The First Case


Here i have my first original detective story..

Please give it a comment.. Enjoy reading guys..😀

The Lab Incident

Di siang yang panas itu Aku dan Dina, juga dua kelompok praktek lainnya yaitu Hani-Erik dan Oliver-Olivia sedang melakukan praktek bedah pada hewan. Tak heran, kami semua kuliah di bidang kedokteran, jadi sebelum nanti membedah manusia kami harus latihan membedah hewan terlebih dahulu. Kami melakukan praktek di Lab yang sudah sangat usang, kotor dan terletak di pojokan kampus. Rencananya kampus akan meruntuhkannya bulan depan.

Saat itu praktek telah selesai, dosen pembimbing menyuruh kami untuk membersihkan alat-alat praktek dan menguburkan kelinci yang menjadi sukarelawan praktek kali ini. Dina sedang merasa kurang enak badan pada saat itu, aku pun terpaksa membersihkan alat-alat praktek sendiri bersama kelompok Hani-Erik sehingga di lab hanya tersisa Dina dan Oliver-Olivia. Aku sedikit heran kepada Oliver-Olivia karena mereka tidak langsung membersihkan alat-alat dan malah duduk santai membicarakan hal yang tidak kumengerti, mereka orang yang cukup aneh pikirku, karena terasa menjauhi pergaulan seakan sudah termakan dunia mereka sendiri. Tapi aku tak banyak pikir, hal terpenting sekarang ialah membersihkan alat, mengubur kelinci lalu segera pulang ke kost-an untuk beristirahat.

Letak tempat untuk membersihkan peralatan praktek dari lab cukup jauh, terhalang oleh kantin yang berada di antara keduanya. 20 menit berlalu, peralatan praktek telah bersih dan kelinci telah aku kuburkan. Agak lama mungkin, ini karena tekstur tanah untuk mengubur kelinci cukup keras. Aku tak sadar dua orang yang juga membersihkan peralatan praktek, Hani dan Erik, telah menghilang dari tempat ini entah sejak kapan. Aku pikir mereka telah kembali ke lab terlebih dahulu, tapi di lab hanya ada Dina seorang diri, dua sosok orang aneh itu juga telah menghilang. Kuperhatikan dari pintu lab Dina terlihat aneh, tidak bergerak sama sekali dari kursinya, posisi tubuhnya tengkulap di atas meja seperti orang ketiduran. Begitu aku dekati dia, darah mengalir deras dari perutnya, sebuah pisau tergeletak di bawah meja praktek. Hati dan pikiranku terasa kacau, kaget bercampur sedih melihat temanku sudah tak bernyawa dan di saat itu Erik memasuki lab disusul Hani. Hani yang menyadari kondisi Dina lantas berteriak kaget, Erik pun menunjukan ekspresi yang sama namun tidak berteriak seperti Hani. Mereka berdua hendak mendekati jasad Dina, tetapi aku mencegah mereka mendekatinya, kuperintahkan mereka menunggu di luar Lab karena aku curiga salah satu dari merekalah yang telah membunuh Dina. Aku pun lantas menyuruh Hani untuk menelefon ambulans dan polisi.

Beberapa menit kemudian polisi datang dan langsung melakukan penyelidikan di sekitar TKP. Warga kampus menjadi gempar karena peristiwa ini, konser yang diselenggarakan fakultas seni pun terpaksa dihentikan. Aku tidak memikirkan hal itu, yang kupikirkan ialah siapa yang telah membunuh temanku Dina. Aku mencurigai Erik, Hani, serta si aneh Oliver dan Olivia yang sejak peristiwa ini hilang entah kemana. Polisi yang telah menyelidiki tempat kejadian kemudian menginterogasi aku, Hani, dan Erik. Aku mencatat semua yang mereka katakan dalam interogasi baik Erik maupun Hani.

denah

Polisi telah selesai menginterogasi, dan mereka menemukan sidik jari Erik dari pisau yang merupakan senjata pembunuhan. Erik berdalih bahwa sidik jarinya itu tertempel ketika ia membersihkan peralatan praktek, tapi polisi kurang mempercayai hal itu dan akan membawa Erik ke kantor untuk investigasi lebih lanjut. Aku merasa sedih karena teman dekatku telah dibunuh, dia telah mengajari ku banyak hal terutama dalam hal penguasaan bahasa jepang, aku sangat terbantu olehnya mengingat bulan depan aku harus berangkat ke Jepang untuk pertukaran pelajar. Tapi aku harus menahan rasa sedihku dan mencari tahu siapa yang telah membunuh temanku ini. Aku berfikir sejenak, memikirkan pernyataan dari teman temanku ini. Erik mengatakan bahwa ia membersihkan peralatan praktek tak kurang dari 5 menit, kemudian ia pergi menonton Konser di Fakultas Seni. Hani mengatakan bahwa ia pergi ke kantin setelah membersihkan peralatan, di sana ia melihat Oliver dan Olivia keluar dari pintu lab.

Aku bertanya lagi kepada Hani, “Apa kau yakin kau melihat Oliver dan Olivia keluar dari pintu lab pada saat kau di kantin?”

“ya, aku sangat yakin, Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Jawab Hani.

Pada saat itu Oliver dan Olivia datang dari arah fakultas seni, polisi kemudian menginterogasi mereka. Aku pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk menanyai mereka. “Kenapa kalian meninggalkan lab?” tanyaku pada mereka.

“Kami hendak membelikan Dina sebotol kayu putih, dia bilang dia sedikit kurang enak badan”, “jadi kami berniat membelikannya kayu putih” jawab Oliver dan Olivia bersahutan.

Perkataan kedua orang itu kurang aku percayai karena kulihat di keseharian, mereka tidak terlalu akrab dengan Dina. Dan mungkin bisa dibilang mereka agak sedikit iri kepada Dina yang pintar dan serba bisa itu. Tapi kenapa mereka mendadak seperti perhatian kepada Dina, bahkan mau membelikannya minyak kayu putih.

Aku lantas kembali memikirkan pernyataan pernyataan mereka sambil mengamati tempat terbunuhnya temanku ini. Aku berjalan mengelilingi isi lab sambil mencari bukti untuk penyelidikan terbunuhnya Dina ini. Saat aku bergerak melewati meja dimana Dina terbunuh, seketika aku melihat ada sebuah tulisan yang tertutupi tangan Dina, aku menggeser tangannya untuk melihat tulisan itu menjadi lebih jelas. Tulisan itu ditulis dengan darah hingga akhirnya aku sadar, itu adalah “dying message” dari Dina sebelum ia menghabiskan nafas terakhirnya. Tertulis huruf O2 …??!!!!! Aku mengamati baik – baik tulisan itu, sembari berusaha menerjemahkannya. Akhirnya aku pun sadar, arti dari dying message ini adalah orang itu, orang yang telah membunuh Dina.

Saat ini Erik belum sempat dibawa ke kantor polisi karena kedatangan Oliver dan Olivia mengundang perhatian polisi untuk menginterogasi mereka. Erik terlihat sedih, tak heran Erik merasa sedih, Dina merupakan mantan pacarnya. Ia sangat mencintai Dina, meski Dina telah memutuskannya. Dia hanya duduk termenung di luar lab, terlihat Hani mendekatinya untuk menenangkannya. Hani memang sangat peduli pada Erik, bahkan kudengar desas desus bahwa Hani jatuh cinta pada Erik, gosip atau bukan dari sikapnya saja bisa diketahui perasaannya terhadap Erik itu.

Aku tahu siapa pelakunya, dan juga motifnya tapi aku kekurangan bukti, dying message saja tidak cukup untuk membuatnya mengaku. Oleh karena itu aku pergi ke ruang fakultas seni untuk mencari barang kali ada bukti terkait kasus ini. Ruang dari fakultas seni yang terdekat dengan laboratorium adalah gudang yang menjadi tempat penyimpanan alat – alat musik dan cat untuk melukis, letaknya berada tegak lurus dengan pintu laboratorium. Aku berkeliling di dalam gudang mencari kata – kata untuk memojokan si pelaku. Langkahku tehenti ketika aku melihat kaleng – kaleng cat tergeletak di lantai, isinya berceceran di sekeliling kaleng. Aku teringat akan sesuatu, tetapi masih samar – samar, oleh karena itu aku kembali ke laboratorium.

Disana masih ada Hani, Olivia dan Oliver juga para polisi yang tengah menggiring Erik ke mobil Polisi untuk dibawa ke kantor. Aku memperhatikan kondisi tiap orang waktu itu, lalu aku tersenyum simpul sambil berkata,

“Kau senang kan, dirimu tak dikawal seperti Erik, hei pelaku pembunuhan”. Suasana langsung berubah kaku,

“Apa maksudmu? Bukankah sudah pasti sidik jari Erik tertempel pada pisau itu?” tanya Oliver memecah kekakuan.

“Ya, memang benar sidik jarinya ada pada pisau itu, tetapi itu hanya akal akalan pelaku untuk membodohi kita. Pelaku yang sebenarnya menggunakan sarung tangan, mengambil pisau yang dipakai Erik pada saat praktek dan menggunakannya untuk menusuk Dina.” Jawabku.

“Lalu siapa pembunuhnya?” tanya pak polisi merendahkanku.

“Pelakunya adalah, Hani!” jawabku.

Semua orang tampak terkejut oleh pernyataanku, tak terkecuali juga Hani.

“Hah? Aku? Jangan mengada-ada pada saat kejadian aku berada di kantin. Tidak mungkin aku yang melakukannya” dalihnya.

“Pada saat itu apa ada orang yang melihat kau di kantin? Ada yang bisa membuktikan keberadaanmu pada waktu itu?” tanyaku padanya.

“Tidak, tapi aku benar benar berada di kantin” dalihnya lagi.

“Sepertinya kau keras kepala, aku punya bukti bahwa kau tidak berada di kantin waktu itu. Tadi kau mengatakan bahwa pada saat di kantin kau melihat Oliver dan Olivia keluar dari laboratorium. Tapi hal itu sangat tidak mungkin, karena letak kantin berada di samping lab, sehingga jika kita berada di dalamnya maka kita tidak akan bisa melihat pintu lab. Jadi sebenarnya kau berada dimana saat itu?” kataku.

Hani hanya terdiam, mulutnya membisu, aku menghela nafas sejenak.

“Baiklah jika kau tidak bisa menjawab, aku sudah tahu jawabannya. Waktu itu kau berada di gudang fakultas seni yang tempatnya tegak lurus dari pintu lab, kau sedang menunggu Oliver dan Olivia keluar dari lab sehingga kau dapat dengan leluasa membunuh Dina. Tapi sayang pada saat itu, kau terlalu takut kalau ketahuan sehingga dengan tidak sengaja menendang kaleng cat dan nodanya tertempel pada sepatu mu, kau mencucinya tapi tidak meghilangkan semua nodanya dan meninggalkan bekas basah dan sedikit cat pada ujung sepatumu” jelasku. Perhatian semua orang kemudian tertuju pada sepatu Hani, dan memang sepatunya agak basah dan memiliki noda cat.

“Tapi, di pisau itu tidak ada sidik jariku bukan?” kata Hani.

“Bukankah dari awal aku sudah berkata, itu trik yang mudah. Kau menggunakan pisau yang digunakan Erik saat praktek smbil mengenakan sarung tangan. Dan itu merupakan hal yang mudah mengingat kau dan Erik satu kelompok dalam praktek tadi siang. Satu hal lagi yang menunjukan kau pelakunya, Dina sendiri yang memberitahukannya padaku.” Jelasku.

“Apa maksudmu? Kau bisa berbicara dengan orang mati?” tanya olivia keheranan.

“Bukan begitu, tapi Dina telah memberitahuku lewat pesan terakhir darinya yang tertulis di atas meja.

Pesannya yaitu O2 ditulis dengan darah. Kita sebagai mahasiswa kedokteran pasti tahu hubungan oksigen dengan darah, yaitu hemoglobin yang mengikat oksigen dalam darah.

Hemoglobin biasa kita singkat menjadi Hb, H merupakan huruf ke 8 dan b merupakan huruf ke 2. Dina adalah seorang yang sangat menguasai bahasa luar, terutama jepang.

Dalam kanji jepang angka 8 berbentuk seperti huruf katakana ‘ha’ dan angka 2 berbentuk seperti huruf katakana ‘ni’.


Satu

Dua

Tiga

Empat

Lima

Enam

Tujuh

Delapan

Sembilan

Sepuluh



Jadi pesan dari Dina tersebut menunjukan bahwa, kau, Hani adalah orang yang telah membunuh Dina.” Jelasku dengan rinci.

“Tapi apa motif Hani untuk membunuh Dina, bukankah mereka tidak begitu akrab juga tidak bermusuhan?” tanya Erik padaku.

“Motifnya ialah, karena Hani mencintaimu tapi kau tak menyadarinya karena kau terlalu mencintai Dina.” Jawabku.

“Mustahil, Hani itu sahabatku dia tidak mungkin melakukannya. itu tidak benar kan Hani?” Tanya Erik.

“Tidak, hal itu benar rik. Aku memang mencintaimu, dan aku membunuh si Dina itu agar aku bisa memilikimu. Dulu aku adalah sahabat Dina, dia tahu aku menyukaimu dari dulu tetapi malah merebutmu dariku. Aku tidak akan pernah melupakan hal itu” jawab Hani.

“Itu tidak benar Han, tahukah kau kenapa Dina memutuskan Erik? Karena Dina tahu kau sangat mencintai Erik, ia merelakannya untukmu. Dina sendiri yang memberitahukannya padaku.” Kataku.

“Bohong! Bohong!” teriak Hani.

“Itu benar Han, Dina juga pernah berkata seandainya ia tahu perasaanmu pada Erik ia tidak akan mengambilnya darimu, ia sangat menyesal. Maaf Han, seandainya aku memberitahukan hal ini dari awal mungkin keadaan tidak akan seperti ini.” Kataku. Mendengar hal itu, Hani menangis menyesali perbuatannya sambil digiring ke mobil polisi untuk diamankan.

Sebulan telah berlalu dari peristiwa yang tak ingin aku ingat itu. Waktuku untuk pergi ke Jepang dalam program pertukaran pelajar telah tiba, aku menunggu keberangkatan pesawat sambil membaca novel favoritku ‘Sherlock Holmes’, pikiranku terasa tenang jika membaca novel ini. Akhirnya tiba waktu pesawatku untuk take off, tempat tujuanku Jepang, disana aku mendapat banyak pengalaman dalam kasus – kasus kejahatan, tapi hal itu hanya bisa kuceritakan di lain kisah.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Finder

11 comments on “The First Case

  1. Pingback: The Diorama Box « Black or White?

  2. Pingback: Finally | Black or White?

  3. Pingback: The Lab Incident | DETECTIVES ID

Your Opinion

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s