Teka teki Detektif (25)


Buat isi waktu, gampang kok..

Empat tamu, Mrs. Red, Mr. Crimson, Lady Scarlet dan Mr. Sienna, diundang ke pesta di sebuah villa oleh Mr. Shaitana. Namun, di malam yang gelap itu, Mr. Shaitana ditemukan dalam keadaan mati di ruang baca villa-nya.  Karena tidak ada orang yang mengetahui pasti apa yang terjadi, rumor kemudian berkembang dengan cepat, karena diantara keempat tamu itu semuanya mempunyai motif untuk membunuh tuan rumah dan mereka membawa sesuatu yang juga bisa digunakan sebagai alat pembunuhan. Dari petunjuk – petunjuk di bawah bisakah kau identifikasi siapa pembunuhnya?
1. Orang yang ‘diduga’ membawa racun adalah seorang wanita.

2. Motif Mrs. Red ‘diduga’ masalah keuangan.

3. Motive orang yang membawa tali adalah cemburu.

4. Mr. Crimson ‘diduga’ membawa pistol namun motifnya bukan balas dendam.

5. Lady Scarlet terbukti membawa tali.

Orang yang membawa belati adalah pembunuh yang sebenarnya. Siapa dia? Dan apa motifnya?

Ralat


Ada satu kesalahan, fakta yang sangat mendukung untuk lanjutan cerita Shinkansen tragedy.. Jadi untuk itu saya re-post lagi ceritanya, untuk mengingatkan kembali jalan ceritanya yang juga sudah sedikit diperbaiki.. ^^

maaf jika penulis sedikit teledor.. 

gomenne.. :p

Shinkansen Tragedy (2)


Lanjutan dari Shinkansen Tragedy (1)

“Sudah kembali kau rupanya anak muda. Dan sepertinya tugas itu telah kau laksanakan dengan baik, terima kasih banyak.” kata Musashi-san kepadaku.

“Yah, seperti yang anda dengar di pengumuman tadi, Masinis akan membuat kereta ini terus berputar di jalur Yamanote sampai tuntutan pelaku terpenuhi. Kita bisa sedikit menarik nafas lega. Omong – omong Musashi-san, apakah anda telah menelepon walikota tentang masalah ini?”

“Ya, aku telah menelepon beliau 5 menit yang lalu. Awalnya walikota tidak mempercayai perkataanku, tapi akhirnya beliau mengerti akan situasi ini dan beliau berjanji akan segera mengirim sejumlah uang yang diinginkan pelaku ke alamat yang dituju tersebut. Beliau juga akan menelepon balik apabila uang tersebut telah diantarkan.”

“Memangnya alamat yang diberikan pelaku itu terletak dimana?”

“Alamatnya di Blok 4 No. 15 Kota Misato Prefektur Saitama.” Jawab Musashi-san

Bersamaan dengan itu ada seorang lelaki yang tengah berjalan melewati kami berdua, langkahnya terhenti dan ia menoleh kepada kami. Terlihat jelas dari raut mukanya yang pucat bahwa ia mengkhawatirkan sesuatu.

“Anda baik – baik saja tuan? Wajah anda pucat, bisa saya bantu?” Tanyaku kepadanya.

“Oh tidak, tidak apa – apa hanya sedikit terkejut. Tampangmu mirip seperti adik iparku. Aku sedang berselisih dengannya, kukira kau adalah dia. Maaf jika reaksiku ini mengganggumu.”

“Sama sekali tidak tuan.” Jawabku, sambil tersenyum simpul kepadanya.

Lelaki itu kemudian pergi. Dari penampilannya, umurnya kira – kira seumuran dengan Musashi-san namun sedikit lebih muda. Dan bila dibandingkan dengan penampilan Musashi-san, dia kelihatan tidak rapih. Jenggot dan kumisnya panjang karena mungkin jarang dicukur, rambutnya panjang namun disisir dengan rapi, pakaiannya tampak sedikit lusuh, dan dari cara jalannya ia terlihat sangat terburu – buru. Continue reading

Shinkansen Tragedy (1)


Hari ini aku terpaksa tinggal sendiri di apartemen karena Kenji, teman seapartemenku, pulang ke kampung halamannya di Hokkaido. Baru tadi malam ia berangkat ke Hokkaido sambil membawa kotak Diorama peninggalan kakeknya. Tak heran bagiku karena setelah Kenji memberitahukan ibunya soal kotak Diorama ini, ibunya menyuruhnya untuk segera pulang ke Hokkaido. Mungkin untuk segera mengurus batu – batu berharga dalam kotak itu, yah lumayan juga jumlahnya bila diuangkan, mungkin mencapai 10 juta yen. Jadi, tak heran ibu Kenji seakan tidak sabar untuk segera menjualnya.

Tinggal sendiri di apartemen terasa cukup berat bagiku, terutama membersihkan sisa – sisa makanan semalam. Tambah – tambah sisa ramen instan Kenji yang belum sempat ia bersihkan sebelum ia berangkat— berserakan di ruang santai juga di kamarnya. Haah, awas kau Kenji menambah pekerjaan orang saja.

Akhirnya apartemen sudah cukup rapih, sekarang saatnya bagiku untuk bersiap – siap pergi kuliah. Apartemen tempatku tinggal tidak terlalu jauh dari Universitasku, Universitas Showa, yang bisa ditempuh hanya selama 5 menit berjalan kaki. Setelah segalanya siap, aku bergegas keluar dari apartemen menuju ke jalanan. Dan seperti biasanya, jalanan sudah ramai dilalui oleh orang – orang dengan kepentingannya masing – masing. Ada yang berangkat ke kantor,  ke sekolah, ada ibu – ibu yang kelihatan akan belanja. Pokoknya jalanan telah dipenuhi oleh orang – orang dengan berbagai aktivitas.

Tak lama kemudian sampailah aku di kampusku, terlihat mahasiswa lain juga berdatangan. Suasana di kampus terasa agak sepi menurutku, apa karena aku datang terlalu pagi? Haah, masa bodoh mungkin yang lain masih dalam perjalanan kesini. Aku segera menuju ke ruangan kuliah jurusan Kedokteran, dan disana belum ada seorang pun yang datang. Ketika kakiku hendak melangkah ke dalam, ada seseorang yang menyapaku dari belakang.

“Hei, dari fakultas kedokteran?”

“Iya, aku mahasiswa kedokteran. Ada apa ya?” Jawabku

Ternyata yang menyapaku adalah seorang mahasiswi, dia berpenampilan cantik dan sopan. Tapi sayang aku tidak mengenalnya, mungkin dia dari fakultas lain.

“Bukankah sekarang jadwal para mahasiswa kedokteran untuk study banding ke kampus Shinagawa?”

Mendengar kalimat itu darinya aku merasa seperti sebatang pohon yang terkena sambaran kilat. Segera kubuka jadwal studiku, dan memang, sekarang adalah waktunya study banding ke kampus Shinagawa.

“Aah, iya aku lupa! Terimakasih telah mengingatkanku, kurasa aku masih bisa sampai disana tepat waktu bila segera pergi dari sini. Jadi, aku mohon diri sekarang”

Kataku, kepada mahasiswi itu sambil buru – buru meninggalkan ruangan yang belum sempat kumasuki ini. Kulihat dia tersenyum geli melihat sikapku yang terburu – buru. Sungguh pengalaman yang sangat memalukan. Haah sudahlah yang lalu biarlah berlalu, sekarang prioritas utama ialah mengejar kereta menuju shinagawa agar aku tidak ketinggalan study banding di kampus Shinagawa.

Sialnya, kereta yang langsung menuju Shinagawa sudah berangkat. Aku hampir putus asa waktu itu, tapi aku langsung mempunyai sebuah gagasan yang cukup nekat namun efektif dalam keadaan terdesak seperti ini. Ya, aku akan pergi ke Tokyo terlebih dahulu, lalu dengan kereta Shinkansen menuju ke Shinagawa. Mungkin akan terkesan lama, tapi sebenarnya hanya memakan waktu paling lama satu jam hingga sampai di Shinagawa.

Akhirnya aku tiba di stasiun Tokyo, aku langsung membeli tiket kereta shinkansen yang menuju ke Shinagawa yang akan berangkat 5 menit dari sekarang. Sambil menunggu keberangkatan, aku sekedar membeli koran untuk mengisi waktu. Salah satu berita di koran yang baru saja aku beli itu cukup menarik perhatianku.

“Uang hasil Perampokan Bank yang terjadi 4 hari yang lalu berhasil ditemukan oleh Kepolisian Tokyo. Uang hasil jarahan bernilai 100 juta yen tersebut ditemukan di sebuah gudang tua di daerah pinggiran Tokyo. Continue reading

Still on process


Shinkansen tragedy 3 sedang dalam proses! ^^

akhirnya nemu mood juga buat nerusin ceritanya, haha..  Di cerita selanjutnya muncul beberapa tokoh lagi, meski di part sebelumnya cuman nongol dikit.. tapi di shinkansen tragedy 3 akan lebih dibahas..

masih penasaran tentang kematian Musashi-san, juga teror bom di kereta itu? tunggu update-annya yaa teman teman.. 😀

 

Oh, iya..

Petualangan detektif Alfa di Jepang masih berlanjut loh, tema cerita berikutnya tentang trading card game yg udah populer di dunia.. tunggu terus ceritanya yaa.. ^^