Case Closed : Teka teki Detektif (38)


Bagi  yang belum membaca teka tekinya, saya sarankan baca terlebih dahulu..   Ini linknya : https://inurhadi.wordpress.com/2013/06/14/teka-teki-detektif-38/

Setelah memasuki minggu awal liburan semester, (akhirnya) cerita pengungkapan kasus telah selesai saya garap. Jika terdapat kekurangan dalam penyampaian cerita, saya minta kritik dan saran yang membangun dari reader.. ^^

Untuk pemilik kasus sebenarnya, Kemal, saya minta bantuannya jika ada reader yang memiliki pertanyaan terhadap kasus. Silahkan membaca dan mencocokan analisis..😀

Inspektur mengencangkan sabuk pengaman di sekeliling badannya, sementara Detektif Henry menyalakan mesil mobil. Mobil yang dikendarai mereka berdua kemudian meninggalkan parkiran apartemen, diikuti dua mobil patroli di belakangnya. Mr. Finch Wagner, sang tersangka utama, duduk di salah satu mobil patroli tersebut.

Mobil telah melaju beberapa blok saat Inspektur Roland berkata, “Ambil tikungan ke kanan di perempatan depan Henry.”

“Maaf Inpektur. Bukankah lebih cepat jika kita mengambil jalan ke kiri?”

“Memang, jika kita akan kembali ke markas.”

“Kita tidak kembali ke markas?”

Mobil Chevrolet tersebut berhenti, lampu di perempatan menunjukan warna merah.

“Tidak, tidak sekarang Henry.”

“Lantas sekarang kita hendak kemana, Inspektur?”

“Oh, apa aku belum mengatakan kepadamu sebelumnya? Maaf Henry. Kita sekarang pergi ke alamat ini.” Kata Inspektur Roland sambil menunjukan secarik kertas kepada Detektif Henry. Inspektur menunjuk sebuah alamat yang tertera di kertas tersebut.

Detektif Henry membaca alamat tersebut, “Winston Street no. 52, Bridge Stone Apartment 2nd Floor : Room 256? Itu alamat saksi yang menemukan korban, Mrs. Bloom. Ada apa dengannya Inspektur?”

We need her statement.”

Pukul 22.15
Bridge Stone Apartement, kediaman Angle Bloom

Detektif Henry dan Inspektur Roland tiba di depan pintu apartemen nomor 256. Inspektur mengetuk pintu tersebut. Pintu kemudian terbuka, menampilkan sosok Angle Bloom dibaliknya.

“Selamat malam, Mrs. Bloom.”

“Malam Inspektur, Detektif. Anda berdua hendak meminta pernyataan saya lagi, saya kira?”

“Betul sekali Mrs. Bloom. Boleh kami berdua masuk?”

“Tentu, silahkan.”

Kedua penegak hukum tersebut masuk ke dalam, mengikuti Angle Bloom yang menuntun mereka ke ruang tamu.

“Silahkan duduk, Tuan-tuan. Kopi atau teh?”

“Tidak usah repot-repot Mrs. Bloom.” Ujar Inspektur

Mrs. Bloom melirik ke arah Detektif Henry. Detektif Henry tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Baiklah kalau begitu. Nah, Tuan-tuan, keterangan apa lagi yang hendak anda minta dari saya?”

Inspektur Roland berkata, “Kami menemukan pria mencurigakan yang anda lihat saat dalam perjalanan ke apartemen korban.”

“O-oh, anda menemukannya?”

“Ya, pria tersebut tengah duduk di kursi taman yang berada dekat dengan apartemen korban saat petugas polisi menemukannya.” sahut Detektif Henry

“Begitukah? Sepertinya anda beruntung sekali bisa langsung menemukannya. Apakah pria tersebut yang membunuh Mr. Stanley?”

Inspektur Roland memandang Detektif Henry beberapa saat sebelum kemudian menjawab. “Ya, kami cukup yakin akan hal itu. Pria tersebut, Finch Wagner namanya, adalah kolega korban. Sore malam tadi dia mengunjungi apartemen korban, kemudian terlibat dalam sebuah diskusi yang cukup panas. Rupanya korban terkenal dengan sifatnya yang sombong dan suka meremehkan orang lain. Sepertinya dalam diskusi mereka tersebut korban mengeluarkan kata-kata yang tidak enak terhadap Mr. Wagner. Mr. Wagner mempunyai motif, juga kesempatan untuk melakukan pembunuhan tersebut.”

Mrs. Bloom menarik nafas lega, “Untunglah anda sudah dapat pelakunya. Lalu apa hubungannya dengan saya, Inspektur?”

Inspektur menjawab, “Selain anda, kami tidak memiliki saksi lain yang bisa mengidentifikasi tersangka sebagai orang yang meninggalkan apartemen korban. Untuk itu kami meminta anda mengidentifikasi tersangka, sediakah anda melakukannya sekarang?”

“Well, maksud anda di sini? Di apartemen saya?”

“Jika anda tidak keberatan. Saya pikir ini bisa menghemat waktu. Lebih cepat lebih baik, bukan begitu?”

“Oke, saya kira, jika itu yang terbaik. Saya bersedia Inspektur.”

“Baiklah. Henry, panggil Officer Stanford untuk membawa tersangka ke sini.”

Detektif Henry kemudian memanggil Officer Stanford melalui radio transmiter yang dipegangnya.

Ketiganya kemudian menunggu kedatangan Officer Stanford dan Mr. Wagner. Inspektur berbincang-bincang ringan dengan Mrs. Bloom, membicarakan kehidupan keluarganya dengan maksud mengorek informasi mengenai kehidupan Angle Bloom di masa lalu. Detektif Henry yang dari tadi hanya bisa mendengarkan, memotong obrolan kedua orang tersebut, “Maaf, Mrs. Bloom. Boleh saya pakai toilet anda sebentar?”

“Oh, tentu. Letaknya di samping dapur.”

“Terima kasih, Mrs. Bloom.”

Setelah Detektif Henry meninggalkan ruangan, Inspektur Roland berkata, “Mrs. Bloom, saya mohon maaf sekali lagi jika kedatangan kami mengganggu anda. Saya benar-benar ingin menyelesaikan kasus ini dengan segera.”

“Tidak apa Inspektur, saya mengerti. Lagipula ini belum masuk waktu tidur saya. Coba anda telat satu jam, mungkin anda bakal butuh pendobrak pintu untuk membuat saya bangun.”

Inspektur Roland tertawa sekedarnya, “Meskipun begitu tetap saja kami mengganggu waktu istirahat anda. Berjalan kaki selama 15 menit pasti cukup melelahkan.”

“Oh, saya pulang tidak berjalan kaki, Inspektur. Ketika berangkat saya memang berjalan kaki, namun setelah menyaksikan keadaan Albert yang begitu mengenaskan saya merasa kelelahan. Bukan secara fisik, namun lebih secara psikis, anda mengerti? Jadi saya memberhentikan taksi untuk pulang.”

Inspektur Roland mengangguk, seakan-akan memahami betul apa yang dirasakan Mrs. Bloom saat itu.

Terdengar ketukan di pintu depan, “Sepertinya tamu kita sudah datang. Anda tunggu di sini Mrs. Bloom, biar saya yang membuka pintu.”

Beberapa saat kemudian Inspektur Roland kembali bersama seorang pria dengan borgol terikat di kedua pergelangan tangannya. Pria tersebut berperawakan gempal, namun badannya tidak terlalu tinggi. Tampangnya menyeramkan, tambah-tambah terdapat sebuah bekas luka yang melintang secara horizontal di dahinya. Pria tersebut memiliki tato. Tengkorak manusia di belakang lehernya, pisau dan revolver di punggung tangan kanannya, dan sebuah tato bertuliskan Nats dengan background hati yang terbelah di lengan kirinya.

“Hey, Pak polisi. Siapa wanita ini?”

“Bukan urusanmu. How is Natalie doing?”

Natalie who?” Jawabnya sambil memalingkan muka.

Angle Bloom berdiri dari duduknya, kelihatannya ia sedikit terkejut dan takut terhadap pria tersebut.

“Tenang Mrs. Bloom, saya jamin dia tidak akan melakukan apa-apa kepada anda. Nah, sekarang bisakah anda memastikan bahwa pria ini adalah pria yang anda lihat ketika anda hendak mengunjungi apartemen Albert Stanley? Tidak perlu terburu-buru, take your time.

Mrs. Bloom mengangguk, kemudian memperhatikan pria tersebut. Setelah beberapa saat, Inspektur kembali bertanya.

“Bagaimana Mrs. Bloom? Apakah anda bisa mengidentifikasi pria ini sebagai orang yang anda lihat meninggalkan apartemen korban?”

“Ya, ini pria yang sama dengan yang saya lihat waktu itu.”

“Hei, apa-apaan kau nona?!”

She is identifying you. So shut up! Apa anda yakin Mrs. Bloom?”

“Tentu, perawakannya sama. Tidak tinggi namun gempal.”

“Hmm..”

“Ada apa Inspektur?”

“Maaf, Mrs. Bloom. Tapi itu masih kurang. Banyak pria lain dengan perawakan yang sama. Keterangan anda masih belum cukup. Coba anda perhatikan dan ingat-ingat kembali.”

“Tidak perlu Inspektur, saya sudah sangat yakin. Sekarang saya ingat, pria yang saya lihat juga memiliki bekas luka di dahinya. Lihat, lukanya begitu jelas terlihat. Mana mungkin saya melupakan hal tersebut.” Kata Angle Bloom optimis.

“Ya, anda benar. Mana mungkin seseorang melupakan bekas luka seperti itu.”

Angle Bloom mengangguk setuju.

“Terima kasih Mrs. Bloom, anda telah membantu saya membuktikan sesuatu. Sekarang mari ikuti saya ke Kantor Kepolisian.”

“Maksud anda Inspektur? Saya barusan sudah mengidentifikasi tersangka, apa lagi yang anda butuhkan? Oh, saya mengerti. Paperwork.

Inspektur Roland menggelengkan kepalanya, “Sepertinya anda salah paham Mrs. Bloom. Yang saya maksud adalah, saya menangkap anda sebagai tersangka pembunuhan terhadap Albert Stanley.”

Angle Bloom tertawa, tawanya kering, “Anda bercanda Inspektur? Karena ini tidaklah lucu.”

“Ini tidak lucu karena saya tidak bercanda. Anda berbohong Mrs. Bloom. Anda tidak melihat pria ini meninggalkan apartemen korban.”

“Untuk apa saya bohong? Saya benar-benar melihat orang ini meninggalkan apartemen Mr. Stanley. Lihat luka di dahinya, mana mungkin saya melupakannya.”

“Benar sekali, mana mungkin anda melupakan luka di dahinya. Tapi ketika anda masih berada di apartemen korban saya bertanya kepada anda apakah anda melihat wajah orang yang meninggalkan apartemen korban. Anda menjawab ‘Saya rasa tidak, saya melihatnya dari kejauhan sehingga hanya perawakannya yang saya ingat’. Keterangan anda saat itu dan keterangan anda sekarang bertentangan. Saat itu anda mengatakan tidak melihat wajah pria ini, namun sekarang anda ingat karena pernah melihatnya, lebih tepatnya anda berpura-pura pernah melihat wajahnya. Jika anda benar-benar melihatnya, anda pasti bisa mengingatnya saat saya bertanya kepada anda pertama kali. Pertanyaannya adalah, mengapa anda berpura-pura pernah melihat wajahnya? Tentu saja karena anda ingin pria ini ditangkap sebagai pembunuh Albert Stanley, anda ingin kasus ini segera ditutup, anda ingin terlepas dari urusan ini, you desperately want to get away with murder.

Terdapat jeda beberapa detik sebelum Angle Bloom membalas pernyataan Inspektur Roland, “That is absurd. Saya punya penjelasan yang masuk akal tentang hal itu, Inspektur. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda saat itu karena saya masih dalam shock. Sekarang saya sudah lebih tenang, sehingga saya  bisa mengingatnya dengan jelas.”

“Jadi anda sungguh-sungguh melihat pria ini keluar dari apartemen korban? Anda yakin?”

“Tentu saja, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Saya bersumpah saya melihat pria ini keluar dari gedung apartemen korban.”

Inspektur tersenyum, Angle Bloom telah masuk dalam perangkapnya, “Sayang Mrs. Bloom hal tersebut sangatlah tidak mungkin. Maaf sebelumnya, tapi pria ini bukanlah Finch Wagner yang saya bicarakan tadi. Mrs. Bloom, saya kenalkan anda dengan Officer Stanford, maaf, Sergeant Stanford. Sersan Stanford saat ini tengah menjadi agen mata-mata di salah satu kelompok kriminal di kota. Saya sengaja memanggilnya kesini karena perawakannya sama dengan Mr. Wagner. Menurut pernyataan anda barusan, anda bersumpah melihat pria ini, Sersan Stanford, keluar dari apartemen Albert Stanley. Aneh sekali, pada waktu yang bersamaan Sersan Stanford sedang berada di sebuah bar bersama teman-teman kriminalnya, benar begitu Stan?”

Sersan Stanford menjawab, “That’s right, Inspector. Boleh saya buka borgol ini sekarang?”

Inspektur mengangguk, “Mrs. Bloom, bagaimana anda menjelaskan hal tersebut?”

Raut muka Angle Bloom berubah pucat pasi, dengan sedikit terbata-bata akhirnya ia bisa menjawab pertanyaan Inspektur Roland itu, “Maaf Inspektur, anda benar. Saya berbohong, saya memang tidak pernah melihat pria ini sebelumnya. Tapi bukan berarti saya pembunuh Mr. Stanley. Awalnya saya kira pria yang anda bawa ini adalah pria yang saya lihat saat itu. Saya berbohong agar anda bisa segera memenjarakan pembunuh Albert Stanley. Tujuan saya hanya ingin membantu penegak hukum melakukan tugasnya. Dan soal saya melihat pria kecil bertubuh gempal, itu memang benar. Saya melihatnya!”

Dahi Inspektur Roland mengerut, “Anda berbohong karena anda mengira bahwa Sersan Stanford adalah orang yang sama dengan yang anda lihat saat itu? Juga sama dengan orang yang kami tangkap di taman dekat apartemen korban? Anda mengira bahwa Finch Wagner adalah orang yang anda lihat meninggalkan apartemen korban? Anda mengira Sersan Stanford adalah tersangka yang kami tangkap, Finch Wagner, sehingga anda berbohong agar Finch Wagner segera ditangkap atas perbuatannya?”

Sersan Stanford bengong mendengar Inspektur mengulang-ulang kalimat dengan maksud yang sama.

Angle Bloom menatap mata Inspektur, Inspektur Roland membalas tatapannya. “Saya mempercayai anda, Mrs. Bloom.”

Sersan Stanford semakin merasa heran, lantas apa manfaatnya ia berpura-pura menjadi Finch Wagner. Di pihak lain, Angle Bloom terlihat lega setelah mendengar Inspektur Roland mempercayainya.

“Di saat yang bersamaan saya juga tidak mempercayai anda.” Lanjut Inspektur.

Kedua orang di ruangan itu hendak memprotes Inspektur Roland. Inspektur segera mengangkat tangannya, mengurungkan niat kedua pihak yang keberatan terhadap pernyataannya.

“Sebelumnya biar saya jelaskan maksud dari kedua pernyataan kontradiktif tadi. Mrs. Bloom, keterangan yang anda berikan pada saya di apartemen korban yaitu anda melihat seorang pria kecil bertubuh gempal keluar meninggalkan apartemen korban. Saya mempercayainya. Anda memang melihat pria tersebut, dan saya yakin pria itu  adalah Finch Wagner. Namun saya tidak mempercayai keterangan anda perihal waktu anda melihat pria tersebut. Anda mengatakan bahwa anda melihat pria tersebut, Finch Wagner, sekitar pukul 20.40, benar begitu?”

“Y-ya”

“Tapi menurut Mr. Wagner, ia meninggalkan apartemen korban tak lebih dari pukul 20.15. Lebih awal dua puluh lima menit dari waktu ketika anda melihatnya meninggalkan apartemen. Kenapa bisa begitu ya?”

Angle Bloom tertawa sinis, “Hah, dan anda bilang anda seorang Inspektur Polisi? Dia seorang pembunuh, tentu saja dia berbohong. Yang ia katakan hanyalah kebohongan untuk menutupi perbuatannya. Pun jika ia memang meninggalkan apartemen pukul 20.15, bisa saja ia kembali lagi untuk membunuh Albert dan saya melihatnya saat ia meninggalkan apartemen untuk kedua kalinya.”

Inspektur memperhatikan Angle Bloom sejenak. Nada bicaranya yang sinis tidak memicu amarah Inspektur. Sebaliknya, nada bicara Angle Bloom terdengar seperti orang yang gelisah di telinga Inspektur. Dan memang benar, secara tidak langsung Inspektur telah menembus sedikit dinding pertahanan Angle Bloom.

“Stan, panggil Henry ke sini. Sudah terlalu lama ia berada di toilet. Letaknya di samping dapur.”

Tanpa berkata-kata Sersan Stanford langsung menjalankan perintah Inspektur.

“Mari kita lanjutkan pembicaraan kita Mrs. Bloom. Ya, saya setuju dengan perkataan anda tadi. Seorang pembunuh tentu saja akan berbohong untuk menutupi perbuatannya. Mr. Wagner bisa saja berbohong, namun pada kasus kali ini andalah yang berbohong. Dan saya bisa membuktikannya.”

Sersan Stanford dan Detektif Henry memasuki ruang tamu. “Oh, Henry. Sudah kau selesaikan urusanmu itu?” tanya Inspektur.

“Seperti yang anda perintahkan Inspektur.” jawab Detektif Henry sambil menyerahkan sesuatu kepada Inspektur. Sepasang sepatu. Sepatu kets berwarna putih yang sebelumnya dipakai oleh Angle Bloom ke apartemen korban.

“Sepatu anda ini, Mrs. Bloom, adalah bukti bahwa anda berbohong perihal waktu ketika anda melihat Mr. Wagner meninggalkan apartemen korban.”

Tidak ada satu pun yang berbicara, semua perhatian tertuju kepada Inspektur. Inspektur Roland kemudian melanjutkan.

“Saya awali dari pernyataan anda. Anda mengatakan bahwa anda berangkat dari apartemen anda sekitar pukul 20.30. Sepuluh menit kemudian, pukul 20.40 anda melihat seseorang meninggalkan gedung apartemen korban. Orang yang anda lihat adalah Finch Wagner yang baru saja kabur dari sebuah diskusi yang membuat syaraf-syarafnya tegang. Kami menemukan Finch Wagner, menangkap kemudian menginterogasinya. Keterangan yang kami peroleh dari Mr. Wagner ternyata bertentangan dengan keterangan anda. Mr. Wagner mengatakan bahwa ia mengunjungi apartemen korban pada pukul 19.30. Keduanya terlibat sebuah diskusi yang panas, dan empat puluh lima menit kemudian Mr. Wagner meninggalkan apartemen korban karena tidak tahan terhadap sikap korban. Dengan demikian Mr. Wagner meninggalkan apartemen pada pukul 20.15.

“Anda melihat Mr. Wagner meninggalkan apartemen pada pukul 20.40, sedangkan Mr. Wagner mengaku meninggalkan apartemen pukul 20.15. Kemungkinannya hanya dua. Anda berbohong dan Mr. Wagner menyatakan hal yang sebenarnya. Atau anda menyatakan hal yang sebenarnya dan Mr. Wagner berbohong.”

Angle Bloom menyela, “Saya cenderung memilih yang kedua.”

Inspektur Roland tersenyum, “Tentu, Mrs. Bloom. Tapi bukan itu kenyataan yang terjadi. Saat kami menangkap Mr. Wagner, mantel yang dipakainya sedikit basah. Apa artinya? Berarti setelah ia meninggalkan apartemen korban ia sempat kehujanan barang sebentar. Kemudian saya ingat, hujan mulai turun sekitar pukul 20.26 sampai 20.29. Mr. Wagner mengatakan bahwa setelah ia meninggalkan apartemen korban ia menghabiskan waktu dengan duduk di kursi  taman sampai kami menangkapnya. Semua faktanya cocok, Mr. Wagner meninggalkan apartemen korban sebelum hujan turun, kemudian ia menghabiskan waktu di kursi taman, hujan turun, dan ketika ia ditangkap mantelnya basah. Mr. Wagner tidak berbohong, artinya anda yang berbohong. Anda tidak melihat Mr. Wagner pada pukul 20.40.”

“Anda masih ingat perkataan saya tadi. Finch Wagner bisa saja kembali ke apartemen itu, membunuh Albert, kemudian saya melihatnya saat dia meninggalkan apartemen untuk kedua kalinya.”

“Tidak, hal tersebut tidak pernah terjadi. Anda tidak melihat Mr. Wagner pada pukul 20.40. Anda melihatnya pada pukul 20.20, karena anda berangkat dari apartemen anda sendiri pada pukul 20.10.”

“Dari mana anda tahu?” Kalimat tersebut secara refleks terlontar dari mulut Angle Bloom. Pertahanannya sudah runtuh.

“Dari pernyataan anda juga sepatu ini. Saat saya bertanya pukul berapa anda berangkat dari apartemen anda, anda menjawab ‘Hmm, sebentar saya ingat-ingat dulu. Jarak dari rumah saya kesini jika berjalan kaki butuh waktu sekitar 15 menit. Saya meninggalkan rumah sekitar pukul 20.30. Sepertinya sekitar pukul 20.40 saya melihat pria tersebut.’

“Bagi saya sendiri pilihan kata anda sedikit aneh. Anda mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke apartemen korban terlebih dahulu, baru kemudian mengatakan pukul berapa anda meninggalkan apartemen. Seolah olah anda menghitung mundur selama lima belas menit dari waktu kedatangan anda bersama Heiji ke apartemen korban.  Dari situ saya berasumsi bahwa anda tidak meninggalkan apartemen pukul 20.30.

“Asumsi saya kemudian terbukti oleh sepatu yang anda kenakan tadi. Sepatu kets putih yang sekarang saya pegang ini. Sepatu ini kondisinya masih bagus, mungkin baru bulan kemarin anda membelinya. Tapi kondisinya terlalu bagus saat saya meminta keterangan anda di apartemen korban. Jika anda memang berangkat dari apartemen anda pukul 20.30, setidaknya akan terdapat beberapa noda lumpur pada sepatu ini.

“Apartemen anda berada di Winston Street, jalan yang merupakan daerah penggalian jalur listrik yang baru. Perlu saya ingatkan kembali, hujan turun pada pukul 20.26 sampai 20.29. Jika anda meninggalkan apartemen pukul 20.30, setelah hujan turun. Dan anda berjalan kaki, seharusnya sepatu anda sedikit kotor oleh tanah yang bercampur dengan air hujan. Namun saat berada di apartemen korban saya tidak melihat satu noda pun pada sepatu ini. Sekarang pun tidak. Mrs. Bloom, anda tidak meninggalkan apartemen pada pukul 20.30. Anda meninggalkan apartemen sebelum hujan turun.”

Detektif Henry menambahkan, “Bukti lain terdapat pada sol sepatunya. Terdapat serpihan tanah yang masih utuh. Tanahnya lembab, namun masih padat. Kondisinya cocok dengan tanah hasil galian, bukan tanah yang bercampur dengan air hujan. Apalagi hujan yang turun begitu deras.”

“Terima kasih Henry. Sekarang akan saya jelaskan kronologis pembunuhan yang anda lakukan terhadap Albert Stanley. Pukul 20.10 anda meninggalkan apartemen. Pukul 20.20 anda melihat seorang pria gempal meninggalkan apartemen korban, saat itu anda tidak menganggap peentig hal tersebut sampai saya menanyakannya. Pukul 20.25 anda sampai di apartemen korban, berlaku seperti biasanya, meminta soal matematika pada Albert sedikit mengobrol mungkin. Anda menunggu dia lengah, kemudian kesempatan anda dapatkan saat ia telah menelepon seseorang, Heiji. Anda menikam punggung Albert, kemudian anda menyadari bahwa telepon belum sempat ditutup. Teriakan korban pastinya terdengar oleh siapa pun yang menelepon Albert. Dengan panik anda segera membawa barang bawaan anda dan meninggalkan apartemen Albert. Anda menyadari bahwa orang yang mendengar teriakan korban di telepon akan segera datang ke apartemen Albert.”

Sersan Stanford yang tidak terlalu mengerti perkembangan kasus bertanya, “Lalu untuk apa Mrs. Bloom kembali ke apartemen korban?”

“Mrs. Bloom membawa sesuatu yang tidak seharusnya ia bawa. Di tengah kepanikaannya ia tidak sengaja membawa soal matematika yang dibuat oleh Albert. Ia baru menyadarinya setelah keluar dari gedung apartemen Albert. Ia tidak bisa begitu saja membuangnya juga terus membawanya. Ia memutuskan untuk menyimpan soal tersebut sebelum polisi memulai penyelidikan. Kemudian ia teringat pada telepon korban, orang yang mendengar teriakan korban pasti akan segera tiba di apartemen tersebut. Mrs. Bloom menunggu kedatangannya di lobi. Setelah yang ditunggu tiba (Heiji), ia menghampirinya menanyakan letak apartemen Albert untuk berbasa basi. Mereka pergi bersama, keduanya masuk ke apartemen Albert dan menemukan mayat Albert. Lalu Mrs. Bloom mengembalikan soal yang dibawanya saat Heiji menelepon 911.”

“Darimana dia tahu bahwa orang yang ia hampiri adalah orang yang sama dengan yang menelepon Albert?” Kembali, Sersan Stanford bertanya kepada Inspektur.

“Mrs. Bloom mendengar obrolan mereka di telepon, kemungkinan pada percakapan mereka terdapat sedikit bahasa jepang, mengingat Heiji adalah mahasiswa asal Jepang. Kemungkinan lain Mrs. Bloom mendengar Heiji memanggil-manggil (sensei) Albert sesaat setelah Albert berteriak. Jadi tidak sulit mencari tahu siapa yang ia tunggu, yaitu seorang laki-laki muda asal jepang yang terlihat seperti orang kuliahan.”

“Maaf jika saya banyak bertanya Inspektur. Ini pertanyaan terakhir saya, darimana anda tahu alasan Mrs. Bloom kembali ke apartemen korban?”

Inspektur menoleh ke arah Detektif Henry, “Henry, mungkin kau mau menjawab yang satu ini?”

“Di apartemen kami menemukan amplop besar yang berisi soal matematika. Amplopnya sedikit terlipat di bagian tengah dan terdapat sebuah sobekan kecil di salah satu sudutnya. Mrs. Bloom menyimpan amplop tersebut dalam tas tangan kecilnya ini,” kata Detektif Henry sambil menunjukan tas kecil yang ia ambil di kamar Angle  Bloom “Itulah mengapa terdapat sedikit bekas lipatan pada amplop yang kami temukan, karena tasnya terlalu kecil untuk menyimpan amplop tersebut. Dan saya menemukan ini terselip di risleting tas.” Detektif Henry menunjukan sebuah sobekan kertas yang sangat kecil dalam sebuah evidence bag.

“Forensik pasti bisa membuktikan bahwa sobekan ini  berasal dari amplop berisi soal matematika yang kami temukan di apartemen korban” lanjutnya.

“Nah, bagaimana Mrs. Bloom? Apakah sekarang anda mengakui perbuatan anda?” tanya Inspektur Roland.

Angle Bloom menyunggingkan senyum kekalahan, “Sepertinya saya tidak punya pilihan lain. Darimana anda tahu pukul berapa persisnya saya meninggalkan apartemen?”

“Hanya sebuah perhitungan sederhana. Anda berangkat sebelum hujan turun. Mantel yang anda kenakan tidak basah sedikit pun. Artinya anda tiba di apartemen korban juga sebelum hujan turun. Saya tetapkan kasarnya pukul 20.25. Perjalanan dari apartemen anda ke apartemen Albert membutuhkan waktu selama lima belas menit. Berarti anda berangkat pukul 20.10. Dalam pernyataan anda sebelumnya, yang terbukti anda berbohong, anda mengatakan melihat Finch Wagner pada pukul 20.40. Anda menetapkan waktu pada 20.40 karena anda melihatnya lima menit sebelum anda tiba di apartemen Albert pada kali pertama. Dengan kata lain anda berpapasan dengannya pada pukul 20.20.”

“Anda memiliki insting yang sangat tajam Inspektur Roland. Saya yakin anda juga sudah mengetahui motif saya melakukan pembunuhan ini?”

Inspektur Roland mengangguk, Angle Bloom kembali berbicara “Bajingan itu! Albert Stanley sialan! Dia menghancurkan kehidupan saya! Dia menghancurkan suami saya! Dia mengkhianatinya! Merampas karya jeniusnya. Albert Stanley mungkin terkenal sebagai jenius matematika, namun suami saya jauh lebih jenius darinya. Michael hanya kurang percaya diri. Seharusnya ia langsung menyerahkan formula barunya pada komite persatuan ilmuwan matematika, bukan pada orang licik itu! Bajingan pengecut itu lalu mencuri hasil pemikiran Michael. Memenangkan hadiah nobel dengan sesuatu yang sama sekali bukan miliknya. Albert Stanley adalah orang menjijikan yang menusuk temannya dari belakang.”

“Dan anda menikam punggungnya dengan pisau.”

Angle Bloom tertawa puas, namun lama kelamaan tawanya berubah menjadi tangis penyesalan.

“Sersan Stanford, bawa tersangka ke bawah.” Perintah Inspektur

Sersan Stanford kemudian memborgol Angle Bloom dan membawanya ke mobil polisi. Inspektur Roland dan Detektif Henry mengikuti dari belakang.

Pukul 23.30
Bridge Stone Apartement, Area Parkir

“Aku utang satu penjelasan kepadamu Henry. Kau bertanya darimana aku tahu bahwa Finch Wagner berbohong. Dan sekarang kau pasti penasaran kebohongan seperti apa yang aku maksud.”

Detektif Henry mengangguk penuh semangat, tak sabar menunggu penjelasan Inspektur Roland.

“Mr. Wagner mengatakan bahwa ia terus duduk di kursi taman sejak ia meninggalkan apartemen korban sampai ia tertangkap. Ia berbohong. Tidak mungkin ia terus berada di taman itu, hujan yang turun sangatlah deras, bisa-bisa ia basah kuyup. Ia pasti pergi ke suatu tempat untuk berteduh. Hal inilah yang sebenarnya ingin ia sembunyikan.”

“Apa itu Inspektur?”

“Dia pergi ke sebuah bar, minum beberapa gelas, lalu kembali ke taman itu. Saat aku menyapanya aku mencium bau mint yang begitu menusuk dari mulutnya. Aku juga sempat melihat sebuah  pin AA (Alcohol Anonymous)  di kerah mantelnya. Jelas sekali bahwa ia tidak ingin orang lain tahu ia telah minum-minum, ia memakan banyak permen mint untuk menutupi bau alkohol. Tebakanku ialah ia tidak ingin istrinya mengetahui hal itu.”

“Kenapa anda berasumsi seperti itu Inspektur?”

“Kau akan mengerti setelah kau menikah.” Keduanya tertawa, lalu masuk ke dalam mobil Chevrolet kesayangan Detektif Henry.

“Satu hal lagi Henry. Siap lembur malam ini?”

“Saya tidak punya rencana lain. Lembur tidak masalah. Ada apa Inspektur?”

“Pecahkan pesan kematian yang ditinggalkan korban.”

“Bukankah pelakunya sudah kita tangkap Inspektur?”

“Memang, tapi aku tetap ingin kau memecahkannya. Lapor padaku besok pagi.”

“Baik Inspektur.” Detektif Henry hanya bisa menurut.

“Kuberi kau petunjuk.”

Detektif Henry mengeluarkan notebook dan pulpennya. Ia mencatat petunjuk yang diberikan Inspektur Roland.

Kertas.

Kertas karbon.

Plastik transparan.

10 comments on “Case Closed : Teka teki Detektif (38)

  1. Pingback: Case Closed : Teka teki Detektif (38) Part 2 | Black or White?

  2. Kayaknya ada yang janggal di ceritanya..
    Saya waktu baru baca setengah ceritanya udah yakin kalau malah si detektif henry pelakunya.. Hahaha ternyata salah
    Karena Heiji dan Bloom baru sampai di tempat Albert jam 20.45, sedangkan Henry melapor 15 menit setelah hujan berarti jam 20.29 + 15 = 20.44..
    Kalaupun jam yg disebutkan si inspektur cuma perkiraan, di ceritanya “Henry DATANG untuk melapor”
    Cepat sekali Henry datang padahal Bloom dan Heiji baru menemukan Albert jam 20.45
    Hehehe CMIIW

    Like

    • Untuk masalah itu coba baca bagian ini..

      “Hujan yang meskipun turun begitu deras, ternyata tidak berlangsung lama. Tidak lebih dari tiga menit hujan langsung berhenti. Well, namun hal itu tetap saja membuat jalan yang akan ditempuh Inspektur menjadi kotor.” –> waktu menunjukan 20.29

      “Inspektur tidak lagi memikirkan kapan ia pulang atau kotornya jalan. Di depannya telah menumpuk dokumen-dokumen penting yang harus ia baca dan tandatangani. Meskipun pekerjaan di balik meja bukanlah sesuatu yang dapat ia nikmati, namun jika tidak diselesaikan dengan segera, tumpukan dokumen tersebut akan terus bertambah. Dengan sedikit rasa terpaksa ia mulai membaca dokumen-dokumen itu satu persatu.” –> setidaknya satu menit berlangsung dalam cerita.

      “Seperempat jam kemudian ia telah menyelesaikan sepertiga bagian dari tumpukan dokumen yang ada. Di saat yang bersamaan Detektif Henry datang untuk melapor, ada peristiwa pembunuhan di sebuah apartemen. Kali ini, dengan senang hati Inspektur bersedia ikut menyelidiki kasus tersebut.” –> 20.45, Henry mendapat telepon dari Heiji, lalu langsung melapor

      Btw, anda jeli sekali melihat perbedaan waktu sedikit seperti itu.. ^^

      Like

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s