Shinkansen Tragedy (1)


Hari ini aku terpaksa tinggal sendiri di apartemen karena Kenji, teman seapartemenku, pulang ke kampung halamannya di Hokkaido. Baru tadi malam ia berangkat ke Hokkaido sambil membawa kotak Diorama peninggalan kakeknya. Tak heran bagiku karena setelah Kenji memberitahukan ibunya soal kotak Diorama ini, ibunya menyuruhnya untuk segera pulang ke Hokkaido. Mungkin untuk segera mengurus batu – batu berharga dalam kotak itu, yah lumayan juga jumlahnya bila diuangkan, mungkin mencapai 10 juta yen. Jadi, tak heran ibu Kenji seakan tidak sabar untuk segera menjualnya.

Tinggal sendiri di apartemen terasa cukup berat bagiku, terutama membersihkan sisa – sisa makanan semalam. Tambah – tambah sisa ramen instan Kenji yang belum sempat ia bersihkan sebelum ia berangkat— berserakan di ruang santai juga di kamarnya. Haah, awas kau Kenji menambah pekerjaan orang saja.

Akhirnya apartemen sudah cukup rapih, sekarang saatnya bagiku untuk bersiap – siap pergi kuliah. Apartemen tempatku tinggal tidak terlalu jauh dari Universitasku, Universitas Showa, yang bisa ditempuh hanya selama 5 menit berjalan kaki. Setelah segalanya siap, aku bergegas keluar dari apartemen menuju ke jalanan. Dan seperti biasanya, jalanan sudah ramai dilalui oleh orang – orang dengan kepentingannya masing – masing. Ada yang berangkat ke kantor,  ke sekolah, ada ibu – ibu yang kelihatan akan belanja. Pokoknya jalanan telah dipenuhi oleh orang – orang dengan berbagai aktivitas.

Tak lama kemudian sampailah aku di kampusku, terlihat mahasiswa lain juga berdatangan. Suasana di kampus terasa agak sepi menurutku, apa karena aku datang terlalu pagi? Haah, masa bodoh mungkin yang lain masih dalam perjalanan kesini. Aku segera menuju ke ruangan kuliah jurusan Kedokteran, dan disana belum ada seorang pun yang datang. Ketika kakiku hendak melangkah ke dalam, ada seseorang yang menyapaku dari belakang.

“Hei, dari fakultas kedokteran?”

“Iya, aku mahasiswa kedokteran. Ada apa ya?” Jawabku

Ternyata yang menyapaku adalah seorang mahasiswi, dia berpenampilan cantik dan sopan. Tapi sayang aku tidak mengenalnya, mungkin dia dari fakultas lain.

“Bukankah sekarang jadwal para mahasiswa kedokteran untuk study banding ke kampus Shinagawa?”

Mendengar kalimat itu darinya aku merasa seperti sebatang pohon yang terkena sambaran kilat. Segera kubuka jadwal studiku, dan memang, sekarang adalah waktunya study banding ke kampus Shinagawa.

“Aah, iya aku lupa! Terimakasih telah mengingatkanku, kurasa aku masih bisa sampai disana tepat waktu bila segera pergi dari sini. Jadi, aku mohon diri sekarang”

Kataku, kepada mahasiswi itu sambil buru – buru meninggalkan ruangan yang belum sempat kumasuki ini. Kulihat dia tersenyum geli melihat sikapku yang terburu – buru. Sungguh pengalaman yang sangat memalukan. Haah sudahlah yang lalu biarlah berlalu, sekarang prioritas utama ialah mengejar kereta menuju shinagawa agar aku tidak ketinggalan study banding di kampus Shinagawa.

Sialnya, kereta yang langsung menuju Shinagawa sudah berangkat. Aku hampir putus asa waktu itu, tapi aku langsung mempunyai sebuah gagasan yang cukup nekat namun efektif dalam keadaan terdesak seperti ini. Ya, aku akan pergi ke Tokyo terlebih dahulu, lalu dengan kereta Shinkansen menuju ke Shinagawa. Mungkin akan terkesan lama, tapi sebenarnya hanya memakan waktu paling lama satu jam hingga sampai di Shinagawa.

Akhirnya aku tiba di stasiun Tokyo, aku langsung membeli tiket kereta shinkansen yang menuju ke Shinagawa yang akan berangkat 5 menit dari sekarang. Sambil menunggu keberangkatan, aku sekedar membeli koran untuk mengisi waktu. Salah satu berita di koran yang baru saja aku beli itu cukup menarik perhatianku.

“Uang hasil Perampokan Bank yang terjadi 4 hari yang lalu berhasil ditemukan oleh Kepolisian Tokyo. Uang hasil jarahan bernilai 100 juta yen tersebut ditemukan di sebuah gudang tua di daerah pinggiran Tokyo. Peristiwa perampokan itu sendiri hampir berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian. Satu dari tiga orang perampok berhasil dilumpuhkan oleh tembakan salah seorang polisi yang tepat mengenai bagian bahu perampok. Namun sayangnya ketiga perampok berhasil melarikan diri, satu perampok yang dicurigai berperan sebagai sopir melarikan diri terlebih dahulu dengan mobil yang dikendarainya. Sedangkan dua perampok lainnya yang salah satunya telah tertembak melarikan diri dengan merampas mobil milik warga sipil yang tengah melintas pada saat itu. Sayangnya, hingga sekarang pihak kepolisian masih belum menemukan pelaku perampokan tersebut.”

Kira – kira begitu potongan dari isi berita di koran ini. Wah, sungguh suatu prestasi besar bagi pihak kepolisian bisa menggagalkan peristiwa sebesar ini.

Kekagumanku terpaksa harus kuhentikan sampai disini, karena jika tidak, maka aku bisa ketinggalan kereta. Segera aku menyeret langkahku ke dalam kereta tercepat sedunia ini. Aku merasa senang bisa menaiki kereta yang menurutku menakjubkan ini. Nilai plus dari kereta shinkansen bukan hanya kecepatannya saja, tapi interior gerbongnya juga sangat elegan dan didesain sedemikian rupa hingga terasa nyaman bagi penumpang di dalamnya.

Akhirnya kereta mulai berjalan, aku kini tengah duduk di kursi nomor 56 di gerbong nomor 7. Kereta yang kunaiki merupakan kereta shinkansen terpanjang, karena memiliki 16 gerbong padahal rata – rata kereta Shinkansen hanya memiliki 8 gerbong saja. Aku duduk disamping seorang lelaki berumur kira – kira 40 tahunan yang dari awal keberangkatan terlihat memikirkan suatu hal yang penting. Dia hanya melamun di tempat duduknya, tapi pancaran matanya menunjukan bahwa ia serius dan dari matanya terlihat kedisiplinan tinggi dan ketegasan dimiliki oleh sosok lelaki ini. Terlihat juga sikapnya yang baik hati ketika ia membantu seorang nenek tua yang hampir terjatuh karena tersandung sesuatu di dalam kereta.

Waktu sudah berjalan kurang lebih 15 menit sejak kereta berangkat, perhatianku yang saat itu tertuju pada koran yang aku beli langsung teralihkan oleh suara seseorang yang memakai pengeras suara.

“Selamat pagi semuanya, maaf menggangu perjalanan kalian semua. Sungguh disayangkan kereta yang kalian naiki ini tidak akan bisa menghentikan lajunya di stasiun berikutnya karena jika kereta ini berhenti aku tak akan segan – segan menekan tombol pemicu bom yang akan meledakkan bom di tiap gerbong kereta ini! Ini bukan gertakan orang iseng! Jika kalian tidak percaya, lihatlah di kursi paling depan! Disana terdapat sebuah koper, di dalamnya terdapat bom yang akan meledak jika aku menekan pemicunya dan jika bom itu terguncang dengan keras! Tuntutanku hanya satu, teleponlah kantor walikota tokyo agar walikota sialan itu mentransfer uang sejumlah 20 Juta yen ke alamat yang terdapat dalam setiap koper berisi bom itu. Sebelum tuntutanku dipenuhi, aku tidak akan membiarkan kereta ini berhenti! Dan jika tuntutan belum terpenuhi sampai jam 5 sore ini maka tamatlah riwayat kalian!”

 

Suara itu ternyata berasal dari sebuah speaker kecil yang terletak tidak jauh dari koper di kursi paling depan. Suara itu berhenti dan kemudian diteruskan oleh suara kepanikan para penumpang di gerbong kereta nomor 7 ini. Situasi hampir tidak terkendali karena kepanikan bertambah ketika ada seorang penumpang yang membuka isi koper yang terdapat di kursi paling depan di gerbong ini.

“BOM! BOM! Ini sungguhan, ada BOM di dalam koper ini! Kita akan Mati!”, teriak penumpang itu dengan histeris.

Penumpang yang lain kemudian berlarian menuju ke gerbong sebelah, tapi dari arah yang berlawanan juga berhamburan penumpang – penumpang lain. Sepertinya mereka juga telah menyadari adanya bom di gerbong mereka.

“HARAP TENANG SEMUANYA!!”

Tiba – tiba ada seseorang yang berteriak menyuruh penumpang – penumpang yang panik untuk tenang. Dan orang tersebut tak lain adalah orang yang duduk bersebelahan denganku, si Pria tegas dan baik hati.

“Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita semua panik seperti ini. Apa kalian pikir si pelaku teror bom ini akan menghentikan aksinya jika kalian terus – terusan panik?

TIDAK!

Dia hanya akan menghentikan aksinya sampai ia mendapat tuntutannya. Jadi tak ada gunanya kalian panik. Alih – alih jika dalam keadaan panik ini ada yang tak sengaja menjatuhkan koper – koper berisi bom itu, maka kalian malah mempercepat kematian kalian! Lupakah kalian? Si pelaku berkata jika koper itu mengalami guncangan atau terjatuh, maka bom di dalamnya akan meledak! Jadi sekarang tolong kalian semua jangan panik, kendalikan diri kalian.”

Ceramah singkat dari Pria ini cukup berpengaruh, para penumpang yang tadinya panik kini menjadi agak tenang meski masih ada beberapa penumpang wanita yang menangis histeris. Namun tak lama kemudian keadaan menjadi tenang.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Perlukah kita menelepon walikota seperti yang dikatakan pelaku teror bom ini?”, tanya salah seorang penumpang.

“Mungkin sebaiknya begitu, biar aku yang menelepon walikota untuk menjelaskan situasi disini. Dan salah seorang dari kalian pergi menemui masinis agar tidak memberhentikan kereta di stasiun berikutnya.

Anak muda, maukah kau pergi kesana dan memberitahukan situasi ini pada masinis?”, tanya Pria penenang suasana ini padaku.

“Dengan senang hati Pak…”

“Namaku Musashi Kanagata, panggil saja Musashi.”

“Baik Musashi-sama, akan segera kusampaikan situasi ini pada masinis.”

Aku pun lantas pergi menuju ruang masinis yang tentu harus melewati 6 gerbong terlebih dahulu. Pada saat melewati gerbong no. 4 tampak para penumpangnya biasa – biasa saja, sepertinya mereka tidak tahu – menahu masalah bom ini. Kurasa ada baiknya mereka tidak tahu persoalan ini, yaitu untuk menghindari kepanikan yang lebih besar. Yah, meski lama kelamaan mereka pasti curiga akan tidak berhentinya kereta ini di stasiun dan mungkin kemudian mereka mengetahui situasi sebenarnya. Tapi dengan merahasiakannya sekarang akan lebih membantu daripada terus membeberkan kabar yang mengundang kepanikan ini.

Tak terasa ruang masinis telah berada di hadapanku. Di samping pintu berdiri seorang petugas kereta, dia adalah seorang lelaki dengan postur kekar dan tinggi.

Sumimasen, saya ingin bertemu dengan masinis ada sebuah informasi penting untuknya.”

“Maaf, tapi saya tidak bisa begitu saja membiarkan seseorang tanpa identitas jelas masuk ke ruang masinis.”

Aku menghela nafas panjang, kemudian aku mendekatkan diri ke lelaki ini sembari membisikan satu kalimat. ”Ada bom di kereta ini.”

Mata si petugas kereta ini langsung terbelalak, dia tampak terkejut seakan tidak mempercayai apa yang kubisikan kepadanya. Dia menelan ludah, lalu dia berkata.

“Apa kau serius?”

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya itu.

“Kalau begitu kurasa kita harus memberitahukannya kepada masinis, mari lewat sini.”

Akhirnya aku masuk ke dalam ruang tempat kendali kereta ini, disana terdapat seorang lelaki yang tengah mengatur kendali kecepatan kereta. Dia menyadari kedatangan kami berdua, lalu dia menengokan lehernya. Sorot matanya tampak sedang mengamati diriku, dan kemudian dia bertanya kepada si petugas.

“Ada apa kau membawa anak remaja ke ruangan ini?”

“Saya ingin memberitahu anda tentang keadaan gawat dalam kereta ini pak masinis.” Aku langsung mengatakan maksud kedatanganku kepadanya.

“Memangnya ada apa?”

“Ada bom di kereta ini, dan si pelaku akan menekan tombol pemicu bom jika kereta ini berhenti di stasiun berikutnya. Intinya, jika anda menghentikan laju kereta ini, maka si pelaku akan meledakan bom yang terdapat di seluruh kabin disini.”

“Jangan main – main anak muda. Tak mungkin di kereta yang aman ini ada bomnya, jangan bercanda yang tidak – tidak!”

“Sepertinya anda tidak mempercayai perkataan saya, baiklah tunggu sebentar.”

Aku kemudian keluar dari ruangan ini dan menuju ke gerbong nomor 1, aku mencari suatu barang disini. Ya, aku mencari koper yang bentuknya persis seperti koper yang berisi bom atau koper mencurigakan yang terlihat tidak ada pemiliknya. Dan bingo, ternyata ada satu koper yang ditinggalkan begitu saja di atas kursi kosong di gerbong ini. Aku berjalan mendekatinya, lalu bertanya kepada penumpang yang duduk dekat koper ini.

“Koper ini, anda tahu siapa pemiliknya?”

“Oh, tidak. Dari tadi kursi itu tidak berpenumpang, dan hanya ada koper itu di atasnya. Kupikir pemiliknya pergi ke toilet, tapi sampai sekarang tidak ada yang datang. Jadi sepertinya koper itu milik penumpang sebelumnya yang lupa mengambilnya, memangnya kenapa?”

“Oh, tidak apa – apa. Hanya memastikan, kalau begitu lebih baik saya bawa ke petugas disana agar bisa diamankan.”

“Ya silahkan, memang lebih baik begitu.”

Kemudian koper itu kubawa masuk ke ruangan masinis tadi, kusimpan koper itu perlahan di lantai dan kemudian membukanya. Masinis dan petugas kereta yang mengintip isi koper itu kemudian terkejut.

“Oh tuhan, itu bom sungguhan!” Kata masinis dengan ekspresi terkejut juga takut.

“Ya, dan bom seperti ini berada di setiap gerbong kereta dan akan meledak jika anda menghentikan kereta seperti yang saya jelaskan tadi.”

“Seharusnya aku tidak meragukan perkataanmu tadi anak muda. Mohon maaf. Dan adakah informasi lain mengenai teror bom ini?”

“Tidak apa –  apa, saya mengerti pikiran anda tuan. Berdasarkan ancaman si pelaku tadi, dia mengatakan bahwa setelah tuntutannya terhadap walikota terpenuhi dia tidak akan meledakan bom – bom dalam kereta ini. Namun jika tuntutannya tidak terpenuhi sampai batas waktu, jam 5 sore ini, dia akan meledakan kereta ini. Nah, pak masinis bisakah anda membuat kereta ini terus melaju sampai tuntutan si pelaku ini terpenuhi?”

Masinis ini kemudian diam sebentar, lalu dia berkata.

“Demi keselamatan penumpang saya akan berusaha membuat kereta ini tidak berhenti. Takeshi, kau segera telepon kepala stasiun jelaskan padanya situasi dalam kereta ini, katakan padanya untuk membelokan arah rel agar kereta ini kembali ke Tokyo, juga katakan padanya untuk mempersiapkan jalur melingkar Yamanote hanya untuk kereta ini. Kita akan berputar – putar dalam jalur melingkar ini sampai tuntutan si pelaku teror dipenuhi walikota.”

Petugas itu langsung pergi ke tempat khusus telepon untuk memberitahu pihak stasiun.

“Aku rasa hanya itu yang bisa kulakukan demi menjaga keselamatan kita semua. Sekarang kembalilah ke gerbong asalmu. Tapi, tunggu sebentar, apakah penumpang lain tahu akan hal ini?”

“Untuk sementara hanya penumpang di gerbong 5, 6, 7, dan 8 yang mengetahui hal ini karena ancaman dari pelaku disampaikan di gerbong nomor 7. Untuk gerbong 1 sampai 4 saya yakin belum ada yang mengetahuinya, tapi untuk gerbong lainnya saya kurang mengetahui keadaannya.”

“Baiklah, jangan sampai penumpang lain tahu akan hal ini. Aku takut akan terjadi kepanikan yang sangat besar bila mereka tiba – tiba tahu. Untuk kereta yang akan berbalik arah, Aku akan mengarang cerita agar penumpang tidak terlalu curiga. Tapi mungkin lama kelamaan mereka sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres.”

“Hal itu lebih baik daripada terjadi kepanikan besar – besaran. Baiklah, kalau begitu saya akan kembali ke gerbong nomor 7. Saya permisi.”

Aku segera meninggalkan ruang kendali ini dan kembali menuju gerbong nomor 7. Di tengah perjalanan, terdengar pengumuman dari Masinis kepada para penumpang.

“Para penumpang sekalian, telah terjadi insiden kecil di stasiun yang kita tuju. Oleh karena itu terpaksa kita kembali lagi ke Tokyo, dan berputar – putar di jalur melingkar Yamanote sampai insiden di stasiun Shinagawa teratasi. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.”

 

Begitulah cerita karangan pak Masinis untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

Sambil berjalan menuju gerbong nomor 7 aku terus memikirkan peristiwa teror bom ini, satu hal yang kugaris-bawahi adalah ancaman pelaku yang tidak disampaikan secara tertulis namun disampaikan dengan speaker. Kupikir terlalu berani jika si pelaku berbicara di suatu tempat di gerbong ini dan mengenakan pengeras suara yang telah disambungkannya dengan speaker. Hal itu terlalu beresiko, bisa saja ketika dia berbicara di suatu tempat itu ada orang yang memergokinya dan hal tersebut dapat mengacaukan rencananya. Tidak, tidak mungkin si pelaku sengaja mengambil resiko yang besar seperti itu. Dia pasti telah merekam suaranya terlebih dahulu kemudian menyimpan rekaman suaranya yang telah dihubungkan dengan speaker itu di suatu tempat, dan tentu saja suaranya telah disamarkan agar identitasnya tidak ketahuan. Tapi dimana dia meletakan rekaman suaranya itu? Dan siapa pula orang biadab yang telah membahayakan orang banyak hanya demi ketamakannya akan uang?

To be continued…

Protected by Copyscape Web Plagiarism Finder

6 comments on “Shinkansen Tragedy (1)

  1. Pingback: Finally | Black or White?

  2. Pingback: Shinkansen Tragedy (2) | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s