Case Closed : Teka teki Detektif (37)


Akhirnya, cerita pengungkapan kasus oleh Inspektur Roland telah selesai. Kini readers bisa melihat analisis kasus oleh Inspektur Roland dan membandingkannya dengan analisis readers sendiri. Menurut saya sendiri pemecahan kasus dalam cerita ini tidak sistematis. Maaf, saya kurang sering menulis pemecahan kasus dalam bentuk cerita. Jika ada kekurangan saya mohon kritiknya. Meskipun ada kekurangan dalam penyampaian pemecahan kasus, kebenaran kasus tetap seperti dalam cerita ini. Jika readers bisa merangkum maksudnya, readers pasti paham. Untuk yang belum mencoba teka-tekinya silahkan klik disini https://inurhadi.wordpress.com/2013/06/01/teka-teki-detektif-37/

Silahkan membaca, tunggu kasus selanjutnya..😀

 

Inspektur Roland memasukan handphone ke saku mantelnya. Segalanya sudah beres, surat penangkapan sedang diurus Detektif Henry sesegera mungkin. Tinggal satu hal lagi, mempermudah proses penangkapan. Dan Inspektur tahu betul harus berbuat apa. Ia berbalik, lalu berjalan kembali menuju rumah yang baru saja ia kunjungi.

Lima belas menit kemudian tiga mobil polisi tiba di depan rumah Antoni McMillan. Detektif Henry dan dua petugas polisi berjalan ke pintu masuk, sementara dua petugas polisi lainnya berjaga-jaga. Pintu rumah terbuka, Inspektur Roland menahan pintu sambil mempersilahkan seseorang untuk keluar. Rupanya tak hanya seorang yang berjalan keluar, namun tiga. Carlos, Brian, dan Lista.

“Henry, kau tepat waktu. Tangkap mereka bertiga atas tuduhan pembunuhan berencana.” Ujar Inspektur pada Detektif Henry.

“Baik, Inpektur. Officers, you heard the Inspector.

Kedua petugas polisi memborgol Carlos dan Brian, sementara Detektif Henry memborgol Lista. Ketiga tersangka itu kemudian digiring masuk ke mobil patroli. Detektif Henry menoleh ke arah Inspektur yang masih berbicara kepada Marya. Inspektur berpamitan untuk kedua kalinya kemudian berjalan meninggalkan rumah penulis terkenal itu.

“Butuh tumpangan Inspektur?  Saya tidak melihat mobil anda di sekitar sini.”

“Terima kasih, Henry.” Jawab Insektur sambil membuka pintu mobil.

Detektif Henry yang sudah duduk di belakang kemudi menyalakan mesin, memasukan persneling, lalu melaju mengikuti dua mobil polisi yang berpenumpangkan ketiga tersangka tadi. Di tengah perjalanan, rasa penasaran Detektif Henry membuatnya berani untuk mengungkapkan pertanyaan pada atasannya yang sedari tadi belum membuka mulut sama sekali.

“Inspektur, saya sama sekali belum mengerti. Mengapa kita menangkap tiga tersangka yang juga penghuni rumah? Saya kira pelakunya hanya seorang dan itu pun orang luar.”

“Ya, memang, pelakunya orang luar. Setidaknya itu yang direncanakan mereka bertiga. Membuat peristiwa tersebut terlihat seperti perbuatan orang luar.”

Detektif Henry diam beberapa saat. Ketika ia hendak bertanya kembali, Inspektur telah lebih dulu melanjutkan.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Darimana aku tahu ini bukan perbuatan orang luar? Henry, kau masih ingat bukti yang kita dapat di TKP?”

“Tentu Inspektur. Jendela di ruang tengah terbuka, dan terdapat bekas buka paksa di kusen luar jendela. Kamar korban berantakan. Lalu jendela di ruang kerja korban juga terbuka, dan kacanya dipecahkan. Kesimpulan yang bisa kita dapat ialah, seseorang masuk ke rumah tersebut dengan mencongkel jendela ruang tengah. Kemudian masuk ke ruang kerja korban, membunuh korban, mencari sesuatu, lalu kabur melalui jendela ruang kerja. Tak lupa beberapa penghuni rumah mendengar langkah kaki seseorang di ruang tengah, dan ada tetangga yang melihat siluet seseorang di pekarangan depan rumah korban. Semuanya cocok, bukti menunjukan orang luar lah pelakunya.”

“Bagus, kau sudah paham secara garis besar. Sekarang aku punya pertanyaan untukmu, jika memang pelakunya orang luar apa motifnya?”

“Saya rasa tidak ada. Sepertinya niat awal pelaku adalah mencuri, namun pelaku salah masuk ruangan yang ternyata ada seseorang di dalamnya, yaitu Antoni. Takut perbuatannya dilaporkan, ia pun membunuh korban. Lalu mencari barang berharga di ruangan itu. Namun kemudian listrik kembali menyala, si pelaku menjadi panik. Akhirnya dengan terburu-buru ia kabur melalui jendela ruang kerja.”

“Tunggu sebentar Henry. Kau bilang listrik yang tiba-tiba menyala membuat pelaku panik. Maksudmu pelaku melakukan aksinya ketika listrik mati? Berarti si pelaku tahu bahwa listrik di rumah tersebut akan mati. Darimana si pelaku tahu hal itu? Listrik di rumah mati karena Brian menjatuhkan pencukur otomatisnya ke bathtube saat ia mandi, terjadi korsleting listrik, dan listrik rumah pun mati. Tidak mungkin si pelaku bisa memprediksi hal tersebut, bukan?”

“Itu gampang saja Inspektur. Bagaimana jika M.O. (modus operandi) si pelaku (pencuri) adalah membuat listrik di rumah target pencuriannya mati, lalu menggasak harta benda pemilik rumah dalam kegelapan itu. Dia memakai kacamata khusus (night vision) untuk melihat di kegelapan. Si pelaku memang tidak memperkirakan terjadinya korsleting listrik di rumah tersebut. Namun melihat rumah korban yang gelap gulita, si pelaku tidak bisa melewatkan kesempatan emas di depan mata. Ia bisa saja berasumsi bahwa rumah tersebut ditinggalkan pemiliknya, dan itu mempermudah pelaku untuk beraksi. Si pelaku beruntung dan sial di saat yang bersamaan.”

“Teorimu cukup bagus Henry. Karirmu bisa berkembang dengan baik jika saja kau memperhatikan teori dengan bukti di lapangan.”

“Maaf, Inspektur. Apa maksud anda? Teori saya sudah cocok dengan bukti. Jendela yang dicongkel dari luar, ruang kerja yang berantakan, jendela ruang kerja yang terbuka.”

“Ya, namun hanya sebagian bukti yang cocok dengan teorimu. Ada bukti lain yang tidak cocok dengan teorimu. Jika memang tujuan pelaku adalah mencuri, mengapa ia masuk ke ruang kerja? Padahal di ruang tengah terdapat barang-barang yang cukup  berharga. Lemari yang penuh dengan pernak pernik dari cina, juga satu set home theater. Barang-barang tersebut cukup berharga, bukan? Lantas mengapa pelaku tidak menyetuhnya sama sekali? Lalu kenapa ia masuk ke ruang kerja yang pintunya berada di pojok ruangan? Letaknya cukup tersembunyi. Tidak, Henry. Tidak pernah ada seorang pencuri yang masuk ke rumah korban.”

Detektif Henry dengan ragu menyampaikan pendapat barunya. “Mu-mungkin pelaku memang bukan pencuri, tapi orang yang menyimpan dendam pada korban. Dia lalu mengobrak-abrik ruang kerja agar perbuatannya terlihat seperti ulah pencuri.”

“Cepat sekali kau mengubah pendapatmu. Itu artinya teorimu masih terlalu mentah. Baiklah, sekarang akan kujelaskan darimana aku tahu ini bukan perbuatan orang luar. Semua bukti memang tampak mendukung teori orang luar, namun ada satu bukti yang berkontradiksi dengan teori tersebut. Pecahnya kaca jendela di ruang kerja.

“Kaca jendela yang pecah. Bukankah kaca jendela dipecahkan pelaku untuk kabur? Di dalam ruang kerja tidak ada pecahan kaca, jadi siapa pun yang menyebabkan kaca pecah berada di dalam ruangan. Selain korban yang sudah mati, yang berada di dalam ruang kerja hanya pelaku. Pelakulah yang memecahkan kaca. Untuk apa? Untuk kabur tentunya.”

Inspektur tersenyum mendengar pendapat juniornya tersebut. “Henry, jika kau berada dalam ruangan dan hendak keluar melalui jendela. Bukankah kau akan membuka jendela lalu melewatinya? Adakah alasan untuk memecahkan kacanya? Tidak ada, kan? Lalu menurutmu mengapa pelaku memecahkan kaca?”

Lampu merah memberi Detektif Henry sedikit waktu untuk berpikir.

“Jika pelaku orang luar, memang tidak ada alasan logis bagi pelaku untuk memecahkan kaca. Pelaku panik, sehingga kaca pecah ketika ia keluar? Tidak, tetap tidak masuk akal. Jika pelaku bukan orang luar, dengan kata lain pelakunya orang dalam, yaitu salah satu penghuni rumah. Pelaku membuat peristiwa tersebut terlihat seperti perbuatan orang luar. Untuk menyempurnakan rencananya, pelaku harus mempunyai alibi ketika peristiwa terjadi. Pecahnya kaca yang terdengar ke penjuru rumah memberikan kesan terjadi sesuatu. Jika pelaku mengaku berada di dalam sebuah ruangan ketika terdengar kaca pecah, alibinya menjadi kuat dan kecurigaan terhadap orang luar semakin besar. Itulah alasan pelaku memecahkan kaca.” Akhirnya Detektif Henry bisa mengikuti alur pemikiran Inspektur Roland.

“Ya, itulah alasan pelaku memecahkan kaca. Memperkuat alibi  dan menaruh kecurigaan ke pihak luar. Sekarang kemungkinan pelaku adalah orang dalam semakin besar. Namun siapa? Awalnya aku sempat ragu dengan teoriku sendiri, Henry, namun pagi ini aku menjadi yakin. Aku yakin bahwa pelakunya adalah Carlos, Brian, dan Lista.”

“Mengapa mereka bertiga Inspektur?”

Lampu kembali berubah menjadi hijau, Detektif Henry menjalankan kembali mobil Chevrolet-nya.

Inspektur Roland kemudian berkata, “Kasus ini dibuat seperti perbuatan orang luar. Berarti salah satu penghuni rumah lah yang mencongkel jendela ruang tengah, membunuh korban, mengobrak-abrik ruang kerja, membuka jendela ruang kerja dan memecahkan kacanya. Namun siapa yang memiliki kesempatan dan waktu untuk melakukan semua hal tersebut? Pertama, siapa yang mencongkel jendela ruang tengah? Coba kau ingat-ingat kembali denah rumah korban dan dimana para penghuni rumah saat itu. Menurutmu siapa yang paling berkesempatan besar untuk melakukannya?”

Detektif Henry mengingat kembali kedua hal tersebut. “Menurut saya ada dua orang yang berkemungkinan paling besar untuk melakukan hal itu. Marya dan Lista. Marya berada di dapur, ia bisa saja keluar melalui pintu belakang yang ada di dapur lalu berjalan ke pekarangan depan untuk mencongkel jendela.  Kedua, Lista. Ia berada di ruang baca yang memiliki dua pintu, satu yang membuka ke ruang tengah satu lagi ke ruang tamu. Lista bisa dengan mudah menyelinap melalui pintu ke ruang tamu, keluar melalui pintu depan, kemudian mencongkel jendela. Sedangkan ketiga penghuni rumah lain berada di ruangan yang jauh dengan pintu keluar, sehingga kemungkinan perbuatannya diketahui di tengah jalan sangat besar.”

Inspektur kagum pada bawahannya ini. Henry memang memiliki potensi yang besar, kekurangan yang dimilikinya hanyalah pengalaman yang masih sedikit. Henry masih hijau. Pikir Inspektur Roland.

Inspektur berkata, “Marya memang memiliki kesempatan yang hampir sama dengan Lista. Namun Lista lah yang mencongkel jendela, bukan Marya. Lista mengaku ia berada di ruang baca dari pukul 21.12 dan baru keluar sekitar pukul 21.30 saat terdengar pecahan kaca. Jadi kira-kira selama 18 menit Lista terus berada di ruang baca. Kau ingat interior di ruang baca? Di sana terdapat perapian yang masih menyala ketika kita melakukan penyelidikan. Berdasarkan jumlah kayu yang terbakar, perapian mulai dinyalakan sekitar waktu Lista masuk ke ruang baca. Lista lah yang menyalakan perapian. Namun ada hal yang janggal. Pada saat dimintai keterangan Lista memakai pakaian berlapis, juga mengenakan sebuah scarf. Untuk apa ia memakai pakaian hangat jika ia menghabiskan waktu di sebuah ruangan dengan perapian menyala?”

Detektif Henry menyela penjelasan Inspektur, “Mungkin Lista memakai blazer dan scarf  setelah ia keluar dari ruang baca.”

“Tidak, Henry. Aku sudah bertanya pada petugas polisi yang tiba di kediaman korban semenit setelah panggilan 9-1-1. Salah satunya mengingat bahwa pakaian Lista sudah seperti itu ketika mereka tiba di sana. Satu lagi, kau ingat apa yang dipakai Brian? Brian hanya memakai bathrobe saat itu. Ia tidak memiliki waktu untuk mengganti baju sama sekali, sampai penyelidikan dihentikan. Intinya, saat itu tidak ada waktu untuk mengganti pakaian. Jadi, mengapa Lista memakai pakaian hangat di ruangan dengan perapian menyala? Jawabannya ialah, ia tidak berada di ruangan itu. Lista menyalakan perapian di ruang baca sebagai alibi ia berada di sana, namun sebenarnya ia pergi keluar untuk mencongkel jendela. Dan udara malam yang dingin saat itu membuat Lista memakai blazer dan scarf  agar tidak kedinginan. Kau ingat bekas congkelan di jendela itu? Terdapat banyak bekas congkelan, artinya si pelaku kesulitan mencongkel jendela. Jika pelakunya adalah pencuri yang ahli, tidak mungkin ia kesulitan melakukan hal tersebut. Tapi Lista, ia seorang wanita dan juga bukan seorang pencuri, pantas jika ia kesulitan mencongkel jendela.”

“Itu artinya semua keterangan dari Lista adalah bohong? Tapi Lista mengaku mendengar suara langkah kaki di ruang tengah, dan Anna juga mendengarnya. Apa Anna juga berbohong? Kenapa ia tidak ditangkap?” Tanya Detektif Henry.

“Waktu ketika mereka mendengar suara langkah kaki berbeda. Nanti kita akan sampai pada poin tersebut. Kembali pada Lista, Ia lah yang mencongkel jendela. Namun apakah ia juga yang membunuh korban? Ingat keterangan dari Marya, 5 menit setelah listrik mati Lista berteriak pada Marya untuk mengecek sekring di luar. Mengapa menunggu 5 menit? Waktu 5 menit tersebut cukup untuk membunuh korban, jadi kita asumsikan pembunuhan terjadi dalam kurun waktu tersebut. Jika Lista adalah sang pembunuh, dalam kurun waktu 5 menit tersebut ia membunuh korban dan mengobrak-abrik ruang kerja. Kemudian setelah selesai ia meminta Marya untuk mengecek sekring rumah agar listrik rumah kembali menyala. Ia tunggu sampai listrik menyala, ketika menyala ia memecahkan jendela ruang kerja yang sudah ia buka terlebih dahulu untuk menarik perhatian penghuni rumah dan menyempurnakan rencananya. Lalu ia berkumpul dengan penghuni rumah lain di ruang tengah dengan wajah tak berdosa. Bagaimana? Masuk akal bukan?”

Detektif Henry menjawab, “Ya, hal tersebut memang masuk akal. Tapi Inspektur..”

“Aku tahu, jika pembunuhnya Lista mengapa Carlos dan Brian juga kita tangkap? Jawabannya ialah karena Lista bukanlah pembunuh Antoni. Ada kesalahan dalam teori yang aku kemukakan tadi. Aku berharap kau menyadarinya, namun ternyata tidak. Lista tidak mungkin melakukan hal tersebut. Saat terdengar suara pecahan kaca, Marya langsung bergegas ke ruang tengah. Di sana keempat anaknya sudah keluar dari ruangan tempat mereka berdiam diri. Carlos dan Anna di depan kamar mereka masing-masing, Brian di depan kamar mandi, Lista di depan ruang baca. Jika Lista yang membunuh korban dan memecahkan kaca, ia tidak mungkin berada di depan ruang baca sesaat setelah bunyi pecahan terdengar. Jaraknya terlalu jauh. Jika ia keluar dari ruang kerja lewat pintu, ia bisa tertangkap tangan oleh Marya yang langsung menuju ke ruang tengah. Lista bisa terlihat berlari dari arah ruang kerja oleh Marya. Jika ia keluar melalui jendela, waktu yang dibutuhkan terlalu lama. Pembunuh Antoni bukanlah Lista.”

Detektif Henry akhirnya menyadari sesuatu, “Inspektur, itu artinya. Carlos. Carlos lah yang membunuh korban.”

“Ya, dari semua penghuni rumah ia lah yang paling dekat dengan ruang kerja. Satu hal yang menarik. Interior di ruang kerja sama dengan di ruang baca, mencakup juga dinding yang dilapisi soundproof. Lantas mengapa ketika kaca dipecahkan, suaranya bisa sampai terdengar ke dapur yang berada cukup jauh? Padahal saat penghuni rumah hendak memeriksa keadaan Antoni, pintu tertutup. Jika pintu tertutup ketika kaca dipecahkan, suara pecahan kaca tidak akan terdengar sampai dapur. Lantas mengapa Marya mendengar pecahan kaca? Itu karena pada saat memecahkan kaca, Carlos membiarkan pintu terbuka agar ia bisa keluar dari ruang kerja dengan cepat dan tiba di depan pintu kamarnya sebelum penghuni rumah lain (Marya dan Anna, mengingat kedua penghuni rumah merupakan komplotannya) sampai di ruang tengah. Bukti lain yang mengarah pada Carlos ialah tikaman pisau. Korban ditikam di leher bagian belakang, atau lebih tepatnya di bagian medula oblongata. Jika pembunuh dengan tepat menusuk bagian tersebut, korban akan langsung mati seketika tanpa bisa berteriak atau mengerang sekalipun. Siapa lagi diantara penghuni rumah yang memiliki pengetahuan tentang hal tersebut selain Carlos yang merupakan seorang mahasiswa kedokteran. Thus, I conclude that Carlos is the killer.

I see.. Jadi secara singkat kejadiannya seperti ini. Lista berperan sebagai pembobol rumah yang masuk melalui jendela ruang tengah, dan Carlos sebagai pembunuh sekaligus pembobol rumah yang kabur melalui jendela ruang kerja. Lalu bagaimana dengan Brian? Darimana anda tahu Brian juga terlibat, Inspektur?” Tanya Detektif Henry.

“Awalnya aku juga tidak begitu yakin Henry. Pertama aku hanya mencurigai Lista dan Carlos. Secara garis besar rencana mereka adalah membuat peristiwa ini terlihat seperti perbuatan orang luar. Namun pada saat beraksi listrik rumah mati, dan mereka tetap melanjutkan aksinya. Listrik mati adalah hal yang tidak termasuk rencananya, yang berarti hal tersebut adalah hambatan bagi rencana mereka. Yet, they stick with their plan. Why? Karena listrik mati termasuk dalam rencana mereka. Berarti siapapun yang menyebabkan matinya listrik adalah komplotan Carlos dan Lista.

“Aku semakin yakin setelah mengingat keterangan dari Anna. Anna berkata bahwa ia mendengar suara langkah kaki di ruang tengah, diikuti dengan suara ketukan yang khas. Mungkin kau menyimpulkan bahwa apa yang didengar Anna adalah langkah kaki penyusup, memperkuat pengakuan Lista. Namun ingat, Anna mendengar suara langkah kaki sesaat sebelum listrik mati sedangkan Lista mendengar suara langkah kaki ketika listrik mati. Sebelumnya kita sudah membuktikan bahwa Lista memalsukan alibinya, dan pengakuannya mendengar suara langkah kaki juga hanyalah salah satu kebohongannya. Lagipula ia berada di ruang baca yang dilapisi kedap suara, benarkah ia bisa mendengar suara langkah kaki dari ruang tersebut. Lista berbohong, lantas bagaimana dengan langkah kaki yang di dengar Anna?

“Keterangan lengkap dari Anna adalah ‘Sesaat sebelum listrik mati saya mendengar suara sesuatu terbuka dan kemudian langkah kaki seseorang di ruang tengah. Saya penasaran namun tidak berani mengintip, jadi saya hanya mendengarkan di balik daun pintu. Kemudian terdengar suara ketukan khas, saya lupa bunyinya seperti apa, namun ketukannya tidak sembarangan. Beberapa saat kemudian barulah listrik rumah mati.’

“Anna medengar suara sesuatu terbuka, kemudian suara langkah kaki. Suara yang ia dengar berasal di ruang tengah. Jendela di ruang tengah terbuka, dicongkel dari luar. Suara sesuatu terbuka adalah suara jendela ruang tengah yang berhasil dicongkel oleh Lista, dan langkah kaki yang didengar Anna merupakan langkah kaki Lista. Selanjutnya, Anna medengar suara ketukan yang khas, beberapa saat kemudian listrik mati. Suara ketukan khas diikuti listrik mati..”

Detektif Henry menyela penjelasan Inspektur, “Ketukan adalah sinyal kepada seseorang untuk membuat listrik rumah mati.”

“Betul sekali, Henry. Berikutnya tunggu sampai penjelasanku selesai.”

“Maaf Inspektur, saya tidak bermaksud untuk..”

“Haha, tenang Henry. Aku hanya bercanda. Ok, seperti katamu tadi, ketukan adalah sinyal yang diberikan Lista pada seseorang untuk membuat listrik mati. Dan orang yang dituju tak lain adalah Brian. Setelah mendengar ketukan, Brian menjatuhkan pencukur otomatisnya ke bathtube, menyebabkan terjadinya korsleting listrik. Listrik mati merupakan sinyal berikutnya, untuk Carlos. Carlos keluar dari kamarnya ketika listrik mati, kemungkinan ia membawa senter kecil untuk membantunya beraksi. Masuk ke kamar Antoni, berbasa-basi, Antoni  yang sibuk menulis bukunya tidak terlalu mencurigai Carlos, lalu di saat yang tepat Carlos menikam Antoni tepat di medula oblongata. Seketika, Antoni meninggal.

“Di luar, Lista menunggu sampai lima menit untuk meminta Marya mengecek sekring rumah. Lalu menunggu di ruang baca, hingga listrik menyala, kemungkinan dengan pintu sedikit terbuka agar ia bisa mendengar suara pecahan kaca. Sayangnya, terjadi mati listrik  betulan. Ada kerusakan di power plant setempat. Listrik menyala lima menit lebih telat dari yang mereka rencanakan, namun tidak berpengaruh buruk bagi rencana mereka. Listrik menyala, Carlos memecahkan kaca, kemudian bergegas keluar melalui pintu yang ia biarkan terbuka lebih dulu.  Dan, voila, rencana mereka berhasil. Kedatangan Marya memastikan alibi mereka. Namun mereka tidak sadar, banyak jejak yang mereka tinggalkan dalam melaksanakan rencana tersebut.”

Kedua penegak hukum tersebut terdiam beberapa saat. Mobil yang mereka naiki sekarang sudah tiba di parkiran kantor polisi. Detektif Henry mematikan mesin mobil. Sebelum keluar dari mobil, Inspektur Roland buka bicara

“Dari awal penyelidikan kasus ini, Henry, aku sudah menduga bahwa ini perbuatan orang dalam. Namun aku menyadari bahwa peristiwa yang terjadi tidak mungkin dilakukan seorang diri. Kemudian terpikirlah teori gila tadi, yang meskipun terdengar tidak biasa namun itu pulalah yang terjadi. Mungkin kau perlu catat hal ini, Henry. Sometimes you should think outside the box to figure something out.

Detektif Henry mengangguk horrmat pada Inspekturnya itu. Inspektur Roland hendak melepaskan sabuk pengaman ketika Detektif Henry kembali bertanya.

“Inspektur, anda sudah mencurigai adanya perbuatan orang dalam dari awal penyelidikan. Mengapa baru dua hari setelahnya kita melakukan penangkapan? Dan apa motif mereka? Uang warisan?”

Inspektur sudah terbebas dari sabuk pengaman, ia menjawab. “Aku tidak terlalu yakin, awalnya. Memang, aku sudah mencurigai perbuatan orang dalam setelah melihat kaca yang dipecahkan. Kemudian mencurigai Lista yang kurang begitu ahli dalam menyembunyikan fakta. Carlos yang posisinya paling strategis dan berpengetahuan di bidang medis. Juga Brian yang menjatuhkan pencukur otomatis ke dalam bathtube.

“Namun anehnya Brian mengakui perbuatannya tersebut, aku jadi semakin ragu. Apakah Brian memang terlibat? Atau korsleting listrik hanyalah sebuah kebetulan? Dan tadi, ketika aku berkunjung untuk meminta tanda tangan dokumen autopsi, aku menjadi yakin bahwa Brian terlibat dalam kasus pembunuhan ini. Hari ini Brian menerima sebuah paket, isinya  pencukur otomatis yang baru. Dia mengaku memesannya kemarin, karena rambut wajahnya memang harus segera dirapikan. Sebuah tindakan ceroboh dari Brian. Kau tahu Henry, Jasa pengantar paket, baik di kantor pos maupun jasa swasta lainnya sama-sama menyediakan jasa antar kilat. Hari ini kau mengirim barang, keesokan harinya barang sampai di tujuan.

“Brian mengaku memesan pencukur otomatis kemarin, dan hari ini paket tersebut tiba. Berarti toko yang mengirim paket untuk Brian memakai jasa antar kilat. Namun sialnya, Brian lupa bahwa kemarin adalah hari libur. Di hari libur kantor pos dan jasa antar lainnya sama-sama libur, tidak beroperasi. Memang bisa saja ia memesan pencukur otomatis itu hari kemarin, masih mungkin ada toko yang buka, tak lupa toko-toko online yang tidak pernah tutup. Namun meskipun Brian memesan kemarin, pihak toko tidak bisa mengirim pesanan hari itu juga (pengantar paket yang libur). Artinya pihak toko baru bisa memproses pengiriman hari ini, dan seharusnya paket tiba besok. Namun sekarang pun paket sudah tiba. Artinya Brian berbohong, ia tidak mungkin memesannya kemarin. Berarti ia memesannya kemarin lusa (paket kilat namun terhambat oleh satu hari libur), atau hari hari sebelumnya (bukan paket kilat). Yang berarti Brian tahu bahwa pencukur kumisnya akan rusak. Karena dalam rencana yang disusunnya bersama kedua saudaranya itu, listrik rumah harus dibuat mati, dan Brian-lah yang mendapat tugas untuk membuat listrik mati.”

“Deduksi yang hebat Inspektur. Saya masih perlu belajar banyak dari anda, sir.

“Oh, satu hal yang tertinggal. Motif perbuatan mereka. Motifnya uang, namun bukan untuk tujuan pribadi. Niat mereka sebenarnya baik, Henry. Andaikan sang ayah tidak terlalu pelit dan peduli pada kondisi keluarganya, peristiwa ini tidak akan terjadi. Kau mengerti maksudku?”

“Saya mengerti, Inspektur.”

Keduanya kemudian keluar dari mobil. Inspektur berjalan beberapa langkah dari tempat parkir, sedangkan Detektif Henry berdiri diam di samping pintu mobilnya.

“Inspektur, satu hal lagi.”

Inspektur menghela nafas, kemudian berbalik.

“Apa lagi, Henry?”

“Tulisan di layar laptop korban. Saya baru teringat sekarang. Apa itu dying message dari korban? Apa artinya? Carlos?”

Inspektur tertawa geli, kemudian meninggalkan Detektif Henry yang berdiri dengan ekspresi bingung. Inspektur berkata, “Try smashing your face on the keyboard, Henry.”

10 comments on “Case Closed : Teka teki Detektif (37)

  1. fan.. ga kepikiran kalo carlos bohong..
    padahal simple banget..
    hahahaha…

    wuihhh kasusku di publish nih?? !! makasih banget fan..
    akhirnya blog ini hidup kembali..

    trims fan..

    Like

  2. Masih perlu banyak latihan ternyata ya =D
    ternyata orang ketiga adalah Carlos.

    tetapi ada dua hal yg menggangguku inspektur, he he
    pertama, kenapa Carlos memecahkan kaca setelah lampu menyala? kenapa tidak setelah selesai membunuh dan mengobrak-abrik ruangan tersebut kemudian lngsung memecahkan kaca mumpung listrik belum menyala? bukankah lebih aman jika listrik masih padam?

    yg kedua, saya sudah coba meletakkan kepala d keyboard, hasilnya ada huruf yg terus terpencet sehingga terus berulang misal hhhhhhhhhhhhhhhhhh dst. kenapa di laptop tersebut tidak terjadi demikian?

    he he
    maklum lah amatir

    Like

    • Hehe, terima kasih udah mau mencoba kasusnya.. ^^

      Sebenarnya sengaja saya buat begitu agar pembaca bisa mencurigai Carlos. Jika kaca dipecahkan ketika mati lampu kecurigaan bisa terbagi ke setiap tokoh, juga merombak keseluruhan cerita yang sudah ada. Yang kita bahas disini kan teka teki, bukan perfect murder.

      Ya hasilnya emang gabakal sama. tergantung tekstur muka seseorang. yang tercantum di teka teki sendiri hasil dari ‘ketikan’ muka saya. tapi gampangnya gini, jika pas di tengah keyboard deretan yang terpencet adalah antara “4 5 6 7 r t y u” yang bisa terpencet oleh jidat. sisanya “v b n g h ‘space’ “, yang kemungkinan terpencet oleh hidung (tergantung pesek atau tidaknya). hal ini belum pasti sih, hanya penalaran saja. tapi jika sangsi, silahkan dicoba.

      Like

  3. hahaa…jadi mereka semua terlibat yaa…
    iya sih, keterlibatan mereka bertiga buat melakukan serangkaian rencana pembunuhan ini, jd terlihat lebih jelas dan masuk akal…😀
    g nyangka Carlos terlibat…padahal ada kesempatan juga buat Carlos buat membunuh korban…pelaku utama pula…ckckck

    Like

    • Ya, Carlos emang sengaja tidak terlalu ditonjolkan agar menjadi kejutan yang tak terduga. tapi, seperti kata aris, Carlos juga punya kesempatan. kesempatan paling besar pula..😀

      Ditungu analisisnya di kasus ke-38.. ^^

      Like

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s