Shinkansen Tragedy (3)


Perasaan yang kurasakan saat ini sama seperti yang kurasakan waktu itu. Yaitu pada saat aku menemukan sosok teman baikku, Dina, dalam keadaan terbujur kaku di laboratorium. Terus terang salah satu kelemahan terbesarku adalah perasaanku yang mudah terbawa keadaan. ‘Faktor perasaan kadang membuat pemikiran seseorang menjadi kacau’, ungkapan itu pernah diucapkan oleh Holmes kepada rekan setianya Dr. Watson. Setidaknya itu salah satu bahan pembelajaran yang harus kuperhatikan jika aku ingin mencapai cita-citaku.

Cukup lama aku berdiri di ambang pintu, berdiri dengan tatapan kosong keterkejutan sambil berusaha mengendalikan perasaanku ini.

“MUSASHI-SAN!”

Tiba-tiba terdengar suara jeritan perempuan disampingku, memanggil nama Musashi-san yang sekarang sudah kaku tidak bisa bergerak juga menjawab panggilannya itu. Kemudian dia hendak melangkahkan kaki ke dalam toilet ini, dengan refleks aku mencegahnya. Kutahan langkahnya itu dengan tanganku.

“Maaf nona, anda tidak boleh melangkahkan kaki anda ke dalam. Bagaimanapun ada kemungkinan ini sebuah kasus pembunuhan, karena itu anda tidak boleh masuk ke dalam toilet yang merupakan TKP ini.”

Dengan geram perempuan ini menjawab, “Apa hakmu melarangku! Seharusnya aku yang mengatakan itu kepadamu.”

Dia merogoh saku jaketnya kemudian dia berkata, “Polisi! Harap anda sekalian mundur, akan segera dilakukan penyelidikan disini. Terutama bagi anda.” Dia menoleh kepadaku.

Penumpang lain yang tadinya mengerubungi sekitar toilet mulai memberi ruang bagi polisi wanita ini untuk menyelidiki TKP. Perempuan anggota kepolisian ini pun langsung menyelidiki TKP, tapi sebelum itu dia menanyai beberapa penumpang perihal ditemukannya mayat di toilet ini. Dan aku, meski aku baru sebentar mengenal Musashi-san, aku tidak tahan jika hanya berdiam diri melihat wanita ini menyelidiki perihal kematian Musashi-san. Naluriku mendorongku untuk menyelidiki kematian Musashi-san dengan tanganku sendiri. Tanpa menghiraukan peringatannya tadi aku lantas menyelidiki toilet ini.

Toilet ini cukup bersih, meski penerangannya yang agak kurang membuat benda – benda di dalamnya terlihat samar karena kurangnya pencahayaan itu. Mayat Musashi-san terduduk menyamping di kloset toilet, posisi duduknya ini menurutku nampak tidak wajar. Hal lain yang membuatku heran adalah ekspresi wajah Musashi-san, wajahnya sangat tenang, seperti tidak ada hal berbahaya yang telah terjadi. Selain wajahnya menunjukan perasaan damai, di toilet ini juga tidak ada tanda-tanda adanya tindak kekerasan, tidak ada noda, bercak ataupun genangan darah. Sejauh aku menyelidiki tidak ada luka di tubuh Musashi-san, baik luka benda tumpul, bekas jeratan tali, ataupun luka tembak. Sehingga aku menyimpulkan dia meninggal secara alamiah.

Namun kesimpulanku itu nampaknya gugur karena di atas lantai toilet itu tergeletak sebuah logam panjang yang mempunyai sedikit noda darah di ujungnya yang runcing. Aku baru menyadari adanya benda ini karena letaknya yang berada di bawah kloset, juga dikarenakan penerangan toilet yang buruk. Dari bentuknya kukira benda ini semacam jarum namun ukuran diameternya bisa dibilang cukup tebal dibanding jarum biasa.

Seorang pria yang meninggal, tidak ditemukan tanda tindak kekerasan lain, dan sebuah jarum tergeletak di TKP. Hal yang dapat ditarik dari fakta – fakta tersebut ialah, Musashi-san meninggal karena racun dalam jarum tersebut. Kesimpulanku itu nampaknya sudah jelas ketika aku memeriksa mayat Musashi-san sekali lagi, di bagian atas lengan atasnya terdapat sebuah luka tusukan. Nampak dalam kurasa, dan kebetulan sekali letak luka tersebut dekat atau bahkan ‘mungkin’ menusuk bagian pembuluh vena. Dan jika tusukan jarum tadi memang mengenai pembuluh vena, maka tak dielakan lagi, Musahi-san pasti langsung meninggal karenanya.

“Hei apa yang kau lakukan?! Bukankah aku menyuruhmu untuk menjauhi TKP ini! Ini namanya kau melanggar..”

“Musashi-san meninggal karena racun. Aku belum tahu jenis racunnya, namun sudah pasti ia meninggal karena racun. Racun itu terdapat dalam jarum ini.” Kataku memotong perkataan perempuan itu.

“Tetap saja kau ini mengganggu pekerjaan polisi!” Jawab perempuan itu dengan sengit.

“Suhu tubuh Musashi-san masih hangat, kemungkinan besar waktu kematiannya 10-30 menit yang lalu.”

“Kau ini sebenarnya apa-apaan hah?!” Rupanya kesabaran perempuan ini habis, dia mencengkram kerah bajuku sambil menatap mataku dengan tatapan yang garang. Kulepaskan cengkramannya itu dan aku berkata.

“Masih belum mengerti rupanya. Jelas saja, saya sedang menyelidiki kematian Musashi-san. Anda sendiri mengenalnya dengan baik kan? Dia bukan tipe orang yang gampang bunuh diri, maka dari itu saya menyelidiki apa penyebab kematiannya. Anggap saja saya seorang partner penyelidikan anda, lumayan kan mengingat polisi yang ada di dalam kereta ini hanya anda seorang. Lebih tepatnya polisi yang tengah cuti, namun membawa – bawa lencananya.”

Dia nampak kaget mendengar perkataanku itu, matanya terus memelototi mataku namun bukan dengan tatapan garang lagi melainkan tatapan keheranan.

“Darimana kau tahu semua itu?”

“Anda salah seorang penumpang di gerbong nomor lima kan?

“Iya, sekarang lekas beri tahu aku darimana kau tahu aku sedang tidak bertugas.”

“Gampang saja, dari sejak menemukan mayat Musashi-san anda belum menghubungi seseorang pun di kereta ini. Artinya anda tidak bersama rekan kerja anda, dan sejak tadi pun anda belum menghubungi markas kepolisian anda. Jika seorang polisi sedang ditugaskan mengintai, kemudian ada hal sehubungan dengan orang yang dia intai, polisi tersebut pasti segera melaporkan ke markasnya. Jadi kesimpulan saya, anda adalah seorang polisi yang sedang cuti namun membawa-bawa lencana anda. Yah untuk jaga-jaga mungkin.”

“Rupanya kemampuan deduksimu lebih baik daripada sikapmu yang suka mengabaikan perintah.”

“Apa yang anda inginkan dari Musashi-san? Anda mengintainya bukan?”

“Kata ‘mengintai’ nampak terlalu kasar, sebenarnya aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya.” Sikapnya kini nampak agak ramah.

“Apa yang ingin anda ketahui darinya?”

Terlintas sedikit sorot mata curiga darinya, “Apa hubunganmu dengan Musashi-senpai sehingga kau terus menerus menanyaiku seperti itu?”

Aku pun menceritakan perihal pertemuanku dengan Musashi-san, juga tentang penyelidikan yang sedang kami lakukan. Sayangnya Musashi-san meninggal di tengah penyelidikan ini.

“Musashi-san memang seorang yang sangat baik, setidaknya itu yang kurasakan ketika masih menjadi juniornya di kepolisian. Mendengar ceritamu tadi tak heran Musashi-san menyukaimu, dia sangat menghargai anak muda yang memiliki bakat.”

“Jadi Musashi-san adalah seorang polisi?” Fakta tersebut sangat membuatku heran mengingat Musashi-san tidak memberitahuku soal hal itu, padahal kami tadi membahas soal profesinya.

“Salah satu yang terbaik di kepolisian kami. Tapi, sayangnya dua hari yang lalu ia resmi mengundurkan diri.”

“Mengundurkan diri? Mengapa?”

“Aku juga tidak tahu, dan hal itulah yang ingin kucari tahu. Tadi aku sempat menemuinya di gerbong sepuluh dan menanyakan hal tersebut, namun dia tak ingin menjawabnya. Dia berkata bahwa dia akan memberitahuku semuanya setelah masalah teror bom ini selesai. Setelah itu dia meminta aku untuk menyelidiki teror bom ini dan kami berpisah, dia pergi ke gerbong ini sedang aku pergi ke gerbong sebelas. Sungguh tak kupercaya, ketika melewati gerbong ini Musashi-san sudah meninggal. Dia… bagaikan seorang ayah bagiku..”

Perempuan ini membisu, wajahnya menunjukan kesedihan yang begitu dalam. Nampaknya sosok Musashi Kanagata sangat penting bagi kehidupannya. Musashi-san memang memiliki  kharisma dan wibawa yang membuat orang di sekitarnya merasa nyaman, itulah yang kurasakan selama mengenal sosoknya. Meski hanya selama beberapa menit saja.

“Mungkinkah terjadi sesuatu pada saat Musashi-san bertugas yang membuatnya mengundurkan diri? Kasus apa yang terakhir kali ditangani Musashi-san?” Tanyaku kepada perempuan ini. “Oh, dan juga siapa nama anda? Kenalkan, saya Alfa Diandra mahasiswa dari Indonesia.”

“Namaku Reiko, Reiko Manami. Untuk hal itu aku tidak tahu apa-apa, baru kemarin aku kembali dari tugas di Kyoto. Dan begitu mendengar kabar pengunduran diri Musashi-san, aku sangat  terkejut. Sebaiknya sekarang kita kesampingkan dulu masalah ini, yang terpenting sekarang ialah soal kematian Musashi-san. Kau bilang Musashi-san meninggal oleh racun dalam jarum itu, boleh kulihat jarumnya?”

Aku menyerahkan jarum tersebut yang sudah kubungkus dengan sapu tangan terlebih dahulu.

“Ada sedikit darah di ujungnya, tapi kelihatannya tusukan yang diakibatkannya cukup dalam. Dan tusukan jarum ini berada di bagian lengan kiri atas, tunggu sebentar, bukankah ini daerah pembuluh vena. Tentu saja, walau sedikit dosis racunnya, jika menusuk langsung pembuluh vena bisa berakibat fatal. Jenis racunnya apa ya? Kurasa bukan Sianida, apa mungkin racun ikan fugu. Bagaimana menurutmu Alfa?”

“Sejauh ini analisis saya tidak melenceng jauh dari yang barusan anda utarakan. Namun soal racun tersebut saya juga masih meragukannya, tidak akan pasti sebelum dilakukan autopsi. Sayangnya kita berada di kereta yang dibajak. Oh, iya bagaimana keterangan dari para penumpang?”

“Salah seorang penumpang mengatakan Musashi-san masuk ke toilet sekitar 30 menit yang lalu, dan selama itu tidak ada orang lain yang masuk ke dalam toilet. Namun ada empat orang yang berjalan melewati dan berhenti sejenak di dekat toilet, dua diantaranya pernah memasuki toilet tersebut. Apakah anda ingat wajah keempat orang tersebut?” Tanya Reiko kepada penumpang yang memberi kesaksian itu.

“Salah satu dari mereka seorang petugas kondektur kereta ini, umurnya kira – kira tigapuluhan, badannya tinggi kekar. Dia berjalan dari arah gerbong delapan. Lalu seorang pria yang kelihatannya gugupan orangnya, umurnya kira – kira empatpuluh tapi mungkin lebih muda, rambutnya cukup panjang bagi seorang pria dan yang paling menonjol ialah pakaiannya yang agak lusuh. Yang ketiga pria setengah baya, yang kelihatannya baru kena musibah, dia memakai penyangga leher. Wajahnya nampak cukup mengerikan, kumisnya yang tebal memberi kesan demikian. Dan yang terakhir…” Tiba tiba penumpang ini berhneti berbicara.

“Bagaimana rupa orang terakhir itu?” Tanya reiko dengan penuh penasaran.

“Yang terakhir anda, bukan saya mengada-ada tapi memang anda. Saya yakin itu. Anda masuk dari arah gerbong sepuluh dan berhenti di depan toilet itu seperti yang kebingungan, lalu anda kembali ke gerbing sepuluh. Lupakah anda akan hal itu? Padahal saya mengamati, lho.” Pernyataan penumpang ini megejutkanku, Reiko juga terlihat sama terkejutnya dengan diriku.

“Kurasa itu memang benar, tadi aku sempat masuk ke sini. Aku bermaksud mencari Musashi-san, namun aku kembali ke gerbong sepuluh karena tak menemuinya disini.”

“Nah, benar kan apa kata saya. Semuanya takkan luput dari pengamatan saya.” Si penumpang ini agak menjadi congkak sikapnya.

“Tadi anda bilang bahwa dari keempat, maksud saya, ketiga orang itu, dua diantaranya memasuki toilet sebelum korban. Apakah hanya dua orang ini yang masuk ke toilet dari awal keberangkatan kereta? Juga kapan dan siapa yang memasuki toilet ini?” Tanyaku kepada penumpang ini.

“Ya, hanya dua orang itu yang memasuki toilet. Yang pertama memasuki toilet adalah pria yang gugupan, dia memasuki toilet kira – kira tigapuluh menit sejak kereta berangkat. Tiga menit kemudian dia keluar dari toilet. Lalu yang kedua pria yang memakai penyangga leher, dia masuk ke toilet limabelas menit kemudian dan keluar setelah lima menit berada di dalam.”

Aku mencatat fakta – fakta yang diberikan oleh penumpang itu di notebook kecilku.

“Adakah hal aneh lainnya? Yang dilakukan ketiga orang tadi saat melewati toilet ini? Untuk nona Reiko tentu tidak perlu dibahas karena anda sudah mengatakannya tadi.”

“Hmm, meski pengamatan saya cukup jeli tapi saya tak mungkin mengamati orang – orang tadi sepenuhnya kan? Tidak, saya tidak bisa memberi keterangan akan hal itu. Tapi, mungkin ini bisa membatu, si orang gugupan sempat berjongkok di depan toilet, mencari sesuatu yang jatuh saya kira.”

“Satu pertanyaan lagi tuan, apakah anda ingat urutan orang – orang itu ketika mereka melewati toilet ini?” Rupanya Reiko tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertanya.

“Kalau itu saya ingat, yang pertama pria dengan penyangga leher, tak lama kemudian petugas kereta, lalu si pria gugup dan terakhir anda sendiri nona Reiko.”

“Baik, terima kasih untuk keterangan anda. Silahkan duduk kembali.” Penumpang itu pun meninggalkan kami berdua, “Informasi yang kita dapat masih kurang, sebaiknya ketiga orang itu kita kumpulkan untuk dimintai keterangannya.”

“Dari gambaran yang diberikan penumpang tadi, rasanya aku pernah bertemu mereka di awal keberangkatan kereta.” Jelasku kepada Reiko.

“Benarkah? Kalau begitu kau yang cari mereka dan bawa kesini untuk ditanyai.”

“Tidak, lebih baik anda saja yang melakukannya. Dengan lencana polisimu pasti mereka akan lebih mudah untuk bekerja sama. Sementara kau mencari orang-orang tadi aku akan menyelidiki lebih lanjut di sini.”

“Aku tidak suka caramu mengatur – atur, tapi sialnya perkataanmu itu ada benarnya. Baiklah, kita ikuti rencanamu.” Meski dengan sedikit rasa jengkel, rupanya Reiko menyetujui usulku itu. Dia pun pergi untuk mencari orang dengan gambaran yang diberikan penumpang tadi.

Aku menyelidiki toilet ini dengan lebih teliti, dan hasilnya cukup lumayan. Di dinding kiri toilet terdapat sedikit bekas kertas yang ditempel di situ. Dari bekasnya terlihat bahwa kertas ini belum lama dicabut dari dinding, dan sesuai dugaanku di dalam saku jaket Musashi-san aku menemukan kertas tersebut dalam keadaan dilipat rapi. Kertas ini ditempel dengan menggunakan lem di bagian sudutnya, ditempel dengan posisi bagian yang kosong menghadap keluar sehingga bagian yang terdapat tulisannya tersembunyi. Isi tulisannya benar – benar tak dapat kupercaya, beginilah isinya :

Rupanya walikota kalian telah mengabulkan permintaanku, kalian aman sekarang. Namun jangan hentikan laju kereta ini sampai jam lima nanti, sabarlah sedikit, jika tidak bom – bom ini akan tetap kuledakkan!

Pelaku pemboman

Bermacam – macam pertanyaan muncul di benakku. Apa maksudnya tulisan ini? Mengapa Musashi-san yang memegangnya? Apakah, pelaku pemboman ini adalah Musashi-san? Apakah dia bunuh diri karena merasa berdosa? Ataukah dia dibunuh? Begitu banyaknya pertanyaan yang bermunculan dari peristiwa – peristiwa yang terjadi di kereta ini. Kini kebingunganku pun bertambah, karena dengan adanya kertas tersebut berarti kasus pemboman dan kematian Musashi-san itu berkaitan. Entah apa hubungan keduanya, namun pasti ada benang yang menghubungan kedua hal ini. Apapun itu, itulah yang harus kuselidiki terlebih dulu.

To be Continued

12 comments on “Shinkansen Tragedy (3)

  1. msh berlanjut jg ya kak?
    partner baru ya…
    mati 1 tumbuh 1000….wkwkwk…
    rasanya musashi-san cm di sabotase…
    wkt di bunuh si pelaku “palsu” masukin kertas yg di tempel oleh pelaku yg asli…
    dimasukkan ke saku musashi-san…
    kemungkinan pelaku palsu membunuh musashi-san krn mengira dia terlibat ato mungkin dia termasuk slh satu komplotan tsb…
    itu hanya sekedar analisisku aja kak…
    hehehe…😛

    Like

  2. kemungkinan mati karena bunuh diri belum tertutup, karena tidak ada jejak pembunuhan di situ. bila dibunuh dengan paksa kemungkinan baju korban akan sedikit lusuh karena ada perlawanan atau tanda2 lain, keracunan sianida dan ikan gembung sebenarnya bisa dilihat dari ciri2 fisik korbannya,
    untuk keracunan kalium sianida biasanya kuku dan bibir korban berwarna pink dan bukan biru seperti keracunan pada umumnya, dan biasanya tercium bau almond dari mulut korban. sedangkan keracunan ikan kembung adalah kebalikannya, begitu kira2

    Like

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s