Teka teki Detektif (39) : Mystery Camp – Part 1 (Inspektur Roland #3)


Student’s Tents, Camp Tikihama
Pukul 06:59

John terbangun dari tidurnya. Ia mendapati teman-temannya yang lain masih terlelap. Pesta api unggun semalam memang berakhir sangat larut. Mungkin baru pada pukul tiga pagi para peserta kemping tertidur di tendanya masing-masing. Meskipun pesta berakhir begitu larut dan menyita tenaga, semua orang yang menghadirinya pasti merasa puas. Pesta semalam adalah pesta api unggun terbaik yang pernah diselenggarakan selama empat tahun terakhir.

John masih mengantuk, namun panggilan alam mau tidak mau membuatnya terjaga. John keluar dari tenda. Udara pagi yang segar membebaskannya dari rasa kantuk yang masih menggelantungi kelopak mata. Saatnya melakukan bisnis. John meninggalkan area tenda. Ia mencari sebuah tempat. Tempat yang cukup tersembunyi untuk membuang hasil metabolisme tubuhnya.

Di tengah pencariannya itu, John melihat sesuatu terapung di tepi danau. Karena penasaran John mengambil sepotong dahan yang jatuh, menggunakannya untuk mengait apa pun itu yang ia lihat, dan menariknya ke bibir danau untuk diperiksa lebih teliti. Belum sempat menggunakan dahan yang ia pegang, benda yang mengapung itu tenggelam lalu muncul kembali ke permukaan, memperlihatkan sosok yang cukup familiar di mata John. Tanpa menunggu aba-aba, ia langsung lari terbirit-birit. John tahu bahwa ia harus segera melaporkan apa yang dilihatnya itu. Namun ada satu hal yang harus ia lakukan terlebih dahulu. John berharap ia masih menyimpan persediaan celana dalam di ranselnya.

Greenwood Lake, Camp Tikihama
Pukul 10:00

Pagi ini Inspektur Roland dan partnernya, Detektif Henry Thomas, mengunjungi area perkemahan Tikihama. Sesosok mayat ditemukan di area perkemahan tersebut sekitar pukul tujuh pagi ini. Mayat diidentifikasi sebagai Donna Fleming, salah satu guru sekolah menengah yang saat itu sedang mengadakan acara kemping tahunan. Mayat ditemukan oleh salah seorang siswa yang mengikuti acara kemping, John Stuart. John melaporkan hal tersebut pada ketua panitia acara kemping, Tim Burton. Mr. Burton kemudian memanggil pihak kepolisian, segera setelah John melapor.

Inspektur Roland memperhatikan kondisi mayat. “A femme fetale” gumam Inspektur Roland. Tak heran, meskipun tubuh korban sudah kaku dan membisu daya tariknya masih nampak. (anting hoop) Donna masih mengenakan piyama tidurnya, terdapat tiga lubang bekas tembakan pada piyama tersebut. Dua lubang di bagian perut dan ulu ati, satu sisanya di dada bagian kanan.

Seorang petugas koroner menghampiri mayat korban, kemudian memulai pemeriksaan awal pada mayat. Inspektur menunggu sang petugas koroner sambil memeperhatikannya bekerja.

“Apa saja yang kau dapat?” Inspektur bertanya

“Tak banyak Inspektur. Korban ditembak tiga kali, satu pada bagian dada, dua pada bagian perut. Dari luka tembakan tersebut, ada indikasi bahwa pelaku menembak korban dari jarak dekat.”

Point blank shoot?

Petugas koroner itu mengangguk, “Selain itu, saya belum bisa menyimpulkan hal lain. Untuk waktu kematian contohnya, sulit untuk mengetahuinya sekarang. Korban dibuang ke danau yang suhunya cukup dingin di malam hari. Hal tersebut bisa membuat perkiraan waktu kematian meleset jika tidak dilakukan pemeriksaan menyeluruh.”

“Aku mengerti. Sebaiknya kau bawa mayat korban ke kamar mayat untuk autopsi menyeluruh. Segera.”

“Baik Inspektur.”

“Oh, sebelumnya. Bisakah kau berikan aku perkiraan sementara untuk waktu kematian korban. Hanya untuk pegangan.”

Petugas koroner menyanggupi permintaan Inspektur, “Saya hanya bisa memberikan memperkirakan waktu kematian dalam rentang waktu enam jam, sekitar pukul 20.30 sampai 02.30.”

That’ll do it. Thanks.

Setelah tim forensik merasa cukup mengambil foto, mayat korban dialihkan ke dalam mobil jenazah untuk di bawa ke rumah sakit dan diotopsi. Tak jauh dari tempat ditemukannya mayat, terlihat Detektif Henry yang sedang berdiri di samping seorang pria berkacamata.

Tim Burton menjelaskan bagaimana kronologi ditemukannya mayat tersebut. Henry memperhatikan sambil sesekali mencatat poin-poin penting pada notebooknya. Cerita Tim Burton diperkuat oleh pernyataan John Stuart, salah seorang anak laki-laki peserta kemah yang pertama kali menemukan korban. Ada yang aneh dari penampilan John saat itu. Celana training biru langitnya sangatlah tidak cocok dengan kaosnya yang berwarna coklat tua.

Masalah penemuan mayat selesai. Henry berterima kasih pada John. Tidak ada urusan lagi, John pun langsung kembali ke tempat rekan-rekannya.  Sekepergian pemuda tanggung itu, Henry kembali membuka pertanyaan.

“Mr. Burton menurut anda seperti apa pribadi Ms. Fleming?”

Yang ditanya menggaruk-garuk kepala, “Apa yang bisa saya ceritakan kepada anda,  ya? Donna mulai mengajar di sekolah kami sejak dua tahun yang lalu. Dia mengajar kelas musik dan melukis. Apapun yang berkaitan dengan seni Donna ahlinya. Dia seorang guru yang baik.”

“Menurut anda apakah Ms. Fleming terlibat dalam suatu masalah? Apakah dia mempunyai musuh?”

“Apa maksud Anda? Anda menuduh bahwa pembunuhnya berada di antara para guru?”

“Tidak, tidak. Saya hanya mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan.”

Tim Burton menghela nafas, “Menurut saya tidak Detektif. Donna seorang perempuan yang manis. Dia sangat dikagumi oleh para murid. Di kalangan para guru pun dia cukup populer, saya tidak melihat adanya seseorang yang menaruh dendam atau masalah apapun dengannya. Setidaknya itu menurut saya, tapi untuk lebih jelasnya anda bisa bertanya pada Sidney. Dari awal kedatangan Donna, Sidney sudah begitu dekat dengannya. Anda tahu, tidak ada yang lebih mengerti tentang kaum wanita daripada wanita itu sendiri.”

Ucapan Mr. Burton tampak mengena bagi Henry. Mengingatkan Henry pada sesuatu. Tim Burton melihat perubahan ekspresi pada raut muka Henry.

“Detektif?” tanyanya.

“Oh! Sampai mana kita tadi? Oh, ya. Bisa antarkan saya menemui Sidney? Maaf, siapa nama lengkapnya?”

“Sidney Davenport.”

Henry mencatat nama tersebut pada notebooknya.

Well, Mr. Burton. After you.

Tim Burton mengantar Henry untuk menemui Sidney. Rupanya Sidney Davenport sedang berada di area tenda perempuan. Sidney dan semua penghuni tenda terlihat sedang duduk melingkar sambil berpegangan tangan. Sekilas terlihat seperti sebuah ritual pemanggilan arwah, namun ternyata mereka sedang berdoa bersama untuk mendiang Donna Fleming. Semuanya menutup mata.  Tidak ada yang bersuara. Suasananya hening dan khidmat.

Beberapa gadis terlihat mencucurkan air mata. Ada yang menahan agar tangisnya tidak meledak-ledak, ada juga yang terlihat tenang namun akhirnya larut dalam suasana duka. Tim Burton mendekati Sidney secara perlahan, berusaha agar kehadirannya tidak mengganggu suasana. Henry sendiri menunggu di bawah sebuah Pohon Oak, tak jauh dari lingkaran tersebut.

Tim berbisik pada Sidney. Sidney melepaskan genggaman tangan pada kedua siswi di sampingya, kemudian mengatakan sesuatu pada para siswi yang duduk melingkar. Lingkaran manusia tersebut perlahan bubar, menyebar ke segala arah. Ada yang kembali ke tenda, ada yang memilih duduk di bawah pepohonan, ada juga yang tetap bertahan di tempat semula. Sidney beranjak mengikuti Tim Burton yang berjalan mendekati Detektif Henry.

Henry mengulurkan tangannya pada Sidney, “Ms. Davenport, I’m Detective Henry.

Please, call me Sidney. Detective.

Untuk beberapa saat Henry terdiam. Ia menjabat tangan Sidney terlalu lama dari yang dibutuhkan.

Okay, Sidney. Saya ingin menanyakan beberapa hal menyangkut Donna Fleming. Pertama..”

“Uhm, Detektif?” Tim Burton menyela.

Menjaga profesionalitas, Henry menjawab dengan tenang. “Ada apa Mr. Burton?”

“Saya perlu kembali ke area tenda laki-laki. Boleh saya meninggalkan anda berdua dengan Sidney?”

“Saya rasa tidak apa-apa. Terima kasih Mr. Burton, saya akan menghubungi anda lagi jika ada sesuatu.”

Tim Burton mengangguk, kemudian berlalu ke area tenda laki-laki.

“Jadi, apa yang ingin anda tanyakan Detektif?” Sidney bertanya.

“Oh, hmm. Bisakah anda menceritakan seperti apa pribadi Donna Fleming kepada saya? Bagaimana dia akhir-akhir ini? Apa dia mengalami suatu masalah? Something like that.

“Donna seorang perempuan yang manis, guru yang baik, apa lagi ya? Anda tahu Detektif, Donna tipe orang yang supel, dia sangat mudah berhubungan dengan siapa saja.”

“Apakah belakangan ini Ms. Fleming terlihat murung, seperti dirundung suatu masalah?”

“Saya sama sekali tidak menangkap kesan seperti itu Detektif. Donna terlihat ceria seperti biasa.”

“Apakah anda mempunyai pendapat siapa yang mungkin menginginkan kematian Ms. Fleming?”

Oh, God. No. Everybody love Donna. Saya tidak bisa memikirkan seseorang menginginkan Donna mati.”

“Apa benar begitu, Nona?”

Suara tersebut mengagetkan Sidney, juga Henry. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Henry mengenali sosok yang berbicara itu. Inspektur Roland.

Inspektur berdiri di sana cukup lama. Cukup lama untuk mendengarkan separuh pembicaraaan Henry dan Sidney. Inspektur membungkuk kepada Sidney sambil  memperkenalkan diri.

“Maafkan perkataan saya tadi nona. Saya hanya bermaksud menarik perhatian anda. Apa yang anda katakan tadi memang benar. Anda berkata jujur. Tapi yang anda kemukakan adalah pendapat umum mengenai Donna Fleming, bukan pendapat anda sendiri. Saya jadi penasaran, sebenarnya seperti apa sosok Donna Fleming di mata anda, Miss..?”

“Davenport. Sidney Davenport, sir.” Henry menambahkan.

“Miss Davenport.”

I prefer, Sidney.” Jawabnya lemah, “Donna is a charming girl. She is a woman, yes.  But i look at her as a girl. Young, cheerful, beautiful. She has all that both men and women want. I guess i’m a little jealous for that.

Sidney melanjutkan. “Donna memiliki sebuah daya tarik. Daya tarik misterius bagi setiap orang yang ia kenal. A femme fetale, you might. Itulah yang membuatnya populer di sekolah kami. Itu juga..”

“Yang anda pikir melatarbelakangi pembunuhan terhadapnya.” Detektif Henry melanjutkan.

Sidney mengangguk, “Apa anda pikir itu penyebabnya, Detektif?”

“Untuk saat ini kami tidak yakin. Ini masih tahap awal penyelidikan, masih ada kemungkinan lain. Tapi hal tersebut cukup untuk dijadikan pegangan.”

Inspektur Roland memperhatikan Henry, kemudian Sidney. Inspektur tersenyum diam-diam.

“Saya dengar Ms. Fleming tidak bermalam di tenda, tapi di sebuah kabin. Kenapa tidak di tenda biasa seperti yang lain?” tanya Inspektur.

“Donna memiliki kondisi fisik yang lemah, ia tidak tahan dingin. Dan karena ia bersikeras untuk mengikuti perkemahan, akhirnya kami dengan susah payah mendapatkan sebuah tempat baginya. Kabin pemburu yang tak jauh dari area perkemahan.”

“Bisa anda antarkan saya ke sana?”

Sidney menjawab, “Maaf Inspektur, saya masih harus mendampingi para siswi. Mereka masih terguncang dengan kabar meninggalnya Donna. Tapi saya bisa berikan arahnya pada anda. Ambil belokan ke kanan dari jalan kecil yang mengarah ke area tenda laki-laki, lalu ketika anda melihat sebuah papan penunjuk jalan, ambil jalan ke kiri. Kabinnya berada di dekat sebuah pohon yang tumbang, anda tidak akan melewatkannya.”

Inspektur mengangguk, kemudian menatap Detektif Henry. Henry mengerti apa yang dimaksudkan oleh Inspektur. Henry berterima kasih kepada Sidney dan memperbolehkannya untuk kembali ke anak didiknya.

“Satu lagi Miss Davenport, er, Sidney. Apakah Ms. Fleming memiliki seorang kekasih? Seorang lelaki yang cukup dekat mungkin?” tanya Inspektur.

Sidney menggeleng, “Tidak satupun. Selama saya mengenalnya, Donna sama sekali tidak pernah membicarakan hal tersebut.”

Inspektur berterima kasih, Sidney pun berlalu.

“Inspektur, apakah peristiwa pembunuhan terjadi di kabin itu?”

“Tampaknya begitu Henry. Ms. Fleming tidak mengikuti pesta api unggun semalam. Kemungkinan besar ia berdiam diri di kabin itu dan di sana jugalah pembunuh melakukan aksinya. Tim Forensik sudah mulai mengumpulkan bukti di sana, sebaiknya kita segera pergi ke sana.”

“Kalau begitu mari kita pergi sekarang Inspektur.”

Inspektu Roland tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Pandangannya fokus ke depan, namun tidak jelas apa yang sedang diperhatikan olehnya.

“Sebaiknya kau tidak perlu ikut Henry. Aku punya tugas lain untukmu.”

Inspektur menginstruksikan sesuatu pada Henry. Keduanya berpisah. Henry pergi menjalankan perintah dari Inspektur. Sedangkan Inspektur sendiri pergi menyelidiki kabin tempat Donna Fleming menginap.

8 comments on “Teka teki Detektif (39) : Mystery Camp – Part 1 (Inspektur Roland #3)

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s