau Monk? The OCD Detective? The Mentalist? Psych? Luther? Galileo (yg ini jepang)? banyak dah pokoknya.. xD
      Intinya, kk belajar dari buku, novel, dan tv series. Kalo pengen baca-baca novel yang bagus nanti kk rekomen deh, pengen novel yang gimana dulu tapi.😀

      Like

  3. @ Irfan Nurhadi, salam kenal

    Saya Troh anakbaru nih, hihihihi…

    btw laman kasus-kasusnya keren nih ada gambar sketsa TKP juga, wah jadi ingat novel Metropolis-nya Mbak Windry

    Like

    • Halo Troh, salam kenal..😀

      Wah, terima kasih sudah mengunjungi blog saya, hehe. Sebenarnya saya juga sudah beberapa kali mengunjungi blog (dan tidak meninggalkan jejak, maaf untuk itu ^^v) yang dikelola oleh Troh, terutama postingan tentang novel detektif dan tokoh detektif karya anak indonesia. (Bener kan admin blog tersebut?)

      Sindikat 12. Yah, tapi sketsa kasus yang saya bikin itu cuma pake paint-nya windows, kualitasnya jauh dari punyanya Mbak Windry. -_-

      Like

  4. Hi kk .. nih bagus nih blognya .. aku barusan suka hal” ttg detektif .. aku harap bisa belajar banyak dr blog kakak ini😀

    Like

  5. Hai mas Irfan, perkenalkan saya Galih anak baru nih, suka detektif mulai SD sih tp tambah suka lg pas smp ini pas temen saya bawa cerita kasus copasan dri internet, gampang2 sih tp aneh2 gitu masa si korban msh sempet nulis kode panjang n rumit pas lg sekarat wkwkwkk tp pas ane kunjungin blog ini ternyata ceritanya bagus2 rumit, penuh misteri dan masuk akal. yaudah deh gitu aja perkenalannya. oh ya jawaban mas irfan mana? pgn aku samain dgn analisisku tepat atau gak. Thanks

    Like

    • Salam kenal galih..😀
      Hehe, saya juga sepikiran soal teka-teki yang pake dying message kaya gitu. Awalnya sih suka, bahkan cerita pertama yang saya bikin itu intinya tentang dying message. Eh, tapi kesininya mulai mikir, kayanya kurang masuk akal gitu setiap pembunuhan korbannya sempet nulis pesan, yang panjang lagi. wkwk
      Terima kasih buat pujiannya.. ^^
      Jawaban saya? Lah, jawabannya kan ada di cerita buatan saya ini.. :3

      Like

  6. Analisisku sih gini:
    si korban itu kayaknya seorang pengendara motor gede kayak harley atau mungkin seorang anggota geng motor apa gitu yg suka touring/konvoi2 gitu soalnya diliat dri perbedaan warna kulit antara ujung jari yg lebih gelap dripada punggung tangan, dari itu kayaknya dia sering pakai sarung tangan motor itu yg jarinya kepotong. terus dari perbedaan warna kulit wajah dengan daerah mata yg lebih cerah, kayaknya dia sering pakai kacamata saat berkendara.

    kronologisnya sih mungkin seperti ini, si korban lg naik motor malam2 tiba2 ada seseorang penjahat atau apalah mungkin geng motor lawan atau bisa juga begal? . selanjutnya pelaku dan si korban berkelahi dan si pelaku membunuh si korban dengan cara membenturkan kepala korban ke tanah sehingga kepala korban bocor dan meninggal. mungkin karena hebatnya perkelahian si pelaku juga terluka hingga berdarah dan darahnya terciprat ke jaket korban (kenapa jaket? karena korban ditemukan telanjang dada, waktu pembunuhan malam hari dan sangat aneh jika korban hanya mengenakan rompi diatas kulitnya tentu akan kedinginan, mungkin supaya tidak kdinginan si korban memakai jaket diatas kulit, dan itu cukup untuk menahan dingin di tubuhnya). karena darah pelaku terciprat di jaket korban, untuk menhilangkan jejak si pelaku akhirnya pelaku mengambil jaket korban. korban pun meninggal bertelanjang dada.

    beberapa jam setelah itu, seorang tunawisma menemukan mayat korban, karena tunawisma itu cenderung miskin maka tunawisma itu meraba2 celana korban untuk mengambil barang berharga, lalu ia memegang celana di sekitar bagian sabuk untuk membalik tubuh korban untuk menganbil barang berharganya, karena itulah ditemukan sidik jari tunawisma di sabuk korban. setelah mengambil dompet tunawisma itu langsung pergi dan membiarkan mayat korban dalam posisi telungkup. itulah mengapa korban ditemukan telungkup dengan darah kering disamping kepala korban dan warna kulit keungu2an di punggung korban yang mungkin disebabkan oleh penumpukan dan pembekuan darah saat korban dalam posisi telentang.

    itulah analisisku seadanya, mungkin agak lucu dan ngaco, hehehe tp tolong koreksi ya, msh newbie soalnya.

    Thanks

    Like

    • Well, memang kurang lebih seperti itu. Untuk rompi bisa dilihat di akhir cerita (diambil sama si tunawisma). Tapi soal pembunuh (begal atau bukan), itu tidak diketahui. Saya sengaja bikin kasusnya cuma fokus di identifikasi korban sama deduksi dari kondisi mayatnya. Hehe, jadi skenarionya bisa seperti yang Galih perkirakan di atas. Tapi bisa juga bukan..😀

      Like

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s