Shinkansen Tragedy (2)


Lanjutan dari Shinkansen Tragedy (1)

“Sudah kembali kau rupanya anak muda. Dan sepertinya tugas itu telah kau laksanakan dengan baik, terima kasih banyak.” kata Musashi-san kepadaku.

“Yah, seperti yang anda dengar di pengumuman tadi, Masinis akan membuat kereta ini terus berputar di jalur Yamanote sampai tuntutan pelaku terpenuhi. Kita bisa sedikit menarik nafas lega. Omong – omong Musashi-san, apakah anda telah menelepon walikota tentang masalah ini?”

“Ya, aku telah menelepon beliau 5 menit yang lalu. Awalnya walikota tidak mempercayai perkataanku, tapi akhirnya beliau mengerti akan situasi ini dan beliau berjanji akan segera mengirim sejumlah uang yang diinginkan pelaku ke alamat yang dituju tersebut. Beliau juga akan menelepon balik apabila uang tersebut telah diantarkan.”

“Memangnya alamat yang diberikan pelaku itu terletak dimana?”

“Alamatnya di Blok 4 No. 15 Kota Misato Prefektur Saitama.” Jawab Musashi-san

Bersamaan dengan itu ada seorang lelaki yang tengah berjalan melewati kami berdua, langkahnya terhenti dan ia menoleh kepada kami. Terlihat jelas dari raut mukanya yang pucat bahwa ia mengkhawatirkan sesuatu.

“Anda baik – baik saja tuan? Wajah anda pucat, bisa saya bantu?” Tanyaku kepadanya.

“Oh tidak, tidak apa – apa hanya sedikit terkejut. Tampangmu mirip seperti adik iparku. Aku sedang berselisih dengannya, kukira kau adalah dia. Maaf jika reaksiku ini mengganggumu.”

“Sama sekali tidak tuan.” Jawabku, sambil tersenyum simpul kepadanya.

Lelaki itu kemudian pergi. Dari penampilannya, umurnya kira – kira seumuran dengan Musashi-san namun sedikit lebih muda. Dan bila dibandingkan dengan penampilan Musashi-san, dia kelihatan tidak rapih. Jenggot dan kumisnya panjang karena mungkin jarang dicukur, rambutnya panjang namun disisir dengan rapi, pakaiannya tampak sedikit lusuh, dan dari cara jalannya ia terlihat sangat terburu – buru.

“Penampilannya cukup menarik.” Komentar Musashi-san atas penampilan lelaki tadi.

“Maksud anda? Menurut saya penampilannya aneh dan urakan.”

“Ya, memang bisa juga dibilang begitu.” Kata Musashi-san, dia kemudian duduk di kursinya.

Aku juga duduk di kursiku mengikuti Musashi-san, yang saat ini sedang termenung. Wajahnya menunjukan ekspresi yang sama pada saat kereta baru melesat, wajah yang sedang memikirkan suatu hal yang sangat penting.

“Ehm, Musashi-san..”

Lamunannya terpecah oleh perkataanku ini.

“Oh, ada apa?” Jawabnya dengan sedikit nada terkejut.

“Maaf sebelumnya jika saya menganggu lamunan anda. Soal teror bom ini, apakah kita hanya bisa menunggu kepastian dari walikota?”

“Ya, memangnya apalagi yang harus kita lakukan selain menunggu?”

“Mungkin kita bisa menyelidiki dan mencari tahu siapa yang ada dibalik peristiwa teror ini? Dan mungkin kita bisa segera menemukan titik awal dalam penyelidikan ini, hal yang perlu kita garis bawahi hanya satu.”

“Apa itu?”

“Cara penyampaian si pelaku. Pelaku menyampaikan aksinya itu melalui speaker yang ada di sana.” Kataku sambil menunjuk ke arah speaker itu berada.

Kemudian aku melanjutkan perkataanku tadi.

“Jika seseorang melakukan aksi seperti ini, dia mempunyai dua alternatif dalam menyampaikan aksinya tersebut. Pertama yaitu menuliskan ancaman tentang aksinya ini di kertas, dan kedua yaitu menyampaikan ancaman secara langsung seperti tadi. Tapi kali ini pelaku mengambil alternatif kedua, yaitu menyampaikan ancaman atas aksinya ini secara langsung. Dan cara yang paling aman dalam hal ini adalah..”

“Merekam suaranya terlebih dahulu, menaruh rekaman itu di suatu tempat, dan kemudian menghubungkannya dengan speaker itu.” Lanjut Musashi-san

Mendengar hal itu dari Musashi-san, aku pun tersenyum dan berkata.

“Sudah saya duga, anda pasti sudah tahu akan poin penting pertama ini! Daritadi juga saya sudah menduga – duga pasti pekerjaan anda meliputi hal – hal yang berbau penyelidikan.”

“Apa dasar kau bisa menduga seperti itu?”

“Pertama, dari sikap anda saat menenangkan situasi panik tadi. Sikap anda waktu itu terlihat tenang, tidak terbawa suasana dan langsung menguasai keadaan. Mengapa demikian? Mungkin karena anda sudah kerap menghadapi hal – hal serupa, seperti kasus – kasus kejahatan misalnya. Namun hal ini belum bisa menunjukan bahwa profesi anda berada di bidang penyelidikan, karena seorang aktivis masyarakat yang sudah sering berurusan dengan orang banyak juga cenderung bersikap demikian.

Hal itu dapat dijelaskan oleh poin kedua, yaitu dari penampilan anda. Waktu pertama kali saya melihat anda, anda sedang duduk melamun di kursi ini. Namun lamunan itu bukan lamunan biasa, dari sorot mata anda saat itu terpancar bahwa sesuatu yang anda lamunkan adalah hal yang sangat penting dan serius. Poin tersebut menunjukan bahwa anda adalah seorang pemikir, dan jarang sekali ada aktivis yang merupakan seorang pemikir karena biasanya aktivis adalah orang lapangan yang cenderung untuk langsung bertindak daripada berpikir terlebih dahulu. Jadi, gugurlah kemungkinan bahwa anda adalah seorang aktivis

Lantas apa profesi anda?  Itu semua ditunjukkan oleh perkataan anda tadi, ketika saya menjelaskan analisis saya atas teror bom ini. Anda dengan benar melanjutkan analisis saya, itu berarti anda memiliki keahlian menganalisis. Dan jika ketiga poin tadi digabungkan, dapat diambil kesimpulan bahwa profesi anda berada di bidang penyelidikan.”

“Tunggu sebentar. Kenapa kau harus mengatakan ‘berada di bidang penyelidikan’? Bukankah ada satu profesi yang sangat cocok dengan penjelasanmu tadi. Polisi. Kenapa kau tidak menyatakan bahwa profesiku adalah Polisi?”

“Karena itu bukan profesi anda. Jika anda seorang polisi, maka saat menenangkan situasi panik tadi anda pasti akan menyatakan langsung profesi anda sebagai polisi, bukan?”

Musashi-san terdiam sebentar, raut wajahnya menunjukan bahwa dia terkagum – kagum dan sedikit terheran – heran atas penjelasanku itu. Dan dengan penuh semangat ia berkata.

“Hahaha, hebat sekali kau nak bisa menebak sejauh itu. Seperti Holmes saja. Yah, memang pekerjaanku sangat berkaitan dengan penyelidikan, tapi aku sudah berhenti dari pekerjaanku itu.”

“Kenapa anda berhenti Musashi-san?” Tanyaku kepadanya, namun dia tidak menjawab pertanyaanku ini.

Di hanya diam membisu dan wajahnya kembali menunjukan ekspresi tadi. Aku kemudian mengerti bahwa sesuatu yang dipikirkan oleh Musashi-san itu berkaitan dengan keputusannya untuk berhenti dari pekerjaanya. Dan hal tersebut aku yakin sangat mengganggu pikirannya.

“Tidak apa jika anda tidak mau mengungkapkannya. Lagipula tidak sopan bagi saya jika ingin mengorek-ngorek masa lalu orang lain. Kembali lagi pada topik utama kita, sejauh ini kita tahu bahwa pelaku memakai rekaman untuk mengumumkan aksinya tadi. Tapi yang jadi masalah adalah, dimana dia menyimpan rekamannya itu?”

“Untuk mencari tahu hal tersebut, lebih baik kita teliti dulu speaker yang ada disana itu.” Musashi-san menyarankan.

Kami berdua pun bangkit dari kursi kami dan berjalan menuju speaker yang terletak di samping koper berisi bom tersebut. Speaker tersebut berbentuk seperti radio kecil, dan itu memang sebuah radio! Tapi sepertinya sudah dimodifikasi sedikit oleh si pelaku.

“Sepertinya kesimpulan selanjutnya sangat mudah kita tarik.” Kata Musashi-san sambil tersenyum kepadaku.

“Alat penyadap!” Sahutku.

“Ya, kau benar anak muda. Sepertinya kau sudah sangat terlatih dalam menganalisis. Oh iya, omong – omong aku belum tahu namamu. Siapa namamu?”

“Oh, maaf sebelumnya saya tidak memperkenalkan diri. Nama saya Alfa Diandra, panggil saja Alfa.”

“Baiklah Alfa, kita tahu bahwa si pelaku menggunakan penyadap untuk menghubungkan rekaman dengan speaker ini. Tapi untuk melacak dimana rekaman dan penyadap tersebut kita mempunyai banyak kemungkinan, mengingat kereta ini memiliki 16 gerbong.”

“Ya, saya setuju dengan anda. Memang sulit untuk mencari benda seperti itu di 16 gerbong ini. Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiran saya, mengapa si pelaku memilih gerbong nomor 7 ini sebagai tempat dia mengumumkan aksinya itu? Apakah ada unsur kesengajaan, atau hanya sebuah kebetulan? Dan saya rasa itu semua ada hubungannya dengan tempat diaman ia menyimpan rekaman suara plus penyadapnya.”

“Yah, yang jelas dia telah salah memilih gerbong ini, karena disini ada dua orang dengan kemampuan analisis yang tidak akan tinggal diam jika ada peristiwa seperti ini.”

“Mungkin saja, tapi hal ini benar – benar membuat saya curiga. Seakan – akan si pelaku sengaja memberitahu penumpang di gerbong ini tentang aksinya itu untuk suatu tujuan. Atau…. kecurigaan saya saja yang terlalu berlebihan?”

“Bisa jadi, tapi bukan hanya penumpang di gerbong ini kan yang sudah mengetahui adanya bom? Penumpang dari gerbong nomor 6 dan 8 juga sudah mengetahuinya, buktinya pada waktu kepanikan tadi mereka juga lari dari gerbong mereka karena mengetahui keberadaan bom tersebut.”

“Bukan hanya gerbong 6 dan 8 Musashi-san, penumpang di gerbong nomor 5 juga sudah mengetahui adanya bom di gerbong mereka.”

Musashi-san terdiam, alis matanya menyatu menandakan bahwa ia merasa heran. Dia kemudian bertanya.

“Hanya di gerbong nomor 5? Di gerbong nomor 4 tidak?” Tanya Musashi-san dengan serius.

“Tidak, Musashi-san. Keberadaan bom baru diketahui sampai gerbong nomor 5, di  gerbong nomor 1 sampai 4 belum ada yang menyadari keberadaan bom.”

“Hmm, menarik. Menurut pendapatmu mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Mengapa penumpang di gerbong nomor 4 belum mengetahui adanya bom di gerbong mereka, padahal gerbong itu berada di depan gerbong nomor 5, yang penumpangnya sudah mengetahui adanya bom?”

“Ada satu kemungkinan Musashi-san, seperti ini kronologisnya. Pada saat penumpang di gerbong nomor 5 mengetahui adanya bom mereka menjadi panik. Dan bahkan mungkin mereka akan berhamburan keluar dari gerbongnya menuju gerbong sebelah, yaitu gerbong nomor 6 dan gerbong nomor 4. Jika hal tersebut terjadi, maka di gerbong nomor 6 dan gerbong nomor 4 akan terjadi sebuah kepanikan lain yang disebabkan penumpang gerbong nomor 5.

Namun, kepanikan hanya terjadi di gerbong nomor 6 yang juga hampir merambat ke gerbong nomor 7 ini. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena penumpang yang berhamburan ke gerbong nomor 4 saat itu terhalang oleh sesuatu. Oleh apa? Penjelasannya hanya satu, yaitu ada salah seorang penumpang, seperti anda, yang berhasil mengendalikan situasi saat itu dan berhasil mencegah penumpang yang panik berhamburan ke gerbong nomor 4. Orang tersebut pasti duduk di kursi bagian depan karena dia hanya bisa menahan penumpang yang berhamburan ke arah gerbong nomor 4.”

Sugoi, menakjubkan. Kau masih muda, tapi kemampuan analisismu sudah lumayan. Tapi, ingatlah ada kalanya analisis seseorang itu meleset dari kenyataannya. Jadi, hati – hatilah dalam mengemukakan analisismu. Nalar tidak selalu membawa kita kepada kebenaran, ada baiknya kau juga pertimbangan dari sisi psikis, karena baik disadari maupun tidak manusia pasti memperlihatkan sisi psikologinya apapun situasinya.”

Aku hanya membisu mendengar perkataan Musashi-san, dalam benakku aku memikirkan perkataannya itu. Dan memang benar yang dikatakannya itu, aku menjadi semakin mengagumi sosoknya ini. Sungguh penuh dengan kebijaksanaan.

“Ya, akan saya camkan itu baik – baik Musashi-san.” Kataku sambil tersenyum kepadanya.

“Jika kau menerapkan hal itu dengan baik, aku yakin kau bisa menjadi detektif yang handal di kemudian hari. Well, sekarang sebaiknya kita berpencar. Kau selidiki gerbong enam dan lima sedangkan aku akan pergi ke gerbang nomor delapan.”

“Mengapa harus berpencar, bukankah yang perlu diselidiki hanya penumpang gerbong nomor lima yang kita bicarakan?” Tanyaku dengan heran

“Memang benar, tadi kau sudah menjelaskan bagaimana bisa kepanikan gerbong nomor lima tidak menyebar ke gerbong nomor empat. Tapi soal kepanikan di gerbong nomor delapan? Hal itu masih misterius, kita tidak tahu faktor apa yang mengakibatkan penumpang disana mengetahui keberadaan bom. Jadi dengan adanya itu semua ada baiknya kita berpencar dan menyelidiki secara terpisah.”

“Benar apa yang anda katakan, saya hampir saja melupakan poin penting tersebut.”

“Manusia itu tempat salah dan lupa, hal itu wajar. Nah, sekarang mari kita berpencar. Empat puluh lima menit kemudian kita kembali ke gerbong ini dan menjelaskan hasil penyelidikan masing – masing.”

Musashi-san memasukkan radio kecil tadi ke saku bagian dalam jaket coklatnya. Kami kemudian berpamitan dan berjalan ke gerbong tujuan masing – masing. Aku merasa semangatku membara, ini memang pertama kalinya aku berada di tengah kasus teror dan menyelidiki kasus ini membuat semangatku terbakar. Namun disisi lain aku harus menjaga agar semangatku ini tidak membuatku mengambil keputusan yang salah, karena ini semua bukan main – main. Peristiwa ini bukan sebuah game yang bisa direstart jika player mengalami game over.

Bruk!

Aku menabrak seorang pria yang berjalan berlawanan arah denganku, rupanya lamunanku ini membuat kewaspadaanku menurun.

Kono Yaru! Matamu kau taruh dimana?! Hati – hati kalau jalan! Dasar anak muda tidak tahu sopan santun!” Bentak pria yang bertabrakan denganku ini.

“Ah, sumimasen. Maaf saya melamun sedikit, anda tidak apa –  apa?”

“Untung aku tidak terjatuh. Kau tahu aku baru saja mengalami kecelakaan, lihat aku masih menggunakan penyangga leher! Lain kali kalau jalan hati – hati, orang lain bisa celaka tahu!”

Bentaknya, dia kemudian meninggalkanku dengan muka yang masam. Aku merasa bersalah karena hampir saja perbuatanku membuat orang lain celaka. Jika dia terjatuh memang gawat, bisa – bisa luka di lehernya tambah parah. Dilihat dari caranya berjalan mungkin ia mendapat kecelakaan dalam mobil, karena jika ia mengalami kecelakaan motor maka yang terparah adalah luka di kaki.

Aku sudah tiba di gerbong nomor enam, suasana disini sepi. Terlihat para penumpang tampak termenung memikirkan hidupnya yang mereka kira akan berakhr di kereta ini. Aku mencoba menanyai setiap penumpang disini, tapi tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaanku dengan pasti. Bom itu telah menghilangkan semangat mereka, mengacaukan pikiran mereka sehingga membuat mereka terlihat sudah kehilangan semangat hidup. Namun, ada satu penumpang yang masih bisa mengontrol emosinya. Dialah satu – satunya orang di gerbong ini yang pernyataannya berpengaruh dalam penyelidikanku.

“Seperti yang kau lihat, hampir semua orang disini kehilangan semangatnya. Memang kami semua tidak ada yang mengira kalau di kereta yang kami naiki ini ternyata ada bomnya. Sungguh awalnya pun aku merasa terkejut dan takut saat keberadaan bom itu diketahui, tapi jika terus terlarut dalam rasa takut tidak akan membuat keadaan membaik. Harus ada yang kita perbuat, sudah beberapa kali aku meyakinkan orang – orang disini tapi mereka tidak mau mendengarkanku.” Wanita paruh baya yang semangatnya tetap segar ini berkata kepadaku. Namanya nyonya Misaki

“Saya sependapat dengan anda, kita memang harus berusaha bila ingin mengubah nasib kita. Saya, juga seorang pria bijaksana dari gerbong tujuh, saat ini tengah menyelidiki soal teror bom ini. Kami bertujuan mengungkap sosok pelaku teror dan menghentikan aksinya, untuk itu saya ingin minta beberapa informasi dari anda mengenai hal ini. Apa saja yang terjadi disini sampai keberadaan bom di gerbong ini terungkap?”

“Pertama keadaan masih seperti biasa, tenang tanpa kepanikan. Namun kira – kira 15 menit setelah keberangkatan, dari arah gerbong nomor lima berhamburan orang – orang dengan ekspresi yang sangat panik. Kami tanya mereka ‘ada apa’, dan mereka kemudian menjawab. Mereka bilang ada Bom dalam koper, di setiap gerbong dan di saat yang sama seseorang membuka koper itu yang memang berisi bom. Kami semua panik, tapi akhirnya keadaan bisa kembali seperti semula.”

Hampir sama kejadiannya dengan di gerbong nomor tujuh, apa mungkin di gerbong nomor lima juga terdapat radio speaker seperti di gerbongku?

“Di samping hal itu semua nyonya, apa ada hal aneh lagi?”

“Tunggu sebentar, bicara soal aneh. Dari sejak keberangkatan ada seorang gadis muda yang terus mondar – mandir di bagian belakang gerbong. Hampir 5 menit dia mondar – mandir, dan sepertinya dia bukan penumpang gerbong ini karena pada saat itu kursi sudah terisi penuh. Aku penasaran sehingga aku mendekatinya dan bertanya kepadanya, tapi ia menjawab tidak ada apa – apa. Kemudian ia pergi ke arah gerbong nomor lima. Ini hanya perkiraanku, kurasa ia sedang membuntuti seseorang. Sikapnya itu terlihat terlalu waspada.”

“Hmm, info ini sungguh menarik. Saya berharap hal itu ada kaitannya dengan kasus ini. Apa ada hal lain yang ingin anda sampaikan lagi nyonya?”

“Kurasa tidak, hanya itu yang aku tahu.”

“Yah, kalau begitu saya ucapkan terima kasih atas informasinya nyonya. Sekarang saya akan pergi ke gerbong nomor lima, permisi nyonya Misaki.”

“Ya, semoga kau berhasil nak.”

Penjelasan nyonya Misaki tadi semakin membuatku bertanya – tanya. Apakah di gerbong nomor lima juga terdapat radio speaker yang sama dengan di gerbong nomor tujuh? Dan apa gadis yang diceritakan nyonya Misaki itu ada hubungannya dengan kasus ini? Semua jawabannya ada di gerbong nomor lima ini. Aku pergi ke kursi barisan depan, dan menanyai salah seorang penumpang di samping kursinya.

Aku bertanya soal bom, orang yang menghentikan kepanikan dan gadis yang masuk gerbong ini setelah 5 menit keberangkatan. Orang yang kutanya ini sama sekali tidak mengetahui soal gadis tersebut, tapi ia kemudian menjelaskan bagaimana bom itu diketahui. Dan memang di gerbong ini juga ada sebuah pengumuman dari speaker yang memberitahukan aksi peneroran, saat orang ini menjelaskan hal tersebut ada seseorang yang berjalan melewatiku ke arah gerbong nomor 5. Orang yang sedang kutanya ini kemudian berkata.

“Untuk orang yang kau cari, yang menghentikan kepanikan disini, dia baru saja lewat. Tuh yang itu.” Tunjuknya ke arah wanita yang berjalan meninggalkan gerbong ini.

Aku hendak menyusulnya namun terlambat, sosoknya keburu menghilang. Urung niatku untuk menyusulnya, aku tinggal di gerbong ini untuk menyelidiki lebih lanjut. Aku mengambil radio yang berfungsi sebagai speaker si pelaku teror dan kemudian kembali ke gerbong nomor tujuh. Empat puluh lima menit telah berlalu, sekarang saatnya aku kembali dan mendiskusikan hasil penyelidikan bersama Musashi-san.

Saat melewati gerbong nomor enam, nyonya Misaki memanggilku.

“Hei, nak ingat tentang gadis yang kuceritakan kepadamu? Belum lama ini dia melewati gerbong ini ke arah gerbong nomor tujuh.”

Pernyataannya membuatku terkejut, bukankah yang barusan lewat menuju gerbong enam itu orang yang menghentikan kepanikan di gerbong lima? Jangan jangan mereka itu orang yang sama?

Aku melanjutkan langkahku ke gerbong tujuh, Musashi-san belum terlihat berada disini. Mungkin dia belum selesai menyelidiki di gerbong sana. Sambil menunggu aku terus memikirkan informasi yang kuperoleh, tentang orang yang menghentikan kepanikan di gerbong lima juga gadis yang mondar – mandir di gerbong enam. Tak dielakkan lagi, kedua sosok itu merupakan orang yang sama. Terbukti oleh pernyataan nyonya Misaki tadi, tapi yang masih belum kumengerti adalah mengapa gadis itu mondar – mandir di gerbong enam?

Lima menit berlalu, Musashi-san belum juga kembali ke gerbong ini. Aku merasa sedikit khawatir, oleh karena itu aku pergi menyusulnya ke gerbong delapan. Namun disana juga tidak ada tanda – tanda dari Musashi-san, aku pun pergi ke gerbong selanjutnya, gerbong sembilan.

Di bagian belakang gerbong aku lihat banyak orang berkerumun. Aku merasa ada hal yang tidak beres, aku pun segera mendekat ke kerumunan itu dan bertanya kepada salah seorang pria disana?

“Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu pasti, tapi katanya ada orang yang meninggal di toilet itu.”

Mendengar ‘ada orang yang meninggal’ aku langsung merangsek masuk melewati kerumunan dan melihat keadaan di toilet. Sesosok tubuh yang duduk di atas closet itu terbujur kaku. Awalnya aku menolak kebenaran ini, aku tak percaya hal seperti ini bisa terjadi. Segala emosi bercampur dalam benakku, sulit rasanya mengungkapkan ini semua dengan kata – kata. Semua itu terlukis oleh deraian air mata yang tak terasa telah membasahi pipiku. Korban ini berkelamin laki – laki, dia mengenakan jaket warna coklat. Tak diragukan lagi, ini adalah sosok yang kukenal. Sosok bijaksana yang baru kutemui dalam hidupku. Mayat ini adalah, Musashi-san!

To be continued…

Protected by Copyscape Web Plagiarism Finder

16 comments on “Shinkansen Tragedy (2)

  1. biasanya orang jepang kesulitan mengucapkan kata “alfa” menjadi “aruba” atau semacamnya, atau memang kisanak ingin menyesuaikan dengan pelafalan orang indonesia. terima kasih

    Like

  2. gomen ne kakak2.. ini belum ada yg ke-3 nya ya ?

    pertama kali liat cerita2 detektif di blog ini lgsng jatuh cinta haha ^^

    salam kenal..

    Like

  3. Udah baca ^^
    Tapi ko masih bersambung ya ? udah ada kelanjutannya ato emang baru segitu ?
    buntu nih masih bingung, padahal bacanya beberapa kali hehe..

    pasti😀

    Like

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s