The Diorama Box


” Lanjutan cerita karanganku yang pertama (the lab incident)

Mohon kritikan dan sarannyaūüėÄ “

Sudah sebulan aku menetap di Jepang, di daerah Yokohama, Prefektur Kanagawa. Aku tinggal di apartemen sederhana bersama kawanku dari Jepang, Kenji Furunai. Dia adalah orang yang baik, asik dan suka bercanda. Dia sering menghiburku dengan candaannya yang khas, yang seakan tidak pernah habis idenya untuk membuat guyonan – guyonan lucu.

Kenji dan aku kuliah di Universitas yang sama, bedanya aku kuliah disini sampai masa pertukaran pelajar habis sedangkan ia kuliah disini sampai lulus tentunya. Kebetulan dia juga mengambil jurusan yang sama denganku, yaitu kedokteran. Dia mengambil jurusan ini karena ia bercita – cita ingin menemukan obat penawar penyakit kanker otak yang telah merenggut nyawa kakeknya. Kenji sangat mengagumi kakeknya, yang merupakan seorang veteran Perang Dunia II. Sering aku minta Kenji untuk menceritakan kisah – kisah kakeknya ketika beliau di medan perang karena terus terang, aku sangat tertarik dalam hal yang berbau militer dan kepolisian.

Hari ini kami tidak mempunyai jadwal kuliah, jadi kami berdiam diri di apartemen kami sambil bermalas – malasan. Aku membaca novel sambil tiduran, sedangkan Kenji duduk di kursi sambil bermain game. Pada saat itu kami dikejutkan oleh ketukan di pintu apartemen kami, aku lantas bergegas membukakan pintu, dan di balik pintu berdiri seorang tukang pos yang membawa sebuah paket.

“Anda tuan Furunai? ada paket untuk anda dari Hokkaido”

“Bukan, saya temannya, sebentar saya panggil dulu yang bersangkutan ya”

Aku segera memanggil Kenji yang masih asik bermain game, setelah kuberi tahu ada paket dari Hokkaido dia langsung terperanjat dan segera menemui si tukang pos. Tak lama kemudian dia kembali, dibukanya paket yang bentuknya kotak dan besarnya kira – kira sebesar televisi 14 inch. Isinya ternyata sebuah peti kecil yang terbuat dari besi baja, kusuruh Kenji untuk membukanya dan ternyata isi Peti tersebut adalah Diorama yang menggambarkan sebuah kamp perang. Terlihat sejumlah miniatur tentara berbaris di depan kamp perang mereka.

Aku bertanya kepada Kenji, “Siapa pengirimnya?”

“Tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya hanya tertulis dari Hokkaido. Kukira dari ibuku, ternyata bukan.”

Yah, jelas saja Kenji berpikir demikian, Hokkaido adalah kampung halamannya. Aku pun memikirkan hal yang sama.

“Eh, itu apa yang terselip di bawah miniatur kamp tentara. Seperti sebuah surat, coba ambil.” Kataku kepada Kenji ketika aku menyadari keberadaan surat itu.

Kenji dan aku lalu membaca surat tersebut, isinya demikian :

“Mohon maaf yang sebesar – besarnya Kenji-san, aku adalah teman dari almarhum kakekmu. Sebelum kakekmu meninggal dia menitipkan Kotak Besi Diorama ini kepadaku. Selama ini aku yang menjaganya, tetapi kondisi kesehatanku semakin memburuk. Aku takut tak lama lagi aku akan meninggal, jadi sebaiknya kotak ini kuberikan padamu, cucu tersayangnya. Kakekmu bilang ada rahasia besar dibalik kotak ini, tapi dia tidak memberitahukannya kepadaku. Hanya sebuah tulisan aneh yang menurutku tidak nyambung yang ia tinggalkan bersama kotak ini, ini dia tulisannya

‘3,4,5 poseidon’

aku harap kau jaga baik – baik kotak tersebut. Sekali lagi aku minta maaf tidak memberitahukan keberadaan kotak ini lebih awal, semoga kau memaafkanku.”

Kenji termenung seperti orang bingung setelah membaca surat ini. Kelihatannya dia penasaran dengan rahasia kotak diorama ini, tapi dia tidak tahu harus mulai menyelidiki rahasia ini dari mana. Petunjuknya hanya beberapa kata yang kurang dipahami.

“Sudahlah, jangan sedih. Aku yakin kita pasti bisa membongkar rahasia kotak ini. Untuk itu, sobat, bolehkah aku melihat – lihat kotak diorama ini. Mungkin saja aku bisa mendapatkan beberapa petunjuk.” kataku kepada Kenji

“Yah kalau itu maumu, silahkan saja” ¬†jawabnya sambil menyerahkan kotak itu kepadaku.

Aku mulai mengamati kotak tersebut, kututup kembali kotak itu lalu kubuka lagi. Kuamati miniatur – miniatur tentara perang tersebut, dan jika dilihat lebih dekat miniatur – minatur tentara itu bukan sembarang miniatur tentara biasa. Diantaranya ada yang berpangkat kapten, jendral, sisanya tentara biasa. Perbedaan pangkat itu bisa dilihat dari medali yang menempel pada baju tentara tersebut. Aku terkagum – kagum akan hasil karya seni ini, desain baju tentaranya begitu detail dan pose – posenya yang seperti menggambarkan keadaan perang yang sebenarnya. Tapi ada yang menarik perhatianku dari diorama ini, yaitu barisan tentaranya yang terlihat tidak rapih sebagaimana barisan tentara militer dan justru malah seperti membentuk sebuah pola tertentu.

“Sepertinya isi kotak ini hanyalah sebuah cangkang yang mengandung isi sebenarnya yang isinya jauh lebih berharga.” celetuk diriku

“Apa maksudmu? Tahu darimana?” tanya Kenji dengan heran

“Kau lihat ada berapa jumlah tentaranya, ada 26 buah miniatur tentara! Kau tahu sesuatu yang berjumlah 26 buah? Alfabet! 26 buah miniatur berarti tiap miniatur merepresentasikan 26 alfabet. Jadi tiap miniatur – miniatur itu adalah alfabet – alfabet dari A-Z. Selanjutnya, lihat pula ukuran kotak ini. Ukurannya terhitung besar jika isinya hanya diorama perang ini saja.¬†Dan jika kita hubungkan ukuran kotak yang besar dengan jumlah miniatur yang berjumlah 26, kita dapat simpulkan bahwa sebenarnya diorama ini adalah sebuah brankas yang menyimpan sesuatu di dalamnya yang hanya bisa kita buka jika kita memasukan kombinasi password yang benar dengan miniatur sebagai kuncinya¬†“,

“Kau sudah tahu mana miniatur yang berarti huruf A, dan juga yang lainnya?” Tanya Kenji dengan semangat.

“Sayangnya aku belum sampai ke situ Kenji. Untuk mengetahui arti dari masing – masing miniatur, kita harus tahu dulu apa arti dari pola miniatur tersebut dan aku yakin pangkat miniatur tentara itu juga berpengaruh. Sebaiknya kita kesampingkan dulu masalah miniatur ini. Lebih baik kita baca kembali surat ini, dan kita coba pelajari kode yang ditinggalkan kakekmu. Kalau perkiraanku tidak salah arti dari kode itu adalah password yang harus kita isikan pada diorama ini ” Jawabku, sambil mengacungkan – ¬†acungkan surat tersebut.

Aku dan Kenji membaca kembali surat tersebut dan terhenti pada kode  itu. Selama 5 menit kami hanya terdiam memelototi surat itu.

“Apa kau mengerti?” tanyaku pada Kenji. Kenji hanya menggelengkan kepalanya tanpa bicara.

“Apa Kakekmu suka tentang hal yang berbau Yunani?”

“Aku kurang yakin akan hal itu, tapi waktu aku kecil kakek sering membacakan aku dongeng tentang Dewa – dewa Olympus. Kakek membacakannya dengan penuh semangat, mungkin dia memang suka dengan kebudayaan Yunani.” ¬†Jawab Kenji

“Hmmm.. Dan apa kakekmu jago dalam hal matematika?”

“Ya, kalau hal itu tidak diragukan lagi. Waktu aku SD malah kakek sering membantu aku mengerjakan PR Matematikaku, Ayahku juga bilang kalau kakek itu dulunya sangat pandai.”

“Kalau begitu, yakin sudah aku akan arti dari kode tersebut. Haha, kakekmu memang hebat Kenji!”,

“Memang apa artinya kode itu? Bagaimana kau menjelaskannya?”

“Kodenya itu kan ‘3,4,5 Poseidon’, kau tahu tidak angka 3,4,5 itu selain angka yang berurutan juga merupakan pasangan bilangan istimewa..”

“Phytagoras!” teriak Kenji.

“Yah, benar 3,4,5 itu bilangan phytagoras, dan rumus phytagoras itu diberlakukan pada segitiga. Nah hubungannya dengan Poseidon, kau pasti pernah mendengar cerita Odyseus yang ingin kembali ke kampung halamannya. Di cerita tersebut, kapal Odyseus hampir terbalik oleh ombak lautan, yang dikendalikan Poseidon yang ingin membalaskan dendam anaknya ‘cyclop’ yang dibunuh oleh Odyseus. Poseidon adalah dewa Olympus yang menguasai lautan, dan di tangannya lautan bisa menjadi tempat yang membawa bencana. Coba kau hubungkan segitiga dengan laut yang bisa menjadi tempat berbahaya di tangan Poseidon, apa yang terlintas di pikiranmu?”

“Mungkinkah itu, tempat paling berbahaya di lautan, Segitiga Bermuda?!”

“Betul sobatku, jadi arti dari kode itu adalah ‘Segitiga Bermuda’. Dan itu merupakan kunci untuk membuka Kotak Diorama menakjubkan ini, sekarang tugas kita tinggal mengartikan tiap miniatur tentara ini.”

Aku kembali mengamati posisi miniatur – miniatur ini dan pose pose yang ditujukannya. Untuk miniatur Tentara biasa posenya bermacam – macam tapi menunjukan satu hal yaitu bahwa mereka sedang berperang, untuk miniatur Kapten semuanya menunjukan gambaran bahwa mereka sedang mengomando para tentara, tapi untuk miniatur jendral posenya adalah yang paling aneh, hanya berdiri dengan sikap sempurna dan tidak menunjukan bahwa saat itu adalah perang. Untuk lebih mudah dalam menyelidiki aku kemudian membuat sketsa posisi miniatur – miniatur ini dalam buku noteku.

20 menit kemudian aku tertawa puas dan berkata, “Kenji, kakekmu adalah orang yang sangat hebat. Dia membuat kode dari miniatur ini dengan sangat teratur, sungguh puas rasanya aku bisa memecahkan kodenya.”

“Kalau begitu ayo cepat masukan passwordnya, supaya kita bisa lihat isinya!” Kenji rupanya tidak sabar untuk segera mengetahui isi dari diorama tersebut.

“Sebaiknya kau sabar sedikit Kenji, apa kau ingin melewatkan penjelasan tentang teka – teki miniatur ini?”

“Oh, maaf aku terlalu terobsesi dengan isinya. Hehe”

“Dasar kau ini, baiklah langsung saja ya. Coba kita perhatikan kembali miniatur ini, lihat ekspresi – ekspresi para tentara ini. ¬†Petunjuk utamanya yaitu dari ekspresi yang ditampilkan miniatur – miniatur ini, lihatlah para kapten yang berdiri sejajar. Ekspresi mereka menunjukan bahwa mereka sedang mengomando para tentara, tapi lihat para jendral. Ekspresi mereka seperti menunjukan mereka tidak berada dalam peperangan. Dari sini kita simpulkan bahwa para Kapten lah yang berkuasa disini, meskipun Jendral pangkatnya lebih tinggi tapi di Diorama ini ekspresi para Kapten lebih menunjukan bahwa mereka lebih berkuasa dibanding Jendral.

Pernah kau dengar istilah lain dari orang yang berkuasa atau memegang kendali dari suatu kelompok? Istilah itu adalah Primus Interpares, yah gampangnya lihat saja di film Transformer. Pemimpin grup Autobots namanya Optimus Prime kan? Prime, Primus, berarti orang yang memegang kontrol atau memimpin dan para Kapten lah Primus disini.

Selanjutnya, ternyata kakekmu tidak bisa melepas matematika dalam kehidupannya. Primus, Prime, dalam matematika juga ada istilah itu kan, sebuah bilangan prima (prime number). Nah karena prime berarti bilangan prima, maka diorama para Kapten menunjukan bilangan prima dari 1 – 26 yang mana bilangan – bilangannya adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23. Tapi kita tidak tahu, pengurutannya dimulai darimana?

Nah disini mulai muncul ciri kemiliteran kakekmu, sekarang lihat kembali miniatur – miniatur ini. Kau pasti tahu aturan baris berbaris, salah satunya yaitu pemimpin barisan berada di paling kanan. Itu merupakan sebuah petunjuk temanku, bahwa kita harus menomori kapten dengan bilangan prima secara berurut mulai dari kapten yang terletak paling kanan.

Sekarang lihat, Kapten berdiri dekat tentara yang pangkatnya lebih rendah darinya. Artinya tentara itu mewakili bilangan yang lebih kecil angkanya dibanding bilangan prima yang dimiliki kapten. Sedangkan untuk Jendral yang pangkatnya lebih tinggi dari Kapten, maka bilangan yang diwakilinya juga lebih besar dari bilangan prima Kapten yang berdiri di dekatnya.

Dan yang terakhir sangat mudah, yaitu merubah angka ini menjadi alfabet sesuai dengan urutan alfabet itu.

Nah sekarang semuanya sudah jelas, silahkan masukkan Password tadi. Cukup dengan menekan miniatur itu sesuai password menurutku. Silahkan Kenji, sekarang giliranmu.”

Kenji pun langsung menekan miniatur – miniatur itu, berurutan sesuai password yang kita dapat tadi S-E-G-I-T-I-G-A-B-E-R-M-U-D-A . Dan “trek”, terdengar sebuah bunyi sesuatu terbuka kemudian permukaan diorama itu menyembul keluar. Kenji menariknya perlahan sehingga sedikit demi sedikit terbuka sebuah lubang kedua dari Kotak Diorama ini. Kenji mengeluarkannya satu persatu, pertama yang keluar hanya beberapa lembar foto kakeknya ketika masih aktif di militer, namun ternyata di bagian paling dasar tersimpan sesuatu yang sangat bernilai harganya. Terdapat 7 batu emerald, 5 berlian, dan beberapa serpihan batu indah lainnya. Kenji langsung melompat riang karena gembira, ia langsung meraih handphonenya dan menelepon ibunya atas kabar gembira ini.

Aku hanya duduk tersenyum melihat Kenji yang berbahagia. Dalam benakku aku merasa kagum akan kakek Kenji, mungkin batu batu berharga itu didapatkannya dari sebuah tambang berlian yang tak sengaja dia temukan ketika ia bertugas. Kemudian dia simpan batu ini di Kotak Diorama penuh teka teki agar tidak ada yang mengambilnya, dan dia memberikan petunjuk melalui sebuah kode agar suatu saat keturunannya bisa memanfaatkan batu mulia tersebut.

Original story created by : Irfan Nurhadi Tri Septiady

Protected by Copyscape Web Plagiarism Finder

3 comments on “The Diorama Box

  1. Pingback: Fire Emblem : Sacred Stone | Black or White?

  2. Pingback: Finally | Black or White?

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s